SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Seksi Operasi dan Pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cibungur DPUPR Provinsi Banten, setelah turun tangan menangani tumpukan sampah kayu di Sungai Ciseukeut, Kabupaten Pandeglang, dengan menurunkan 1 unit alat berat yang dioperasikan selama 3 hari.
Kini, pihaknya kembali menurunkan tim ke lokasi tersebut untuk menangani abrasi sungai yang mengancam dua rumah warga setempat, yang berada di bibir sungai yang nyaris ambrol.
Penanganan antisipasi ambrolnya rumah warga itu, yaitu dipasangnya bronjong disepanjang abrasi sungai. Dengan harapan, dua rumah warga selamat dari musibah yang mengancam.
Pembina Boedak Suang Rescue (BSR) Ade Mulyana menyatakan, pihaknya mendapat laporan dari warga adanya pemasangan bronjong disepanjang abrasi Sungai Ciseukeut itu.
“Ya, waktu pengerukan sampah kayu di Sungai Ciseukeut, beberapa waktu lalu. Ditemukan ada dua rumah warga, terancam ambrol akibat abrasi sungai,” kata Ade, Selasa (19/5/2026).
Saat itu pula katanya, sudah direncanakan akan dibangun Tembok Penahan Tanah (TPT) berupa Bronjong, agar rumah tersebut tidak tergerus abrasi aliran Sungai Ciseukeut.
“Alhamdulillah, sekarang mulai dikerjakan pembangunan bronjong nya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk masyarakat sekitar,” tambahnya.
Ditambahkannya, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarang, atau ke sungai. Bahkan, warga juga sudah berkomitmen untuk bersama-sama menjaga lingkungannya. Terlebih, aliran Sungai Ciseukeut merupakan hilir dari aliran sungai dari Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang.
Sebetulnya diketahui, Kasi Operasi dan Pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cibungur DPUPR Provinsi Banten, Aris Munandar mengatakan, kedepan akan melakukan penanganan rumah warga yang tergerus aliran sungai. Dengan memasang Bronjong, disepanjang aliran sungai tersebut.
“Ada 2 rumah warga yang tergerus aliran Sungai Ciseukeut, kami rencanakan akan memasang Bronjong. Doakan, semoga segera terealisasi,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, dengan diangkatnya tumpukan sampah kayu tersebut, dimanfaatkan sebagian oleh masyarakat sekitar untuk kayu bakar atau kebutuhan memasak di rumahnya masing – masing.
Masyarakat merasa lega, dan tidak khawatir ada luapan sampah kayu yang mengancam ke permukiman. Karena, sudah diangkat dan ditangani pihak berwenang.
Diketahui pula, pasca diterjang banjir pada 9 April 2026 lalu, terjadi penumpukan sampah kayu, bambu dan jenis sampah lainnya, di Sungai Ciseukeut, tepatnya di Kampung Bojong Kacang, RT 003 RW 006, Desa Mekarsari, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, sejak Jumat (17/4/2026) sampai sekarang, Minggu (19/4/2026).
Akibat aliran sungai tersebut tertutup tumpukan material sampah, akhirnya aliran air ke lahan persawahan warga sekitar terhambat, alias tersendat.
Informasi yang dihimpun, tumpukan sampah kayu diperkirakan mencapai 50 Meter dan menutupi Sungai Ciseukeut sekitar 70 Meter persegi.
Warga sekitar menduga, tumpakan sampah tersebut berasal dari hulu Sungai Cimandah, dan beberapa anak Sungai Cimandahan yang bermuara di Sungai Ciseukeut.
Seorang warga, Nurdin menyatakan, sampah kayu dan bahan material itu merupakan kiriman dari hulu Sungai Cimandahan, yang mandeg dan tak terbawa arus lagi saat tiba di Sungai Ciseukeut.
Ia dan beberapa warga sekitar berharap, tumpukan sampah tersebut segera diangkut atau disingkirkan menggunakan alat berat.
“Bilamana tidak cepat di tangani,;akan berdampak ke beberapa perkampungan (9 kampung), dan ke jalan nasional. Jadi nanti kalau hujan lagi, airnya pasti meluap lagi dan sampah tersebut terbawa,” kata Nurdin, Minggu (19/4/2026). (mardiana)



















