SATELITNEWS.COM, SERANG – Sejumlah aktivis dan lintas komunitas, menyerukan kebangkitan kebudayaan di wilayah Serang dengan membuka partisipasi dan ruang diskusi. Karena hingga saat ini, Serang Utara tidak pernah selesai dari isu pencemaran Sungai Ciujung yang dilakukan oleh korporasi hingga permasalahan sampah.
Seorang Aktivis Serang Utara, Rasyid Rido mengatakan, Serang Utara bukan hanya sekedar wilayah rawan konflik, dan bukan hanya sebuah lanscafe kehidupan masyarakat yang kritis. Namun dibalik itu, ada potensi yang perlu dibicarakan secara kolektif.
Salah satunya, terkait dengan Sungai Ciujung yang sampai saat ini tidak pernah selesai soal isu pencemaran dan tidak pernah selesai juga, bagaimana negara hadir untuk menjawab kegelisan kolektif dari warga bantaran sungai.
“Contohnya pencemaran Sungai Ciujung di Jongjing, itu kan sudah sangat memprihatinkan dari sisi kualitas, baku mutu dan kelas air,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Oleh karena itu kata Rido, melalui skema seruan kebudayaan Serang Utara pihaknya ingin berbicara dalam bentuk tindakan konkrit, yang melibatkan unsur masyarakat, komunitas, aktivis lingkungan dan budaya.
“Jadi pertemuan beberapa elemen berbasis komunitas, ini kita anggap jadi salah satu metode pelestarian dan pengembangan nilai nilai lokal,” tuturnya.
Rido juga berharap, kepada Pemda dari tataran Pemerintah Provinsi dan Kabupaten harus belajar lagi tentang Ciujung. Karena Ciujung bukan sebuah benda mati, yang hanya menjadi waduk penampungan air baku, tapi disana ada kehidupan, ada adat istiadat, tradisi, culture dan ada khasanah serta episentrum keislaman
“Jadi Ciujung bukan hanya pusat pembuangan limbah industri, tapi lebih dari itu harus diselamatkan secara ekologi, dia harus dipulihkan secara identitas, Indonesia harus melihat Ciujung sebagai lanscape kehidupan endemik yang dulu pernah menjadi induk peradaban lahir dan berkembangnya kehidupan metropolis dan kosmopolis di Banten,” tuturnya.
Selanjutnya terkait dengan sampah, Rido mengakui, jika bicara Ciujung tidak lepas dari sampah industri dan sampah rumah tangga.
“Saya kira sampah juga di Utara belum begitu efektif dipandang dari sudut kebijakan, bahkan diselesaikan. Mungkin warganya juga harus punya kesadaran,” tukasnya.
Camat Tirtayasa, Munapri membenarkan, terkait dengan kondisi Sungai Cijung baik Ciujung Lama atau Ciujung Baru saat ini masih banyak terjadi pencemaran, khususnya maraknya pembuangan sampah sembarangan.
Oleh karena itu dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat mendongkrak anak anak muda, khususnya di Tirtayasa dan umumnya di Pontirta supaya solusi kedepan sungai Ciujung lama dan Ciujung baru bisa dikendalikan.
“Mudahan mudahan desa desa membentuk bank sampah. Selama ini kita sudah sering menggelar gotong royong,” pungkasnya.
Sementara, Wakil Bupati Serang, M. Najib Hamas mengatakan, dengan kekayaan kebudayaan Banten diharapkan menjadi inspirasi dan motivasi untuk generasi muda agar tetap semangat melestarikan kebudayaan.
Kebudayaan tersebut menurutnya tidak hanya pentas seni dan lain sebagainya, melainkan lebih dari itu bagaimana budaya budaya positif yang dicontohkan oleh leluhur atau pendahulu menjadi bagian penguatan kehidupan bernegara, bermasyarakat.
“Pak camat dan pak lurah menyampaikan budaya gotong royong saja menjadi bagian kekayaan kehidupan kita, belum lagi nanti budaya tentang pembuangan sampah, makanya tadi saya berpesan sama sama merawat dan kelola sampah kita dari asal rumah kita mulai dengan membentuk bank sampah tingkat desa,” ungkapnya.
Diakui Najib, perhatian tentang menghidupkan dan melestarikan kebudayaan ini memang perlu ditingkatkan. Termasuk budaya menjaga lingkungan, sehingga tidak ada pencemaran sungai seperti Ciujung.
“Kewenangan sungai memang ada di pusat tapi merawatnya harus bersama, Ciujung harus jadi sumber kehidupan bukan menjadi sumber malapetaka,” imbuhnya. (sidik)