SATELITNEWS.COM, LEBAK—Ancaman musim kemarau mulai dirasakan sektor pertanian di Kabupaten Lebak. Hingga pertengahan Juli 2026, sedikitnya 372 hektare areal persawahan di tujuh kecamatan mengalami kekeringan akibat menurunnya pasokan air. Meski belum menimbulkan gagal panen, kondisi tersebut menjadi peringatan dini terhadap ketahanan pangan daerah, mengingat hampir separuh sawah di Lebak masih mengandalkan air hujan.
Berdasarkan catatan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak kekeringan mulai melanda lahan pertanian di sejumlah wilayah. Berdasarkan pendataan pada 1 hingga 15 Juli 2026, total luas sawah yang terdampak mencapai 372 hektare dan tersebar di Kecamatan Kalanganyar, Rangkasbitung, Cipanas, Cibadak, Muncang, Warunggunung, serta Maja.
Kalanganyar menjadi daerah dengan luasan terdampak paling besar, yakni 227 hektare. Selanjutnya Kecamatan Cipanas dan Rangkasbitung masing-masing 49 hektare, Cibadak 21 hektare, Muncang 17 hektare, Maja lima hektare, serta Warunggunung empat hektare.
Kepala Bidang Produksi Pertanian Distan Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan berkurangnya debit air mulai terlihat di sejumlah saluran irigasi tersier maupun sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kebutuhan air sawah. “Sudah mulai terdampak. Penurunan debit air terlihat dari mulai berkurangnya pasokan air di saluran tersier dan sumber mata air di sejumlah kecamatan. Namun kondisi ini belum merata di seluruh wilayah,” kata Dodi, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar lahan pertanian di Kabupaten Lebak masih mengandalkan curah hujan. Berdasarkan data baku sawah tahun 2025, luas sawah di Kabupaten Lebak mencapai 52.033,1 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 21.088,2 hektare atau 40,5 persen merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki jaringan irigasi teknis.
Artinya, hampir separuh lahan pertanian di Kabupaten Lebak memiliki tingkat kerentanan tinggi ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya. Penurunan curah hujan dalam waktu singkat saja dapat berdampak pada ketersediaan air bagi tanaman padi. “Dengan demikian, sawah tadah hujan mencakup sekitar 40,5 persen dari total luas sawah di Kabupaten Lebak. Artinya, hampir separuh lahan sawah di Lebak sangat rentan terhadap kemarau panjang,” ujarnya.
Baca Juga: Tampung Bantuan Air Bersih, Warga Sukaresmi Pandeglang Kumpulkan Ember dan Galon
Meski begitu, Distan memastikan hingga saat ini belum ditemukan lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen total. Sebagian besar areal yang terdampak masih berada pada kategori rusak ringan hingga sedang sehingga peluang penyelamatan tanaman masih terbuka.
“Dari data yang ada, belum ada laporan puso (gagal total). Sebagian besar sawah yang terdampak masih dalam kategori rusak ringan dan sedang, sehingga masih ada peluang untuk diselamatkan,” jelasnya. Ia merinci, di Kecamatan Rangkasbitung terdapat 22 hektare sawah dengan tingkat kerusakan ringan, 17 hektare kategori sedang, dan 10 hektare mengalami kerusakan berat. Sementara di Kecamatan Kalanganyar, sebanyak 97 hektare masuk kategori ringan dan 130 hektare kategori sedang.
Sebagai langkah antisipasi, Distan telah menyalurkan 74 unit pompa air ke 28 kecamatan, disertai pendampingan teknis bagi petani dan pemantauan rutin di lapangan. Namun, luasnya area yang terdampak membuat bantuan tersebut belum mampu menjangkau seluruh lahan yang membutuhkan. “Upaya penyelamatan sudah dilakukan melalui pompanisasi, tetapi dari total 372 hektare yang terdampak, baru sebagian kecil yang mendapat intervensi pompa. Ini menjadi tantangan besar mengingat luas dampaknya cukup signifikan,” katanya.
Dodi menilai penanganan jangka pendek perlu diperkuat dengan penambahan pompa air, pembangunan embung, serta percepatan distribusi bantuan kepada kelompok tani agar dampak kekeringan tidak semakin meluas saat puncak musim kemarau tiba. Ia juga mengingatkan bahwa risiko kekeringan berpotensi meningkat apabila musim kemarau berlangsung hingga melewati September 2026. Dengan luas sawah tadah hujan yang mencapai lebih dari 21 ribu hektare, ancaman meluasnya lahan terdampak akan semakin besar apabila tidak diimbangi tambahan pasokan air maupun hujan.
Karena itu, petani diminta segera berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) apabila mulai menemukan gejala kekeringan di areal persawahan. Selain itu, petani diimbau menggunakan air secara hemat, mengoperasikan pompa secara bergiliran, memilih varietas padi tahan kering, serta menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi ketersediaan air. “Kepada para petani segera melapor ke petugas PPL setempat jika melihat gejala kekeringan. Optimalkan penggunaan air secara hemat dan bergilir, manfaatkan pompa air secara kolektif jika tersedia, gunakan varietas tahan kering, dan jangan memaksakan tanam jika debit air sangat minim,” pungkasnya.(mulyana)




























