SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Jumlah penduduk usia produktif Indonesia mencapai 201,06 juta jiwa pada Semester I 2026, atau 69,3 persen dari total populasi 290,1 juta jiwa. Komposisi tersebut mencerminkan fase bonus demografi yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi apabila diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Teguh Setyabudi mengatakan dominasi kelompok usia 15–64 tahun menjadi peluang penting bagi percepatan pertumbuhan ekonomi.
“Dari 290,1 juta jiwa penduduk Indonesia, 69,30 persen adalah usia produktif. Inilah yang disebut bonus demografi,” kata Teguh dalam Rapat Koordinasi Nasional Dukcapil 2026 yang berlangsung 3-4 Agustus 20206, dikutip dari siaran YouTube Dirjen Dukcapil, Selasa (4/8/2026).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju kemakmuran. Potensi tersebut hanya akan menjadi keuntungan apabila diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Bonus demografi akan membawa berkah apabila kita bisa mengimbanginya dengan pendidikan, pelatihan kerja, dan pelayanan kesehatan yang memadai,” ujarnya.
Struktur usia produktif Indonesia didominasi kelompok usia muda. Penduduk berusia 15–19 tahun menjadi kelompok terbesar dengan 23,79 juta jiwa, disusul usia 20–24 tahun sebanyak 23,44 juta jiwa dan 25–29 tahun sebanyak 23 juta jiwa.
Baca Juga: Elkan Baggot: Kami Adalah Raja Asia Tenggara
Kelompok usia 30–34 tahun mencapai 21,73 juta jiwa, 35–39 tahun 20,71 juta jiwa, 40–44 tahun 21,81 juta jiwa, 45–49 tahun 20,39 juta jiwa, 50–54 tahun 18,24 juta jiwa, 55–59 tahun 15,54 juta jiwa, dan 60–64 tahun 12,41 juta jiwa.
Dominasi kelompok usia muda menunjukkan Indonesia masih memiliki pasokan tenaga kerja yang besar dalam satu hingga dua dekade mendatang. Momentum ini diharapkan dapat menjadi fondasi menuju target Indonesia Emas 2045.
Di tengah peluang tersebut, pertumbuhan penduduk masih cukup tinggi. Sejak Semester II 2024, jumlah penduduk Indonesia bertambah rata-rata sekitar 1,7 juta jiwa setiap semester.
Pada Semester I 2026, jumlah penduduk laki-laki mencapai 146,4 juta jiwa, sedangkan perempuan 143,7 juta jiwa. Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar adalah Jawa Barat (52,7 juta jiwa), Jawa Timur (42,2 juta jiwa).
Dinamika kependudukan juga tercermin dari perubahan status perkawinan. Pada Semester I 2026, sebanyak 132.842.414 orang atau 45,79 persen penduduk Indonesia berstatus belum kawin, sedangkan 137.201.081 orang berstatus sudah kawin, meningkat 193.374 orang dibandingkan Semester II 2025.
Jumlah penduduk berstatus cerai hidup mencapai 5.753.548 orang, naik 162.225 orang dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, penduduk berstatus cerai mati tercatat 14.328.029 orang, bertambah 325.048 orang dibandingkan Semester II 2025.
Baca Juga: Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman: Malam Luar Biasa!
Perubahan pola migrasi domestik terlihat jelas di kawasan metropolitan Jabodetabek. Kabupaten Bekasi menjadi daerah tujuan perpindahan penduduk terbesar pada Semester I 2026 dengan 33.907 orang, diikuti Kabupaten Bogor (33.795 orang), Kabupaten Tangerang (24.732 orang), Kota Bekasi (19.261 orang), dan Jakarta Timur (18.622 orang).
Pada tingkat provinsi, Jawa Barat menjadi tujuan perpindahan terbesar dengan 262.581 orang, disusul Jawa Timur (131.839 orang), Jawa Tengah (120.629 orang), Sumatera Utara (95.528 orang), dan Sulawesi Selatan (73.682 orang). Berbeda dengan tren sebelumnya, DKI Jakarta tidak lagi masuk lima besar provinsi tujuan perpindahan penduduk.
“DKI bukan lagi menjadi tujuan utama orang pindah. Yang menjadi tujuan adalah aglomerasinya: Bekasi, Bogor, dan Tangerang,” kata Teguh.
Tingginya biaya hunian di Jakarta diduga mendorong banyak pekerja memilih tinggal di kota-kota sekitar ibu kota. Pada tingkat provinsi, DKI Jakarta justru menjadi salah satu daerah asal perpindahan penduduk dengan 97.161 orang, berada di bawah Jawa Barat (228.372 orang), Jawa Timur (131.834 orang), Jawa Tengah (131.634 orang), dan Sumatera Utara (113.341 orang).
Sementara itu, pada tingkat kabupaten/kota, Jakarta Timur menjadi daerah asal perpindahan terbanyak dengan 27.119 orang, disusul Jakarta Barat (21.294 orang), Kabupaten Bogor (20.516 orang), Kota Bekasi (20.306 orang), dan Jakarta Selatan (20.212 orang).
Tingginya perpindahan ke kawasan penyangga menunjukkan banyak masyarakat masih ingin beraktivitas di Jakarta, tetapi memilih tinggal di daerah sekitar.
Basis data kependudukan nasional juga memotret sejumlah fakta unik. Penduduk tertua yang tercatat berada di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dengan usia 118 tahun, sementara penduduk tertua kedua berada di Kabupaten Pamekasan dengan usia 117 tahun.
Selain itu, terdapat 129.439 penduduk Indonesia yang lahir pada 29 Februari, sehingga secara kalender mereka hanya merayakan ulang tahun setiap empat tahun sekali. Berdasarkan tanggal lahir, Cancer menjadi zodiak dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, yakni 38,78 juta jiwa, diikuti Taurus (26,49 juta jiwa), Gemini (26,08 juta jiwa), Capricorn (25,92 juta jiwa), dan Leo (24,95 juta jiwa). (rmg/xan)



















