SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Peringatan kekeringan di Kota Tangerang mulai berujung pada persoalan air bersih di permukiman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang kini mendistribusikan sekitar 5.000 liter air bersih setiap hari ke wilayah yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
Salah satu wilayah yang telah meminta bantuan adalah satu RW di Kelurahan Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang. BPBD mulai menyalurkan air bersih sejak Jumat lalu setelah menerima laporan dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar mengatakan, kondisi sumber air di wilayah tersebut mulai terpengaruh kemarau. Berdasarkan pengecekan di lapangan, sebagian warga masih dapat memperoleh air melalui pengeboran dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Namun, tidak semua warga memiliki kondisi sumber air yang sama.
“Saat ini ada satu RW di wilayah Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang meminta bantuan air bersih. Dan kita sudah support mulai dari hari Jumat kemarin,” kata Mahdiar, Senin (21/9/2026). Menurutnya, perbedaan kedalaman sumber air membuat sebagian warga mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Untuk kondisi air yang masih bisa keluar itu kalau kita ngebor di atas 20 meter. Ada beberapa yang masih bisa keluar airnya dengan kedalaman seperti itu. Tapi karena yang lainnya mungkin di bawah itu, sehingga agak sulit,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan, BPBD melakukan dropping sekitar 5.000 liter air setiap hari. Distribusi dikoordinasikan dengan Palang Merah Indonesia (PMI) agar bantuan dapat diberikan secara bergantian dan tidak terjadi penumpukan distribusi. “Kemarin seperti hari Jumat yaitu tangki dari PMI. Hari Sabtu-nya tangki dari kita,” kata Mahdiar.
Baca Juga: Sudah 20 Kecamatan di Kabupaten Serang Terdampak Kekeringan
BPBD menerima laporan kebutuhan air bersih baik secara langsung dari masyarakat maupun melalui koordinasi dengan unsur terkait. Setiap laporan kemudian dibahas bersama untuk menentukan langkah penanganan di lapangan. “Kita punya grup khusus, kita diskusi di sana dan kita sama-sama turun ke lapangan. Karena kita juga mencoba mengatur supaya tidak ada penumpukan pada saat dropping,” ujarnya.
Persoalan air bersih tersebut muncul ketika sejumlah wilayah Kota Tangerang masih berada dalam status kewaspadaan kekeringan meteorologis. Berdasarkan informasi BMKG Wilayah II untuk periode Dasarian II September 2026, atau 11-20 September, tingkat kewaspadaan di sejumlah kecamatan berada pada kategori berbeda.
Kecamatan Batuceper, Cipondoh, dan Karang Tengah masuk kategori Siaga. Adapun Kecamatan Benda dan Tangerang telah berada pada kategori Awas. Kondisi itu menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau. BPBD juga terus memantau perkembangan sumber air di wilayah yang berpotensi terdampak.
Mahdiar mengatakan kondisi kekeringan di Kota Tangerang relatif sama dengan sejumlah daerah lain. Hujan yang mulai turun di Bogor dan Tangerang Selatan menjadi salah satu perkembangan yang dipantau karena berpotensi membantu mengisi kembali sumber air. “Beberapa hari yang lalu, Bogor dan Tangsel sudah mulai hujan. Minimal kita agak tenang karena peredarannya mulai terisi kembali,” katanya.
Meski demikian, BPBD belum menghentikan langkah antisipasi. Kecamatan Pinang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah warga Kunciran Jaya mulai meminta bantuan air bersih. “Kalau menurut BMKG, yang paling agak rawan itu di antara Benda sama Batuceper. Cuma Pinang itu kondisional. Tapi kemarin yang sudah mulai muncul itu dari Kecamatan Pinang di Kunciran Jaya,” ujar Mahdiar. BPBD memastikan pemantauan dan koordinasi tetap dilakukan selama musim kemarau. Distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kondisi serta laporan kebutuhan masyarakat di lapangan. (made)
















