SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Como bakal bertandang ke Torino dalam matchday 9 Serie A 2026/2027 di Stadio Olimpico Grande Torino, Turin, Rabu (28/10/2026), pukul 02.45 WIB. Jika mampu mengalahkan Il Toro, I Lariani punya peluang masuk 3 besar klasemen menggeser AS Roma dan AC Milan.
Como saat ini duduk di peringkat 5 klasemen Liga Italia dengan 17 poin dari delapan laga (5 menang, 2 imbang, 1 kalah). Anak asuh Cesc Fabregas punya selisih gol +7.
Dari segi tren, I Lariani tengah positif. Como baru saja menang 2-0 atas Sassuolo di kandang, menyusul kemenangan 4-1 atas Manchester United di Liga Champions dan 1-3 di markas Fiorentina. Sebelumnya Nico Paz dan kolega menahan imbang Roma 0-0.
Di sisi lain, Torino, sang tuan rumah, berada di peringkat 8 klasemen Liga Italia dengan 13 poin (4 menang, 1 imbang, 3 kalah). Il Toro sedang menikmati tren tiga kemenangan beruntun di Serie A. Masing-masing yakni 3-2 vs Monza, 3-0 di markas Parma, dan 2-1 vs Udinese.
Bagi Torino, tren positif di bawah pelatih Ignazio Abate mesti dilanjutkan. Namun, Como di bawah Cesc Fabregas tampil lebih konsisten dan memiliki rekor head-to-head dominan belakangan ini.
Toro alias Torino menatap laga ini dengan kepala tegak. Di bawah asuhan pelatih anyar Ignazio Abate, armada Granata bangkit dari start lambat lalu mendulang 13 poin dari enam laga pemungkas.
Baca Juga: Prancis vs Belgia, Buru Kemenangan Kandang
Meski begitu, Abate dan anak asuhnya wajib waspada. Bayangan kelam pertemuan musim lalu tentu masih membekas di benak pendukung setia Torino. Como sempat mempermalukan Il Toro dengan skor telak 1-5 di Turin, lalu menang 6-0 pada pertemuan berikutnya.
Torino diprediksi bakal bermain pragmatis dengan fondasi pada disiplin blok pertahanan rapat serta transisi cepat. Sejak awal musim, Abate terbiasa merapatkan lini belakang untuk meredam aliran bola lawan sebelum melepas serangan balik kilat lewat efektivitas sayap dan para penyerangnya.
Dalam laporan La Gazzetta dello Sport, Abate mengaku mulai memantapkan penggunaan empat bek dan menerapkan formasi 4-4-2 saat menghadapi Udinese. Perubahan tersebut membuka lebih banyak ruang bagi gelandang untuk menyerang sekaligus mendukung duet penyerang.
Meski demikian, Abate tidak menganggap satu formasi sebagai pilihan mutlak. Ia menekankan pentingnya menemukan keseimbangan antara penguasaan bola dan efektivitas serangan. “Kami memiliki lima penyerang dan delapan gelandang. Saya harus menemukan cara untuk memainkan mereka,” ujarnya dalam laporan yang sama.
Di sisi lain, Cesc Fabregas dikenal menerapkan pendekatan sepak bola berbasis penguasaan bola dengan mobilitas tinggi. Fabregas menuntut anak asuhnya mendikte tempo permainan melalui kombinasi operan pendek di lini tengah untuk mencari celah di pertahanan lawan. Como adalah tim dengan ball possession tertinggi kedua di Serie A dengan 60,2 persen, di bawah Inter (62,9 persen).
Cairnya taktik Fabregas juga terlihat melalui rotasi skuad dan upayanya mengeksploitasi ruang kosong di half-space. Como bakal mengandalkan ketajaman Anastasios Douvikas sebagai ujung tombak serta pergerakan Nico Paz, Martin Baturina, dan Lucas da Cunha atau Jayden Addai di belakangnya.
Baca Juga: AC Milan Telan Kekalahan di Kandang
Efektivitas Torino dan kemampuan Como mengendalikan tempo permainan bisa menjadi faktor penentu laga. Ketajaman kedua tim dalam memanfaatkan peluang di kotak penalti juga berpotensi menentukan hasil akhir. Torino akan jadi antitesis Como, karena mereka bisa mencetak 13 gol hanya dari rata-rata 10,6 tembakan per laga. (dm)

















