SATELITNEWS.ID, KARANG TENGAH—Masa pandemi Covid-19 sampai saat ini belum usai. Hal ini pun berimbas pada perekonomian masyarakat yang semakin terpuruk. Berbagai industri ikut terkena dampaknya. Namun demikian, hal ini pun tak membuat sejumlah wirausahawan di Kota Tangerang menyerah begitu saja.
Mereka tetap bertahan dan melawan keterpurukan ekonomi imbas dari Covid-19. Seperti yang dilakukan, oleh salah satu perajin asal Kampung Bulak Santri, Kelurahan Pondok Pucung RT 002 / 005 bernama Muhammad Sholihin.
Sholihin mengubah barang – barang yang dianggap sampah yakni batok kelapa dan bambu menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi. Sembilan bulan sudah dia menjalani pekerjaan sampinganya ini membuat kerajinan tangan.
Dia mengaku terinspirasi dari seseorang tatkala membuat kerajinan unik berbahan dasar bambu dan batok kelapa. Berbagai barang, mulai dari cangklong, asbak dan bangku. Kemudian dia pun mencoba mempraktikkannya di rumah. “Awalnya saya melihat orang yang memakai cangklong dari batok kelapa dari situ niat saya untuk mencoba membuatnya,” ujarnya Sholihin kepada Satelit News (18/11).
Tak mudah memang. Kendati dia Sholihin terus berusaha. Karena memang untuk menciptakan bambu dan batok kelapa menjadi barang yang dapat dimanfaatkan membutuhkan keahlian khusus.
Hari demi hari dia lewati dengan terus belajar sampai tangannya lihai. Alhasil diapun kini dapat menjual barang buatannya dan menjadikan sumber pendapatan. “Ya susah tapi kan saya penasaran, harus bisa ini ya sampai bisa saya jual. Alhamdulilah,” kata dia.
Baca Juga: Sinopsis Film Distant, Penyelamatan Berbahaya di sebuah Planet Asing
Disamping itu, Sholihin sebenarnya merupakan seorang petugaa keamanan di salah satu rumah makan di Kota Tangerang. Selain, bertujuan untuk menambah pundi-pundinya, pria kelahiran 1985 ini juga gemar. “Bukan semata-mata untuk nyari duit tapi saya juga suka buat kerajinan ini,” kata dia.
Selama menekuni ini, Sholihin mengaku telah banyak menciptakan berbagai model kerajinan tangan. “Saya membuat tempat air minum, cangklong, sepedah, asbak, semua saya jual dari sembilan bulan yang lalu,”ungkapnya.
Harganya pun variatif, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu. Tergantung jenis dan model kerajinannya. Dalam pengerjaan kerajinan tangan berbahan bambu dan batok kelapa biasanya waktu yang di butuhkan tergantung tingkat kesulitan dari pesanan yang diminta konsumen.
“Saya biasa mengerjakan satu unit mulai dari dua jam sampai dengan satu hari biasanya yang paling sulit seperti pembuatan miniatur sepedah saya makan waktu satu hari,”jelasnya. “Saya juga sudah menjual hasil kerajinan tangan ini yang paling jauh itu Kota Padang eban unit, saya juga mengisi beberapa toko untuk menitipkan hasil karya saya,”tegasnya. (irfan/made)
























