SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Rencana membuka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di Provinsi Banten terus dimatangkan. Pemerintah daerah memilih sikap ekstra hati-hati sebelum memberlakukan kebijakan tersebut. Gubernur Banten Wahidin Halim memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melakukan survei kesehatan kesiapan KBM tatap muka. Sedangkan Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menegaskan keselamatan para guru dan siswa adalah hal utama.
Wahidin Halim mengungkapkan Dindikbud sedang melakukan uji sampling terkait penyebaran virus corona di beberapa sekolah, baik di kota maupun di daerah pedesaan. Caranya dengan melakukan tes usap serta rapid test.
Jika ditemukan klaster sekolah maka akan dilakukan tracing dan tracking terhadap para siswa di sekolah tersebut. Jika tidak ditemukan ada kasus positif Covid-19 maka sekolah dianggap aman serta dapat membuka kelas tatap muka.
“Tatap muka masih kita desain, kemarin kita minta kepala dinas pendidikan ambil sampling. Kita ingin lihat tren maupun indikator dari masing-masing daerah. Yang kita swab test berapa, yang rapid berapa. Ini penting ketika nanti sekolah tatap muka mungkin Januari, kita akan lihat ada enggak pengaruhnya. Ada enggak yang terpapar karena sekolah kita buka tapi dengan penuh kehati-hatian,” kata Wahidin Halim kepada wartawan, Rabu (25/11).
Setelah survei kesehatan selesai dilakukan maka hasil tersebut akan dibahas dengan Tim Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Hasil pertimbangan gugus tugas itu selanjutnya disampaikan kepada publik.
Catatan dari Satgas juga bisa saja berupa aturan berapa jumlah siswa dalam satu kelas termasuk syarat persetujuan dari orang tua. Tatap muka, diputuskan harus berdasarkan pertimbangan matang agar tidak ada klaster sekolah.
Baca Juga: Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Mulai Sosialisasikan E-Ijazah SD
“Ini langkah yang baru kita lakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menjabarkan Dinas Pendidikan sedang mengkaji sejumlah mekanisme jelang berlangsungnya pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19. Setelah mekanisme terbentuk, maka akan ditawarkan kepada komite sekolah dan orangtua siswa. Arief menjelaskan KBM tatap muka bukan menjadi sebuah keharusan bagi siswa mengingat faktor kesehatan dan keselamatan menjadi fokus utama Pemkot Tangerang terlebih di tengah peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi.
“Tidak ada keterpaksaan bagi orangtua yang mau anaknya sekolah tatap muka, jadi tidak wajib tatap muka dan bisa memilih. Jika ada yang sakit lebih baik tetap di rumah untuk mencegah penularan. Karena kita tidak ingin ada klaster baru dan justru membahayakan anak – anak dan guru di sekolah,” ungkap Arief usai kegiatan istigotsah Peringatan HUT PGRI Ke-75 dan Hari Guru Nasional Tahun 2020 di ruang Al Amanah, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Rabu (25/11).
Sementara itu Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyatakan telah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 mendatang. Sejumlah aturan pelaksanaanya juga telah dibentuk sejak lama.
“Di Tangsel secara umum sudah siap semua. Ya kan selama ini kami sudah persiapkan. Yang jelas tahun depan, tepatnya semester genap pada Januari 2021,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Taryono saat ditemui di Balai Kota Tangsel, Jalan Maruga, Ciputat, Rabu (25/11).
Dia menegaskan bahwa hal itu telah sesuai dengan Surat Keputusan Besama (SKB) empat Menteri, antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri, yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk menentukan izin terkait pembelajaran tatap muka di masing-masing daerahnya. Namun pembelajaran tatap muka ini harus dijalankan dengan sejumlah aturan yang dirangkai dengan sedemikian rupa guna mencegah adanya penyebaran COVID-19.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Deklarasi SMPB 2026/2027 Berintegritas
“Nanti maksimal anak yang hadir itu adalah sepertiganya, dua pertiga lainnya tetap belajar di rumah. Contoh misalnya satu kelas ada 30 orang, nanti akan dibagi menjadi kelompok a, b, dan c. Hari Senin dan Selasa yang masuk kelompok a, nanti b dan c belajar di rumah. Lalu nanti bergantian seterusnya,” jelasnya.
Sedangkan untuk materi pembelajarannya, pihaknya akan menggunakan kurikulum darurat. “Kurikukum darurat itu adalah kurikulum yang disesuaikan dalam artian KD atau Kompetensi dasar, materinya itu yang esensial aja,” imbuhnya.
Selain dibagi kelompok, para siswa yang nantinya masuk secara tatap muka akan dibatasi eaktu belajarnya. Mereka hanya diberi waktu selama 2 x 60 menit untuk belajar. Dengan demikian, istirahat sekolah hingga ekstrakulikuler sudah ditiadakan lagi.
Dalam teknisnya nanti, pihaknya memiliki tiga hal yang menjadi kewaspadaannya dalam pembelajaran tatap muka tersebut. Pertama, apakah di rumahnya ada paparan COVID-19? “Kalau ada, siswa tidak boleh masuk. Kedua, perjalanan dari rumah ke sekolah seperti apa? Disarankan dianjurkan dan didorong agar orang tua mengantar, jangan menggunakan kendaraan umum,” katanya.
Namun jika hal itu tidak dapat dihindari, maka harus ada standar protokol lain, yakni setiap siswa wajib membawa seragam lain untuk diganti saat di sekolah.
Ketiga, ketika sudah ada di sekolah orang tua tidak boleh berkerumun. Hanya mengantar, lalu harus langsung pulang. Anaknya begitu sampai pun langsung masuk kelas.
“Jadi dites suhu dulu, kemudian cuci tangan, kemudian masuk kelas, enggak ada istirahat enggak ada ekstrakulikuler. Dua jam belajar selesai, langsung pulang,” tandasnya. (jarkasih/made/bnn/gatot)
























