SATELITNEWS.ID, RANGKASBITUNG–Dari ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pasar Rangkasbitung, hanya 25 orang saja yang berhasil didata untuk divaksin. Hal tersebut, akhirnya menjadi sorotan para anggota DPRD Lebak. Mereka beranggapan, sosialisasi kepada peserta dinilai lemah.
Ketua Komisi III DPRD Lebak, Yayan Ridwan menyatakan, sedikitnya pedagang yang mau divaksin karena lemahnya sosialisasi yang dilakukan petugas atau tim terkait. “Lemah, sangat lemah. Saya harap bisa lebih massif menyosialisasikan kepada masyarakat,” kata Yayan, Senin (8/3).
Menurutnya, sosialisasi pentingnya vaksinasi dalam memutus penyebaran Covid-19, bukan hanya menjadi tugas Dinkes saja, melainkan semua kalangan. “Disperindag juga jangan sekedar mendata. Tetapi sampaikan juga kepentingan vaksinasi ini, untuk kesehatan seluruh masyarakat. Luruskan informasi-informasi hoax (bohong), yang justru membuat takut masyarakat,” pinta Yayan.
Yayan mengaku, selama 30 menit masa observasi pasca penyuntikkan vaksin, tidak ada gejala yang dirasakan.
“Alhamdulillah, tidak ada gejala apapun. Karena sebelumnya kita diperiksa dulu, untuk mengetahui apakah punya penyakit bawaan atau tidak,” ujarnya.
Disperindag Kabupaten Lebak telah melakukan pendataan, para pedagang di kawasan Pasar Rangkasbitung yang akan menjalani vaksinasi Covid-19. Sayangnya dari tiga kali proses pendataan yang dilakukan Disperindag, hanya 52 orang yang bersedia divaksin dari hampir dua ribuan pedagang yang ada.
Baca Juga: Harga Daging Melonjak Jelang Ramadan di Lebak, Ayam Rp 40 Ribu dan Kerbau Rp180 Ribu
“Tadinya hanya 9 orang pedagang yang bersedia divaksin. Setelah dilakukan pendataan lagi, Alhamdulillah, bertambah menjadi 52 orang yang siap divaksin,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Lebak, Dedi Setiawan.
Menurut Dedi, sulit memaksa para pedagang agar mau menjalani vaksinasi. Hal itu pernah dialami, saat pedagang diminta untuk menjalani tes swab, sebagai upaya skrining Covid-19. Ia berharap, pedagang sangat menyadari betapa pentingnya vaksinasi untuk mencegah penularan Covid-19.
Apalagi kata Dedi, pedagang yang setiap hari berjualan di pasar memang menjadi kelompok orang yang rentan terpapar, karena aktivitasnya yang banyak berinteraksi dengan banyak orang. “Ya mungkin karena informasi-informasi mengenai vaksin, dan tidak sedikit juga beredar informasi hoax yang itu menambah ketakutan pedagang. Sehingga, tidak mau divaksin,” ungkap Dedi. (mulyana/mardiana)
























