SATELITNEWS.ID, CURUG—Tak seperti sekolah lainnya, SMP Negeri 2 Curug Kabupaten Tangerang menjadi sekolah adiwiyata dengan keinginan sendiri. Mereka mengajukan diri untuk mengikuti program adiwiyata sejak tahun 2016 hingga tahun 2021 ini.
Sebagian sekolah di Kabupaten Tangerang mengikuti program adiwiyata atas dorongan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan. Namun berbeda halnya dengan SMPN “Dacu”, sapaan SMPN 2 Curug.
SMPN 2 Curug yang berada di Jalan Diklat Pemda Kecamatan Curug itu mendapatkan penghargaan adiwiyata tingkat Kabupaten Tangerang pada tahun 2016. Itu diperoleh setelah mereka secara aktif mendaftarkan diri menjadi peserta adiwiyata ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang. Setahun berikutnya pada tahun 2017, mereka mendapatkan adiwiyata tingkat provinsi.
Setelah itu jeda selama satu tahun karena terkendala perbaikan bangunan sekolah. Akhirnya di tahun 2019 kembali meraih tingkat nasional. Dan di tahun 2021 ini sedang proses menuju adiwiyata mandiri.
Semua sekolah yang mengikuti program adiwiyata menuju tingkat mandiri harus melakukan pembinaan kepada sekolah-sekolah sekitar kabupaten Tangerang yang belum mengikuti program tersebut. SMP 2 Curug pun demikian. Mereka telah membina empat sekolah untuk mendapatkan adiwiyata, Dua diantaranya SMPN 3 Curug dan SMPN 1 Kemiri.
Dengan luas 7.500 lahan meter persegi, sekolah ini memiliki hampir kurang lebih 2.000 tanaman mulai dari tanaman hias hingga pangan serta tanaman hidroponik. Fasilitas yang terdapat di sini juga sudah cukup lengkap seperti terdapat alat penampungan air hujan dan resapan biopori sejumlah 1.000. Ciri khas dari sekolah ini ialah philo brekele yang terdapat di vertikal garden.
“Semoga di akhir tahun ini kita dapat penghargaan adiwiyata mandiri,” ujar Ketua pelaksana adiwiyata sekaligus bidang kesiswaan SMPN 2 Curug Purwaningsih, kemarin.
SMPN 2 Curug tak hanya berprestasi di bidang adiwiyata. Mereka juga pernah melaksanakan program sistem penjaminan mutu internal (SPMI) selama dua tahun, sanitasi sekolah tingkat nasional dan menjadi tempat penampungan sampah elektronik yang nantinya akan dikumpulkan menjadi satu di AEON Mall Serpong.
Purwaningsih menambahkan ada kendala yang dialami sekolahnya untuk menuju adiwiyata mandiri. Selama pandemi, kata dia, siswa jarang ke sekolah. Para pelajar itu pun mulai lupa terhadap program adiwiyata.
Usaha menjaga agar tanaman tetap menghijau dilakukan oleh para guru yang berjumlah 43 orang. Hasilnya memuaskan. Lingkungan sekolah terlihat asri, sejuk dengan tanaman yang rindang dari awal masuk hingga sampai halaman dan belakang setiap kelas.
Sekretaris pelaksana adiwiyata SMPN 2 Curug Dini Suryati Febriana berharap sekolah tetap memperhatikan lingkungan hidup di masa mendatang. Dia juga berkeinginan agar adiwiyata memiliki dampak terhadap prilaku siswa secara berkelanjutan.
“Peduli lingkungan tidak hanya di sekolah tetapi juga dilakukan di lingkungan sekitar rumah,”tandasnya. (mg3/gatot)