SATELITNEWS.ID, JAKARTA—Hasil penelitian Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif, dan Kemitraan Masyarakat (Yappika-ActionAid) selama enam bulan memperlihatkan fakta memprihatinkan. Sebanyak 36 persen SD di enam kota/kabupaten yang menjadi obyek penelitian tidak memiliki toilet yang layak.
Penelitian itu berlangsung di Kabupaten Kupang dan Sumba Barat di Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Pandeglang dan Serang di Banten, Kabupaten Bogor di Jawa Barat dan Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat. Direktur Eksekutif Yappika-ActionAid Fransisca Fitri menjelaskan hampir 250 ribu atau satu dari lima ruang kelas SD Negeri di Indonesia dalam kondisi rusak, rawan roboh, lembab, dan berdebu. Kondisi tersebut menempatkan satu dari lima anak SD setiap hari terancam bahaya belajar di ruang kelas yang rusak.
Data yang diolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan bahwa setidaknya ada 150 ribu SD berada di kawasan rawan bencana. Sebanyak 36 persen SD Negeri di Indonesia juga tercatat tidak punya toilet yang layak.
“Dengan dukungan penuh para mitra kerja kami di daerah, Uni Eropa serta dukungan korporasi dan dana publik, 5.362 anak-anak di 92 sekolah dampingan sudah merasakan fasilitas pendidikan yang lebih baik dan bisa belajar dengan nyaman di kelas. Namun begitu, perjuangan masih panjang karena masih ada ribuan sekolah dengan kondisi tidak layak,” kata Fransisca.
Yappika-ActionAid pun menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan publik mengenai pendidikan inklusif. Kegiatan yang dilaksanakan adalah diskusi publik secara daring, pameran virtual dan talkshow TV yang bertujuan untuk menginformasikan capaian kerja-kerja advokasi Yappika-ActionAid bersama mitra-mitra di berbagai daerah.
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai 24 April 2021 untuk pameran virtual, dilanjutkan dengan diskusi publik secara daring pada tanggal 1 dan 2 Mei 2021 melalui saluran Zoom.
Pameran virtual sebagai pembuka rangkaian kegiatan akan menampilkan foto-foto kondisi sekolah di enam wilayah kerja Yappika-ActionAid. Mencakup Kabupaten Kupang dan Sumba Barat di Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Pandeglang dan Serang di Banten, Kabupaten Bogor di Jawa Barat, dan Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat. Pameran foto akan memotret kondisi sekolah sebelum pendampingan pelaksanaan program dan pascapendampingan program berjalan, serta keterlibatan aktif anggota komunitas sekolah. Pameran virtual akan berlangsung hingga 1 November 2021.
Selain itu, rangkaian kegiatan itu juga ditujukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat umum agar turut peduli dan secara nyata membantu mewujudkan pendidikan inklusif melalui berbagai kegiatan penggalangan dana. Salah satu kegiatan yang telah berlangsung adalah event virtual ride bertajuk Ride 4 Change. Masyarakat dapat memberikan dukungan nyata untuk membantu dengan bersepeda. Ride 4 Change sendiri telah dibuka pendaftarannya hingga 30 Mei 2021. (jpnn/gatot)