SATELITNEWS.ID, TELUKNAGA—Wajah SMP Negeri 3 Teluknaga Kabupaten Tangerang berubah total setelah mengikuti program adiwiyata sejak tahun 2020 lalu. Sekolah yang dulunya dikenal gersang kini berubah “menghijau.”
Sekolah yang berada di Jalan Raya Salembaran desa Kampung Melayu Timur Kecamatan Teluknaga itu sekarang memiliki banyak pepohonan. Yang paling banyak adalah tanaman sirih gading. Tanaman hias ini melekat di pohon-pohon besar seperti pohon mangga yang ada di halaman sekolah. Tak hanya itu, sirih gading juga terlihat di dalam ruang kelas.
Kepala SMP Negeri 3 Teluknaga Eti Sumiyati mengatakan sekolah yang dipimpinnya mengajukan diri untuk mengikuti program adiwiyata pada tahun 2020 lalu. SMPN 3 Teluknaga, klaim Eti, sudah berhasil menyandang predikat sekolah adiwiyata tingkat Kabupaten Tangerang meskipun pengumumannya baru disampaikan secara lisan.
Eti mengaku sengaja mendaftar sebagai sekolah adiwiyata karena ingin mengajak warga sekolah peduli dan memiliki budaya mencintai lingkungan hidup di sekolah. Dia ingin membangun karakter warga sekolah karena masih banyak yang belum sadar akan pentingnya peduli lingkungan.
Selain itu, Eti juga ingin melanjutkan program yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Yakni program kurangi sampah sekolah kita atau kurasaki dan sekolah sehat.
“Kami mengikuti program adiwiyata karena berkaitan dengan program yang sudah dijalankan seperti kurasaki dan sekolah sehat. Tujuannya agar program sebelumnya tidak terbengkalai,“ujar Eti.
Eti yang menjadi kepala SMPN 3 Teluknaga sejak tahun 2017 itu menjelaskan penerapan program adiwiyata pada awalnya dilakukan dengan tidak terlalu melibatkan siswa. Namun saat ini, sekolah mengajak lima orang siswa untuk ikut serta melakukan pemeliharaan sekolah setiap minggu.
Dia menuturkan ada sejumlah kendala yang dirasakannya. Fasilitas di sekolah kurang memadai untuk mengikuti program adiwiyata. Kantinnya belum layak. Demikian juga dengan gedung musalla yang tidak memadai. Sementara halaman sekolah sering terendam air di musim hujan karena berada pada posisi paling rendah di area sekitar. Kekurangan-kekurangan itu masih belum dibenahi karena pandemi sedang berlangsung.
Eti yang juga warga Teluknaga itu tak menyerah. Wanita yang dulunya bercita-cita menjadi insinyur pertanian itu tetap melanjutkan program adiwiyata karena ingin memberi motivasi kepada warga sekolah.
“Begitu datang ke sini harus adiwiyata. Kalau tidak seperti itu warga sekolah tidak termotivasi. Karena saya punya hobi menanam dan juga suka tanaman maka turun terlebih dulu. Agar semua tergerak. Jadi tidak harus ada penilaian kita baru kerja. Penghargaan hanya bonus. Yang paling penting bisa mengubah warga sekolah agar tertanam dalam diri bisa mencintai lingkungan,”pungkasnya.
Bidang Kesiswaan SMPN 3 Teluknaga Puji Fauziah menambahkan ada banyak tantangan yang dihadapi untuk mencapai penghargaan adiwiyata. Para guru yang berjumlah 28 orang pun harus mengubah rencana pembelajaran menjadi berkaitan dengan lingkungan hidup.
“Mulai dari visi dan misi juga kita ubah karena kan sebelumnya belum ada,“tuturnya. (mg3/gatot)