SATELITNEWS.ID, LEBAK—Para petani padi di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak tak lagi semangat menggarap lahan persawahannya setelah mengalami kekeringan. Dampak kondisi itu diyakini akan berdampak gagal panen alias puso.
Informasi yang dihimpun, kekeringan yang melanda persawahan terdapat di empat blok pesawahan warga di Desa Pamubulan dan Bayah Timur. Saking tak bersemangatnya sejumlah petani pun telah melakukan aksi bakar sawah sebagai bentuk kekecewaan. Sebab, usut punya usut kekeringan sawah milik petani itu salah satunya akibat sumber mata air yang berada di wilayah setempat rusak diduga akibat aktivitas perusahaan semen.
“Ini (kekeringan) sudah yang kesekian kalinya terjadi. Jadi percuma dilanjut (tanam padi), karena ini mah pastinya gagal panen,” kata Endi kepada wartawan. Endi pun mengaku bingung dengan kondisi saat ini, karena dipaksakan kembali ditanam tidak akan memungkinkan selama ada aktivitas tambang batu milik perusahaan semen tersebut.
“Mau garap gimana? yang ada saya takut ketimpa batu dari lokasi tambang. Kalau lagi meledakan tambang, khawatir ada batu jatuh ke lokasi sawah saya. Ketimbang bahaya, mending saya enggak garap sawah itu,” timpalnya.
Sementara, Kepala Desa Bayah Timur Rafik Rahmat Taufik membenarkan adanya kekeringan pada lahan persawahan warga. Menurut Rafik, kekeringan ini sudah terjadi sejak 4 tahun lalu yang disebabkan adanya aktivitas pertambangan di dekat sumber mata air.
Baca Juga: Di Bukit Sunyi Lebak, Ribuan Umat Katolik Datang Menitipkan Harapan di Goa Maria Kanada
“Iya betul, ada kekeringan. Jadi intinya ada penambangan batu di sekitar sumber mata air. Dampaknya, aliran air mengering dan enggak bisa mengaliri sawah,” kata Rafik. Dia juga mendesak pihak perusahaan agar bisa bertanggungjawab atas persoalan ini. Jangan sampai hadirnya industri di Kecamatan Bayah justru merugikan masyarakat. “Mereka hadir harusnya memberi kesejahteraan, bukan sebaliknya,”tegasnya. (mulyana)
