SATELITNEWS.COM, SERANG–Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat, dari Januari hingga Juli 2023 ada sebanyak 141 kasus kusta tersebar di semua kecamatan se-Kabupaten Serang. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Tirtayasa menduduki peringkat pertama dengan temuan kusta sebanyak 14 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P3) Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti mengatakan, kusta merupakan salah satu penyakit yang dapat menular melalui udara, kontak erat antar penderita dengan non penderita, dan sebagainya.
Virus yang ada pada kusta ini, ujarnya, tidak beda jauh dengan virus TBC, dengan ciri-ciri penularan masuk melakukan pernafasan atau udara dari penderita kusta. Kemudian, gejala yang sering ditemukan yaitu, adanya bercak keputihan dan kemerahan, namun mati rasa pada kulit.
“Kita seringkali melihat ada orang yang kulitnya itu putih seperti susu, bisa jadi orang tersebut sedang menderita kusta. Karena, ciri-cirinya kalau dicubit maupun dibakar, itu tidak akan terasa sakit. Kemudian, ciri lainnya adanya kelainan syaraf. Karena yang di serang oleh virus kusta itu, persyarafannya,” kata Istianah, Minggu (29/7/2023).
Dalam upaya memutus mata rantai kusta, kata Istianah, Pemerintah Pusat memberikan kemoprofilaksis kusta atau obat rifampisin, untuk mencegah infeksi, yang nantinya dapat menurunkan jumlah penderita baru kusta dengan cara memutus mata rantai penularannya.
Sasaran dari pengobatan ini, orang yang kontak erat dengan penderita kusta. Baik di rumah, tempat kerja, sekolah, maupun lingkungan sekitar, serta anak usia dua tahun keatas. Dari data yang dimilikinya, pasien yang kontak dengan pasien kusta sejak 2020 hingga 2022, ada 7251 pasien.
Baca Juga: Pengadilan Tinggi Agama Banten Gelar Rakor di PA Tigaraksa
Paling banyak dari Kecamatan Pontang, ada 620 orang, dilanjut Kecamatan Binuang 603 orang, Tanara 480 orang, Jawilan 440 orang, dan kecamatan lainnya.
“Jadi semua kecamatan di Kabupaten Serang ini, ada kasus dan orang terkenanya. Obat yang akan diberikan yaitu, rifampisin dosis tunggal. Dengan pemberian kemoprofilaksis kusta ini, bisa efektifitasnya 60 persen, dapat mencegah timbulnya kusta pada pasien yang kontak tersebut. Orang yang kontak erat dengan penderita kusta, tidak langsung terkena kusta. Tapi awalnya, akan timbul sakit bisa sampai satu hingga lima tahun. Sehingga, kita cegah sebelum timbul rasa sakit tersebut,” ujarnya.
Istianah juga mengungkapkan, sekitar 80 persen orang terkena kusta ini akibat tertular dari penderita kusta yang tidak diketahuinya. Kemudian, faktor lainnya itu dari lingkungan yang kotor menimbulkan resiko kuman datang sehingga mudah menyerang tubuh, dan daya tahan tubuh juga menentukan tertular atau tidaknya terhadap kusta.
“Tapi yang paling rentan terkena itu, kontak erat dengan si penderita kusta, dan pengaruh genetik juga dapat terkena yang nantinya bisa turun menurun. Kemudian, faktor lingkungan yang buruk akan menimbulkan resiko kuman datang dan mudah menular, apalagi dengan kepadatan daerah yang kumuh,” pungkasnya. (sidik)



















