SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Seorang ibu mengadu ke Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie gegara anaknya yang bersekolah di SMK Pariwisata Puspa Wisata tidak bisa melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL). Siswa berinisial IS yang merupakan penyandang tunagrahita itu ditolak ketika hendak magang di industri perhotelan.
Ibunda IS, Inda mengatakan anaknya sekarang duduk di bangku kelas 11 jurusan perhotelan. Biasanya, kata dia, setiap peserta didik wajib mengikuti selama enam bulan. Menurut Inda, sekolah menjanjikan tempat untuk magang ke hotel-hotel. Namun, sampai saat ini tidak ada satu pun industri perhotelan yang menerima anaknya.
Meski begitu, Inda menyatakan, putranya sudah wawancara di dua hotel bintang empat dan dua hotel bintang tiga. “Dia (anak saya) sudah wawancara di dua hotel bintang 4 dan 2 hotel bintang 3 tetapi gagal. Sementara teman-temannya sudah dapat tempat magang” sebutnya.
Inda menyebut pihak sekolah tidak bisa lagi membantu IS untuk mendapatkan tempat magang. Untuk itu, ia meminta secara langsung kepada orang nomor satu di Tangsel agar bisa memberikan solusi yang dialaminya. Apalagi, kata dia, setiap anak-anak punya hak asasi yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya untuk mendapatkan pendidikan layak.
“Saya mohon bantuan bapak walikota untuk membantu menempatkan dia dimana pun di daerah Tangsel khususnya di BSD. Minta tolong, karena sekolah tidak memberikan membuka jalan lagi atau membantu dia untuk mendapatkan tempat magang,” bebernya.
“Anak saya walaupun anak berkebutuhan khusus dia cakap berkomunikasi cukup baik, tingkah laku sangat baik, atitude sangat baik, rajin, sopan santun, belajar keras, dan hanya kepercayaan dari SDM hotel saja yang tidak memberikan kesempatan buat dia.
Mungkin sebagai house shipping, atau tukang sapu bersih-bersih taman, atau bersihkan kaca dan sebagainya,” sambungnya.
Baca Juga: Anggaran MBG Terancam Dipangkas, Ditargetkan di Bawah Rp200 Triliun
Kepala SMK Pariwisata Puspa Wisata, Hidayat Mulyana masih tetap berupaya mencarikan tempat PKL untuk IS. Ia meminta orangtua S tetap bersabar. Dia mengaku sudah melakukan upaya untuk membantu IS. Diantaranya dengan mengantarkan IS untuk melakukan wawancara di tiga hotel.
“Kami tidak melakukan pembiaran, kami tetap berupaya terus untuk mencari hotel yang bisa menerima dia (S). Cuma ibu ini mungkin gimana ya? Masalah PKL belum diterima, ya sabar aja dulu,” imbuh dia.
Hidayat mengungkapkan IS, siswa berkebutuhan khusus yang ditolak hotel untuk mengikuti PKL merupakan pengidap tunagrahita. Tunagrahita adalah sebutan penyandang disabilitas dengan kemampuan intelektual dan kognitif berada di bawah rata-rata dibandingkan orang pada umumnya.
Menurut Hidayat, hal itu membuat manajemen hotel tak menerima S untuk PKL di tempatnya. Terlebih, manajemen hotel pun juga mempunyai kriteria untuk merekrut para siswa.
“Kalau anaknya si ibu ini (IS) memang tunagrahita, IQ-nya di bawah normal cuma 85, kan susah. Hotel juga punya standar tapi kami enggak bisa intervensi,” ucap Hidayat.
Hidayat menuturkan, perhotelan itu berhubungan langsung dengan klien sehingga kemampuan para siswa yang hendak PKL minimal mendekati kriteria standar pegawai hotel tersebut. Kendati begitu, Hidayat tak menampik ada pula hotel yang menerima siswanya yang berkebutuhan khusus meski dipekerjakan di bagian kebersihan.
Baca Juga: Pasca Kericuhan TKIP-SDIP Pamulang, Siswa Jalani Pembelajaran Jarak Jauh
“Di kami juga ada, siswa yang berkebutuhan khusus, tangannya tremor. Jadi, untuk salaman aja dia susah tapi setelah di interview oleh pihak hotel, dia diterima. Kemudian, ada juga yang IQ-nya pas aja diterima,” kata dia.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengaku telah menerima aduan dari salah satu orang tua siswa berkebutuhan khusus. Diketahui keluhan itu terkait sulitnya mendapatkan tempat untuk PKL atau magang di industri perhotelan.
“Iya ibunya ke saya komplain, ya saya bilang mestinya pihak sekolah yang bisa membantu meyakinkan ke pihak hotel untuk disesuaikan dengan jobnya akan dikasih ke dia,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (10/10).
Menurut Benyamin, salah satu program kurikulum itu harusnya menjadi tanggung jawab sekolah untuk membantu siswanya dengan catatan apapun.
“Magang itukan merupakan program kurikulum jadi yang harus lebih banyak berjuang dari pihak sekolahnya kasihan anaknya,” ucapnya.
Meski begitu, dirinya mengaku telah memerintahkan Dinas Pariwisata Tangsel agar bisa menjembatani ke pihak-pihak yang bersangkutan. Padahal, jelas Benyamin, pihak hotel dapat menyesuaikan job desk yang akan diberikan nantinya.
“Tapi saya minta Dinas Pariwisata untuk bisa ngebantu, perhotelan kan koordinasinya ke pariwisata. Iya kan saya sih berharap tugasnya disesuaikan dengan hotel. Jangan di-front office atau apa. Yang penting magangnya terpenuhi. Saya sudah minta untuk membantu komunikasi ke hotelnya,” paparnya. (eko)
























