SATELITNEWS.COM, SERANG—Kanker payudara dan kanker serviks atau kanker leher rahim saat ini masih menjadi ancaman dan menghantui para kaum wanita. Di Banten, selama lima tahun terakhir tercatat sebanyak 2.800 pengidap kanker. Dari jumlah tersebut sebanyak 30 persen diantaranya baru diketahui pada tahun 2023.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Astuti. Dirinya menjelaskan bahwa kanker payudara dan serviks di Provinsi Banten saat ini masih menjadi ancaman yang cukup serius.
“Sebanyak 2.800 itu dalam 5 tahun terakhir. Sekarang ini ada 860 (penderita, red) kanker payudara dan 56 (penderita, red) kanker serviks. Jadi dua (jenis kanker, red) yang menjadi prioritas kita (kanker yang ditangani, red). Kanker pada wanita ini yang menyumbang tingkat kematian tertinggi dibandingkan jenis kanker yang lain,” jelasnya, Senin (29/1).
Ati menerangkan, bahwasanya kanker di Indonesia dan di Banten sendiri sekarang memang menjadi tren. Ati mengungkapkan, penyakit tidak menular ini telah mendominasi angka kesakitan maupun angka kematian. Dimana, dari sekian banyak jenis kanker, saat ini yang sedang trend atau meningkat tinggi adalah kanker pada wanita yaitu kanker payudara dan kanker serviks.
Ati menuturkan, untuk pengobatan daripada kanker payudara dan serviks ini bukan hanya sekedar dengan obat kemoterapi tetapi juga dengan radioterapi. Itulah mengapa pihaknya pada tahun ini akan membangun banyak bunker untuk menunjang alat radiologi tersebut. Kendati demikian, untuk alat yang diperlukan itu baru bisa digunakan pada tahun 2025 mendatang.
“Kita akan membangun bunker agar sinar yang berasal dari alat radiologi nanti tidak menembus kemana-mana karena sinar itu cukup bahaya. Alatnya nanti kita akan mendapatkan bantuan daei Kementerian Kesehatan dan sudah disetujui. Jadi 2025 kita sudah bisa menggunakan radiologi jika tidak ada hambatan dalam pembangunannya,” tuturnya.
Ati mengatakan, masyarakat yang membutuhkan pengobatan radioterapi masih perlu ke wilayah Jakarta. Hal itu juga yang membuat masyarakat enggan mengecek kesehatannya.
Baca Juga: Sosialisasi Aplikasi GIKIA Dinkes Provinsi Banten, Ini Keuntungannya
“Saat ini kan ke Jakarta (untuk radioterapi, red). Nah ini yang yang sulit, akhirnya karena jauh, transport dan lain-lain, akhirnya kebanyakan tidak berobat radioterapi meskipun dia (pasien, red) punya BPJS. Karena aksesnya jauh maka mereka tidak mendapatkan pilihan, tentu dia meninggal dunia. Nah itulah bagaimana angka kesakitan dan angka kematian dari kanker ini meningkat,” katanya.
Lebih lanjut, Ati menuturkan, para pengidap kanker saat ini cenderung tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker. “Kadang kala kanker itu tidak terasa apa-apa, tiba-tiba dia (pasien, red) sudah ada stadium 3, stadium 4,” tuturnya.
Oleh karena itu, Ati juga mengaku, selain meningkatkan akses pengobatan juga akses untuk bisa mendeteksi sedini mungkin terkait potensi adanya kanker. Hal itu dilakukan agar tidak lagi ditemukan kanker yang masuk stadium lanjut yang berakibat pada kematian bagi pengidapnya.
“Kita temukan cepat, bukan pada stadium yang sudah lanjut,” ucapnya.
Ati mengatakan, bahwa pihaknya juga melakukan pencegahan pada kanker serviks dengan memberikan vaksin pada anak-anak. “Untuk kanker serviks, sekarang kita punya preventif atau pencegahan primernya yaitu dengan vaksinasi. Kita memberikan vaksinasi gratis untuk kanker serviks pada anak Sekolah Dasar yang kelas 5 dan 6,” tandasnya.
Terpisah, Pj Gubernur Banten Al Muktabar mengatakan bahwa pihaknya membuka dua lini pelayanan terbaru yakni pelayanan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan Radiologi IGD sebagai upaya Pemprov Banten untuk fokus menangani terhadap lima penyakit utama seperti jantung, ginjal, paru-paru, otak, dan kanker.
Baca Juga: Tangani Anak Kurang Gizi, Dinkes Provinsi Banten Gencarkan Pangan Lokal
Al juga menyampaikan, saat ini banyak dari masyarakat Banten yang mengidap penyakit tersebut, dan harus dihadapkan dengan biaya untuk pergi berobat keluar Banten. Hal itu, karena pelayanan MRI belum ada di rumah sakit pemerintah daerah.
“Semua itu sebagai fokus kita dalam melayani masyarakat yang mengidap lima penyakit utama seperti jantung, ginjal, paru-paru, otak, dan kanker,” katanya. (mpd/bnn/gatot)
























