SATELITNEWS.COM, LEBAK –Terhitung sejak Januari hingga Agustus 2024, sebanyak 24 warga suku adat Baduy, Desa Kanekes , Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, digigit ular berbisa.
Peristiwa yang himpun di Sahabat Relawan Indonesia (SRI) tersebut terjadi saat mereka tengah menggarap lahan. Satu diantaranya meninggal dunia.
Muhamad Arif Kirdiat, Ketua SRI mengatakan, puluhan warga suku Baduy jadi korban gigitan ular tanah saat membuka lahan untuk pertanian. Namun demikian, data tersebut dihimpun sejak Januari hingga Agustus 2024. Jumlah tersebut yang diketahui, karena tidak semua warga melapor setelah digigit ular.
“Lagi musim tanam, jadi mereka membuka lahan, jadi banyak yang digigit ular. Data yang terhimpun 24 orang yang menjadi korban gigitan ular berbisa itu,” kata Arif melalui telepon selulernya, Kamis (15/8/2024).
Dari 24 orang itu, kata Arif satu orang dilaporkan meninggal dunia, karena terlambat mendapatkan pertolongan. Selain lokasi untuk evakuasi yang memerlukan waktu, minimnya persediaan Serum Anti Bisa Ular (SABU) di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan rumah sakit juga menjadi penyebabnya meninggalnya warga Baduy karena gigitan ular.
“Meninggal satu orang, yang teramputasi dengan sendirinya ada dua, tangan dan kakinya, lainnya ada yang sudah sembuh dan ada juga yang masih dirawat,” kata Arif.
Baca Juga: CKG di Lebak Diserbu Warga
Sementara Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Medi, mengatakan, ada lima warga suku Baduy jalani perawatan karena digigit ular dalam sepekan terakhir yaitu Oong (37), Samidah (50), Yanah (34), Ramidi dan Sawinah (56). Namun sayangnya. Dari lima orang tersebut, hanya satu yang mendapatkan akses Obat SABU.
“Tiga pasien Samidah, Yanah dan Ramidi belum sembuh karena tidak dapat obat dari RSUD dr Adjidarmo dan Puskesmas Muncang,” kata Medi.
Sementara pasien Sarwinah, kata Medi saat ini diobati seadanya di kediamannya di pemukiman suku Baduy. Medi menyebut, kondisi Sarwinah kini mengkhawatirkan. Adapun untuk pasien Oong, saat ini sedang dalam tahap pemulihan setelah mendapatkan akses obat dari RSUD Banten.
“Kondisinya (Sarwinah) mengkhawatirkan, ya karena hanya diberikan obat seadanya saja,” tandasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak, dr Budi Mulyanto mengatakan, saat ini memang tengah terjadi kelangkaan SABU di pusat produksi sehingga mempengaruhi stok di Lebak.
“Memang secara nasional sedang terjadi kelangkaan Anti Bisa Ular, karena Biofarma sebagai produsen sampai saat ini belum produksi bahkan stok nasional di Biofarma pada bulan Mei 2024 tinggal 200 vial,” kata Budi saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Sepanjang 2026, Sebanyak 391 Warga Lebak Terserang DBD
“(RSUD Adjidarmo) sudah, menyiapkan anggaran untuk pengadaan SABU namun hingga saat ini belum terealisasi karena ketiadaan barang di produsen,” tandasnya.(mulyana)
























