SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Pemerintah Kota Tangerang menyiapkan strategi hulu-hilir menata TPA Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari yang kini sudah melebihi kapasitas atau overload.
Pj Wali kota Tangerang Nurdin mengatakan, untuk sektor hulu, Pemkot Tangerang akan mengurangi TPS-TPS di wilayah. “Caranya mulai tahun 2025 pengelolaan di wilayah kita tingkatkan melalui delegasi, tugas-tugas pengelolaan sampah kepada camat. Termasuk menyerahkan peralatan, SDM yang dibutuhkan serta biaya operasionalnya,” kata Nurdin kepada wartawan, Jumat (20/12/2024).
Seiring dengan kebijakan tersebut, diharapkan masyarakat di tingkat rumah tangga juga memiliki kesadaran bersama untuk melakukan gerakan pengurangan sampah melalui upaya pemisahan sampah organik dan non organik.
“Demikian juga pengangkutannya kita lakukan melalui percontohan di beberapa lokasi. “Kita juga akan memaksimalkan bank-bank sampah yang ada, di samping kita dorong terus rumah tangga secara swadaya untuk berpartisipasi dalam upaya pengurangan sampah ini,”katanya.
Sementara di hilir yakni di TPA dilakukan dengan pengolahan sampah terpadu (TPST). “Kita jadikan sampah yang masuk sebagai bahan bakar, yakni RDF dimana kita sudah punya kerja sama dengan PT Solusi Bangun Indonesia sebagai outtaker dari RDF yang kita hasilkan,” ucapnya.
Pemkot Tangerang sendiri kini sudah mengoperasikan tiga mesin RDF. “Satu sedang kita tunggu untuk setting karena ruangan untuk settingannya baru selesai kita bebaskan. Dan kini masih menunggu proses pengosongan dari pemilik sebelumnya. Tanggal 25 Insya Allah semua bisa kita pasang, sehingga nanti ada tiga unit,”ujarnya.
Baca Juga: Tanamkan Kepedulian Lingkungan, Siswa SDN Pondok Jagung 02 Bersih-bersih Tiap Jumat
Selain itu, juga dilakukan pemanfaatan lahan-lahan di sekitar TPA untuk proses normalisasinya. “Dimana kita mulai dari 1.000 pertama di area fieldmill, kita kerok sampahnya, kemudian bekas TPA itu kita uruk dan kita bangun tempat pengolahan RDF,” terangnya.
“Jadi sampahnya kita pindahin, lokasinya kita bangunin hanggar,”ucapnya.
Sedangkan langkah berikutnya adalah melakukan mining. “Sampah-sampah di sekitar kita mining, bahan organik kita uruk. Yang non organiknya kita jadikan RDF,” ujarnya.
Langkah itu ujarnya dilakukan 1.000 meter demi 1 000 meter, sehingga diharapkan dalam waktu setahun bisa mengerjakan 10 hektare. “Sekarang kalau kita bisa mining 10 hektare, kalau kita keluar uang Rp 100 miliar sampai Rp 200 misalnya, kita masih bisa untung,”ucapnya. (made)



















