SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Di tengah padatnya pemukiman kawasan Bambu Apus, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kepulan asap tipis dari tungku sederhana menjadi tanda geliat ekonomi rumahan yang terus bertahan sejak lebih dari satu dekade lalu.
Di sebuah rumah di Jalan Mujahir Raya, Mai Firmansyah (42) tengah sibuk memilah-milah arang batok kelapa yang baru saja selesai diproses. “Saya produksi arang batok kelapa ini sudah dari tahun 2010 lalu,” ujar saat ditemui, kemarin.
Usaha arang yang ditekuni Mai bukan sekadar penghasilan tambahan, melainkan sumber ekonomi utama keluarganya. Momen hari besar seperti Iduladha, permintaan arang melonjak signifikan. Kenaikan permintaan pun langsung berdampak pada harga jual.
“Biasanya harga Rp 10 ribu, tapi kalau pas momen seperti ini bisa naik jadi Rp12 ribu. Ya karena permintaan tinggi dan bahan dasar susah juga,” jelasnya.
Batok kelapa, bahan dasar arang yang digunakan Mai, semakin sulit diperoleh dalam jumlah besar. Hal ini menjadi tantangan utama dalam peningkatan kapasitas produksi.
“Produksi sehari bisa 1 sampai 2 kuintal, itu maksimal. Kita nggak bisa nambahin karena memang tergantung bahan bakunya. Karena kebutuhan bahan dasar batok kelapanya memang susah, jadi kita produksi mencapai 1 sampai 2 kuintal per hari,” tambahnya.
Baca Juga: Bupati Pandeglang Sebut Iduladha Mengajarkan Tentang Kepedulian, Keikhlasan dan Pengorbanan
Meski demikian, dari keterbatasan bahan baku itu, Mai mampu menjual arang hingga 2 kuintal saja, terutama menjelang perayaan besar yang identik dengan aktivitas membakar sate seperti Iduladha.
Kemasan arang yang dijual juga beragam, menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Mulai dari kemasan 9 kilogram dan 14 kilogram yang dijual seharga Rp120 ribu per karung, hingga ukuran besar seharga Rp180 ribu per karung.
“Konsumen beda-beda, ada yang dua hari habis satu karung, ada yang tiga hari baru habis. Jadi kita sesuaikan kemasannya,” katanya.
Sayangnya, keterbatasan bahan baku juga membatasi distribusi produk arang milik Mai. Untuk saat ini, penjualannya masih terbatas di wilayah Tangsel.
“Ke luar kota belum bisa. Tangsel aja kita masih kekurangan bahan batok,” ungkapnya.
Meski penuh tantangan, usaha arang milik Mai Firmansyah menjadi contoh nyata bagaimana industri kecil tetap bisa bertahan dan tumbuh, terlebih ketika dijalankan dengan ketekunan dan adaptasi terhadap pasar musiman. (eko)
Baca Juga: Bupati Serang Ajak Semua Elemen Masyarakat Tingkatkan Solidaritas Sosial
























