SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Respons Pemkab Pandeglang, terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait atas kondisi Esih (44), warga Kampung Cihanjuang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, terbilang lambat.
Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang, baru akan melakukan assesment dan meninjau lokasi janda miskin dan tiga orang anaknya. Padahal, secara konstitusi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, melalui pemerintahan setempat. Dalam hal ini, instansi yang harus memelihara yakni Dinsos Kabupaten Pandeglang.
Bentuk ketidakhadiran pemerintah, bisa terlihat dari kondisi rumah yang reyot dan tanpa penanganan, anaknya putus sekolah meski ada program sekolah gratis tingkat Sekolah Dasar (SD), mencari makan sulit meski ada bantuan sosial (Bansos), hidup terasingkan dari hiruk pikuk keramaian.
Keterbatasan anggaran dan kekurangan pegawai, seyogianya bukan lagi menjadi alasan luputnya pandangan soal kemiskinan di Pandeglang. Persoalan yang tidak pernah ada solusi, jika hanya mengandalkan bansos dari Pemkab Pandeglang, Pemprov Banten, atau Pemerintah Pusat.
Pemerintah harus bisa memutus mata rantai kemiskinan, dengan melindungi hak masyarakat miskin melalui kemandirian membuka usaha, menyediakan modal, memberikan pelatihan keterampilan, dan menyediakan pasar atas hasil keterampilan. Akan tetapi, hal itu belum dilakukan secara optimal, karena kemiskinan merupakan pasar yang menjanjikan.
Persoalan klasik yang seharus bisa terselesaikan, apabila semua instansi terkait bisa membuat kebijakan satu arah dan fokus. Misalnya, Pemkab Pandeglang bisa membuat Peraturan Daerah (Perda) Waralaba, yang mewajibkan semua usaha retail agar 30 persen produknya berasal dari usaha masyarakat lokal.
Baca Juga: Erupsi GAK Terus Meningkat, Sekolah di Pandeglang Berlakukan BDR
Akibat lemahnya penyelesaian persoalan kemiskinan, Ibu Esih, harus menahan kondisi kekurangan finansial selepas kematian suaminya. Padahal dia merupakan satu dari sekian banyak anak bangsa, yang memiliki hak hidup secara layak di negara dan kampungnya sendiri.
Pihak Dinsos Kabupaten Pandeglang, baru mewacanakan akan memberikan bantuan sementara kepada warga Pandeglang yang miskin itu. Padahal, selama bertahun-tahun janda tiga anak di Cibaliung ini membutuhkan pertolongan, bukam hanya sekedar diberikan Bansos, tetapi perekonomiannya yang harus diselamatkan.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinsos Kabupaten Pandeglang Wawan Setiawan, secara ringan menyampaikan, pihaknya akan segera melakukan peninjauan ke lokasi Esih dan ketiga anaknya, sambil memberikan bantuan sementara kepada keluarga miskin ini. Jawaban itu, disampaikannya secara ringkas dan singkat.
“Terima kasih infonya, Dinsos segera koordinasi dengan camat, kades, dan akan ke TkP untuk assement dan memberikan bantuan dasar,” katanya singkat. Rabu (11/6/2025).
Sementara, Ketua Komisi IV DPRD Pandeglang Tb Udi Juhdi, meminta kepada Pemkab Pandeglang agar segera bertindak untuk menyelamatkan keluarga sederhana tersebut.
Apabila keuangan daerah tidak memungkinkan, segera sampaikan kepada Pemprov Banten dan Pemerintah Pusat, agar bisa mendapatkan bantuan dan penanganan cepat.
Baca Juga: Abu Vulkanik Erupsi GAK Hujani Pandeglang, Bupati Dewi: Gunakan Masker dan Kacamata
“Segera sampaikan kepada Pemprov Banten dan Pemerintah Pisat, kalau memang tidak mampu dan tidak sanggup, usulkan perbaikan rumahnya agar layak, jangan sampai kondisi ini terus dibiarkan berlarut-larut,” ungkapnya.
Selain itu, Pemkab Pandeglang juga harus bisa menyelamatkan ketiga anak Esih, yang sudah putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan sekolah. Meski sudah ada program pendidikan gratis sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun harus juga dipikirkan solusi untuk bekal sekolahnya setiap hari.
“Kekurangan dari biaya sekolah sehari-harinya kan, nah ini juga harus menjadi perhatian Pemkab Pandeglang. Intinya, anak-anaknya ini harus segera diselamatkan, jangan sampai mereka enggak bisa sekolah,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Esih (44) warga Kampung Cihanjuang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, membutuhkan uluran tangan. Sejak ditinggal mati suaminya empat tahun lalu, dia berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya.
Esih merupakan satu dari sekian banyak warga Kabupaten Pandeglang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Setiap harinya, dia hanya bisa menghasilkan uang Rp30 sampai Rp50 ribu yang didapat sebagai kuli kebun. Jauh dari kata cukup, bahkan kurang, tetapi itulah kenyataan yang diterimanya dengan ikhlas.
Sepeninggal suaminya, Esih berjuang agar ketiga anaknya yakni Siswanto (12), Akbar (10), dan Ikbal (7) bisa tetap hidup dan bisa tetap makan setiap harinya, meski dengan menu seadanya dan secukupnya. Beberapa hari lalu, janda tiga anak ini merasa getir karena tidak memiliki beras untuk dimasak dan uang untuk belanja tidak sepeserpun.
Tetapi tuhan tidak meninggalkan hambanya yang bersabar, dihari yang sama dirinya mendapatkan bantuan atau donasi dari Relawan Rumah Yatim yang selalu rutin berbagi diwilayah Selatan Pandeglang. Keluarga sederhana itu bisa makan dan tersenyum atas uluran tangan orang yang peduli.
Kesehariannya sebagai kuli kebun tidak pernah dikeluhkan, meski hanya mendapatkan upah seadanya, tetapi cukup untuk menyambung hidup. Berjarak lima kilometer dari rumahnya, wanita paruh baya ini tidak pernah lelah demi ketiga buah hatinya yang menantikan rezeki setiap hari.
Ketidak berdayaan Esih dalam ekonomi, menyebabkan anak pertamanya Siswanto harus putus sekolah, meskipun tidak ada program sekolah geratis untuk tingkat Sekolah Dasar (SD). Himpitan ekonomi itu juga menghimpit harapan anaknya untuk mengenyam pendidikan.
Bukan hanya kesukitan untuk makan dan sekolah, sekeluarga ini pun tinggak dirumah yang jauh dari kata layak, dinding rumah yang terbuat dari bilik sudah lapuk dimakan usia, banyak bolong, dan tidak layak. Digubuk reyod itulah keempatnya selalu meratapi nasib, sambil ikhlas menerima kenyataan.
Rumah berukuran enam kali empat meter itu menjadi tempat peristirahatan keluarga sederhana yang selalu mensukuri rezeki yang diberikann Ilahi setiap harinya. Ditengah keterbatasan itu, keluarga ini tidak pernah mengeluh secara berlebihan, hanya air mata yang bisa menggambarkan keterpurukan mereka.
Sambil menahan air mata, Esih bercerita bahwa rumahnya sempat roboh dan luluh lantak terkena bencana angin puting beliung dan cuaca ekstrem. Sambil mengelus dada, dia hanya bisa pasrah saat ini dan tidak tahu harus tinggal dimana. Tetapi, rumah itu bisa kembali ditempati meski kondisinya jauh dari kata layak.
“Hancur rumahnya, tetapi ada tetangga yang ngasih bagian bangunan atau bilik, walaupun memang enggak layak. Sedih pak, tetapi mau bagaimana lagi,” kata Esih tak kuasa membendung air mata, Selasa (10/6/2025). (adib)
























