SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Masyarakat Kabupaten Tangerang diimbau untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap bahayanya penyebaran penyakit leptospirosis. Penyakit yang disebabkan oleh air kotor atau air yang mengandung banyak bakteri leptospira ini merupakan salah satu penyakit yang membahayakan.
Dokter pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa, dr Lorenza Clara Berina mengatakan, leptospirosis adalah penyakit infeksi akibat bakteri leptospira yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui air, tanah, atau lumpur yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi seperti tikus, kucing, anjing, ataupun hewan ternak seperti sapi, kambing, babi dan kuda.
“Penyakit ini cenderung meningkat saat musim hujan dan banjir karena lingkungan menjadi lembap, sehingga mendukung pertumbuhan bakteri, serta memudahkan penyebarannya ke manusia,” kata dr. Lorenza Clara Berina kepada Satelit News, Rabu (9/7/2025).
Menurut dr Lorenza, penderita leptospirosis awalnya mengalami gejala yang menyerupai flu, seperti demam tinggi, nyeri otot (khususnya di betis), sakit kepala, mual, muntah, dan mata merah. Pada beberapa kasus, bisa terjadi gejala lanjutan seperti kulit atau mata menguning (ikterus), diare, bahkan komplikasi berat berupa kerusakan ginjal, hati, paru-paru, hingga kematian. “Masa inkubasi bakteri berkisar antara 2 hingga 30 hari, dan gejala umumnya muncul dalam waktu 7–10 hari setelah paparan,” jelasnya.
Dia juga mengatakan, bakteri leptospira bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan di lingkungan yang basah, berlumpur, dan bersuhu 28-30°C dengan pH netral atau basa. Tikus merupakan pembawa utama (carrier) dan dapat menyebarkan bakteri seumur hidupnya tanpa menunjukkan gejala sakit.
“Penularan ke manusia terjadi melalui luka terbuka, selaput lendir (mata dan mulut), atau konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi,” tukas Lorenza.
dr. Lorenza Clara Berina menegaskan, bahwa masyarakat harus diberikan pemahaman mengenai cara penularan, bahaya komplikasi, dan langkah-langkah pencegahan leptospirosis, terutama saat dan pasca musim hujan. Karena, penyakit ini lebih banyak penularannya ketika musim penghujan tiba.
Baca Juga: Paramount Petals Dukung Turnamen Catur Se-Kabupaten Tangerang, Diikuti 150 Peserta
Adapun, langkah-langkah pencegahan leptospirosis yang harus dilakukan adalah, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) salah satunya dengan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan tempat bersarangnya tikus, membersihkan dengan desinfektan bagian-bagian rumah, kantor, atau Gedung.
Menutup tempat penyimpanan air agar tidak terkontaminasi urine atau kencing tikus, mengendalikan populasi binatang tikus, menghindari kontak langsung dengan air banjir atau genangan kotor, menggunakan pelindung seperti sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan lingkungan setelah banjir. Menutup luka agar tidak terpapar bakteri, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan.
“Sayangnya, banyak kasus yang baru terdeteksi saat sudah memasuki fase lanjut dan menyebabkan kegagalan organ. Oleh karena itu, kesadaran dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran leptospirosis yang masih menjadi ancaman serius di banyak wilayah Indonesia,” tandasnya. (*/alfian)
























