SATELITNEWS.COM, SERANG–Pokja relawan Banten, meminta Pemprov mengoptimalkan keberadaan Sungai Cibanten. Selain sebagai aliran air, Sungai Cibanten juga diharapkan bisa dijadikan sebagai kawasan konservasi serta lokasi untuk pelatihan kebencanaan.
Hal ini, disampaikan Ketua Pokja Relawan Banten, Lulu Jamaludin saat mengikuti kegiatan “Arung Kali Cibanten 2025” yang digagas oleh Komunitas Peduli Sungai Banten, Senin (14/7).
Kegiatan pengarungan yang diikuti Gubernur bersama Wali Kota Serang Budi Rustandi, BBWS C3, Basarnas, BPBD, serta berbagai komunitas dan relawan.
Arung kali dimulai dari pintu kecil yang berada di Gedung Negara Provinsi Banten Jl KH Syam’un, Kota Baru, Kota Serang, dan berakhir di Jembatan Kidemang, Unyur, Kasemen.
Tujuannya bukan sekadar simbolik, melainkan sebagai bentuk aksi nyata untuk melihat langsung kondisi Sungai Cibanten dan menyusun langkah-langkah penanganan konkret.
Menurut Lulu, dirinya meminta Pemda setempat untuk bersama-sama melakukan komitmen bersama menjaga dan melestarikan Sungai Cibanten ini sebagaimana mestinya. Tidak lagi sampah yang berserakan di sepanjang aliran Sungai sampai bangunan-bangunan di sepadan sungai.
“Ini harus tetap menjadi wilayah konservasi yang kita jaga bersama. Bukan sekadar kegiatan simbolis, tapi komitmen bersama,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut konkret, para relawan dan instansi terkait berkomitmen untuk menggelar aksi bersih-bersih sungai pada pekan depan.
“Kali Cibanten dapat dihidupkan kembali sebagai ikon wisata air, pusat latihan relawan siaga bencana, dan ruang hidup yang bersih dan aman bagi masyarakat sekitar”, ujar Lulu.
Gubernur Banten Andra Soni, mengamini apa yang menjadi keluh kesah forum relawan tersebut. Sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah, Andra menegaskan komitmennya untuk mengembalikan kejayaan Sungai Cibanten, yang saat ini mengalami kerusakan serius akibat pendangkalan dan tumpukan sampah.
“Ini bukan sungai biasa. Ini sungai sejarah, jantung air Kota Serang, dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya,” ujar Andra Soni.
Dalam perjalanan menyusuri sungai, Andra melihat sendiri sejumlah persoalan akut yaitu pendangkalan, tumpukan sampah rumah tangga, bahkan sisa-sisa bangunan yang dibuang ke aliran sungai.
Ia mengungkapkan keprihatinan, bahwa banyak masyarakat masih menganggap sungai sebagai tempat buangan.
“Kita harus ubah mindset. Sungai bukan tempat sampah. Pemerintah kota dan provinsi harus hadir menyediakan tempat pembuangan yang layak dan edukasi ke masyarakat harus digencarkan,” tegasnya.
Andra menyebut, bahwa dari diskusi yang terjadi selama pengarungan, berbagai masalah sudah diinventarisasi mulai dari penyumbatan anak sungai, lokasi rawan banjir saat debit tinggi, hingga kebutuhan sistem pengelolaan sampah terpadu.
Lebih jauh, Andra menyatakan, bahwa penanganan Sungai Cibanten tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara BBWS C3, pemerintah provinsi, pemerintah kota, hingga struktur paling bawah di tingkat RT dan RW.
“Kita butuh pemahaman kolektif. Semuanya harus jalan bersama, dan hasilnya harus tercermin dari keputusan tindak lanjut,” paparnya.
Tindak lanjut dari kegiatan ini, menurut Andra, akan dimulai dengan aksi bersih-bersih Sungai Cibanten dalam waktu dekat. Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong agar kawasan sekitar sungai bisa dikembangkan menjadi ruang edukasi lingkungan, konservasi, dan bahkan potensi wisata air.
“Saya optimis. Semangat para relawan dan masyarakat hari ini luar biasa. Kita pelihara semangat ini. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan jika kita mau bergotong royong,” pungkasnya. (luthfi/mardiana)