SATELITNEWS.COM, SERANG – Sektor pertanian, menjadi salah satu issue strategis di Provinsi Banten, terutama terkait Jalan Usaha Tani (JUT). Hal itu karena, mayoritas masyarakat di Banten khususnya wilayah selatan, berprofesi sebagai petani dan nelayan.
JUT merupakan akses utama para petani, untuk mengangkut hasil panen. Adanya akses jalan yang memadai, bisa menekan biaya produksi atau pengeluaran para petani, dan memaksimalkan pendapatan dari hasil panen.
Kepala Dinas Pertanian Banten Agus M Tauchid mengatakan, JUT merupakan salah satu akses vital para petani. Sarana tersebut, bisa menjadi salah satu pintu menutup pembengkakan biaya produksi para petani di Banten dan memaksimalkan pendapatan dari hasil penjualan gabah atau hasil panen.
Hal itu, lanjutnya, bukan tanpa alasan. Dirinya pernah melakukan penelitian dan peninjauan disalah satu wilayah di Kabupaten Lebak, tepatnya di Kecamatan Wanasalam.
Daerah itu, belum memiliki JUT yang layak, sehingga para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut hasil panen dari sawah ke tempat penampungan gabah.
Dalam satu karung gabah yang diangkut itu, kata dia, para petani harus mengeluarkan biaya sebesar Rp50 ribu karena minimnya sarana JUT. Biaya itu, kata dia, cukup membebani para petani yang menggantungkan hidup dari hasil mengolah sawah.
“Dalam satu tahun, biaya operasional untuk mengangkut gabah itu bisa mencapai Rp3 Miliar, itu untuk di Kecamatan Wanasalam saja, karena lahan pertanian disana lebih dari dua ribu hektare,” katanya, Kamis (17/7/2025).
Uang itu, kata dia, seharusnya bisa digunakan oleh para petani untuk menambah pendapatan. Akan tetapi, karena akses JUT belum memadai, para petani terpaksa harus mengeluarkan uang tambahan, untuk mengangkut hasil panen mereka.
“Uang itu kalau bisa digunakan untuk petani, tentunya akan bisa mensejahterakan mereka. Makanya, kita sudah membuat rencana untuk membangun JUT sebagaimana visi dan misi Gubernur Banten,” tambahnya.
Dia mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pihaknya, setidaknya Provinsi Banten harus bisa membangun JUT sepanjang 80 kilometer dan tersebar di semua wilayah di Banten. Dengan begitu, para petani bisa merasakan dampak dari hasil pengolahan lahan mereka.
“Kita sudah melakukan penelitian, dan dari hitungan sementara kita, setidaknya kita membutuhkan 80 kilometer JUT, tersebar di Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, dan Tangerang, dan itu sedang kita usahakan,” ujarnya.
Agus meyakini, JUT yang memadai bisa menjadi salah satu faktor meningkatnya perekonomian para petani, karena mereka tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut hasil panen dari sawah ke lokasi penyimpanan.
“Disinilah pentingnya kehadiran negara, kita usahakan agar kedepan semua JUT bisa terbangun, karena dengan begitu, para petani kita bisa lebih sejahtera dan meningkat perekonomiannya,” pungkasnya.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, Fahriroji mengatakan, masyarakat mendukung adanya pembangunan JUT tersebut. Namun, kata dia, pemerintah juga harus bisa memberikan kemudahan bagi para petani dalam menggarap sawah mereka.
Seperti, kata dia, pengadaan mesin traktor dan mesin air untuk mengaliri air ciujung kelokasi pesawahan. Oleh karena, selama ini masyarakat belum bisa menikmati bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) yang sudah dicanangkan pemerintah.
“Kalau bisa jangan JUT saja, masih banyak yang harus dibenahi, seperti alsintan, mesin air, kalau pupuk sudah agak mudahlah. Karena kan dikita ini daerahnya ada sumber air, tetapi mesin airnya susah dan traktor juga kita harus nyewa,” imbunya. (adib)