SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Sebanyak 17 warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) telah dipastikan akan mengikuti program pendidikan gratis di Sekolah Rakyat. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Sosial (Kemensos) RI untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar bisa kembali mengakses pendidikan formal.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Tangsel, Mohammad Ervin Andani menyebutkan bahwa puluhan siswa asal Tangsel itu telah terdaftar dan akan memulai pendidikan pada 30 Juli besok, bersamaan dengan masuknya gelombang kedua peserta didik.
“Terakhir itu seingat saya ada 17 siswa warga Tangerang Selatan yang akan sekolah di Sekolah Rakyat. Karena kita masuk ke gelombang 2, kita mulainya 30 Juli. Paling banyak dari Pondok Aren atau Serpong. Kalau saya nggak salah, seluruh kecamatan,” ujar Ervin, Selasa (29/7).
Meski bukan termasuk kategori miskin ekstrem, kata Ervin, para siswa ini berasal dari keluarga dalam kelompok desil 1 dan 2 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), yang menunjukkan kondisi sosial ekonomi paling rentan. Proses seleksi dilakukan oleh pendamping sosial Program Keluarga Harapan (PKH), atas instruksi Kemensos.
“Sebenarnya nggak miskin ekstrem. Jadi kriteria untuk bisa bersekolah di sekolah rakyat itu dari desil 1 dan desil 2 DTSEN. Jadi di bulan Juni dari Kemensos memerintahkan pendamping sosial PKH untuk melakukan mencari siswa yang memenuhi kriteria,” paparnya.
“Jadi yang menentukan desil itu dari BPS. Teman-teman pendamping sosial PKH itu melakukan survei, mengisi quesioner, kemudian hasilnya dikasih ke BPS. BPS lah yang meranking kita semua dari desil 1-10. Yang dianggap masuk miskin ekstrem, miskin atau rentan misken itu desil 1-5, kira-kira seperti itu. 6-10 dianggap tidak masuk rentan, berarti sudah dianggap cukup,” sambungnya.
Baca Juga: U-Turn Rawabuntu Mulai Diuji Coba, Titik Bisa Berubah Tergantung Hasil Evaluasi 3 Hari
Berdasarkan kelompok tersebut, mayoritas orang tua siswa tersebut bekerja sebagai buruh harian lepas, pekerja kasar, atau bahkan tidak memiliki pekerjaan tetap. Sebelum memasuki sekolah, seluruh siswa juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Tangsel.
Sekolah Rakyat menawarkan fasilitas setara sekolah kedinasan, mulai dari pakaian seragam, tempat tidur, komputer, hingga kamar ber-AC. Semua kebutuhan siswa disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah pusat.
“Kalau menurut saya itu program keren banget deh. Kayak kita tinggal di sekolah kedinasan. Baju dapet, komputer dapet, spring bed dapet, tiap kamar AC. Dan yang luar biasa itu nggak bayar sama sekali. Kalau punya penyakit disembuhin di situ,” jelasnya.
Sebagai informasi, gedung sekolah yang digunakan untuk Sekolah Rakyat merupakan gedung Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemerintah Provinsi Banten, dan telah disesuaikan dengan standar yang ditetapkan Kemensos. Renovasi gedung dilakukan oleh Kementerian PUPR.
Gedung ini nantinya akan menampung hingga 150 siswa dari seluruh wilayah Provinsi Banten, dengan total enam rombongan belajar (rombel), masing-masing berisi 25 siswa.
Walaupun semuanya telah dipersiapkan, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMA) 33 Tangsel yang berlokasi di Jalan Perum Griya Asri Raya, Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara belum rampung pengerjaannya. Pantauan di lokasi pada, Selasa (29/7), proses renovasi gedung tiga lantai itu masih berjalan.
Baca Juga: Menteri PPPA Kecam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Siswa di Tangsel
Nampak puluhan pekerja masih mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Secara kasat mata memandang, bangunan yang terdiri dari empat tower utama dan satu aula nampak sudah berbalut didominasi cat berwarna putih. Ranjang besi dan kasur pun sudah berada didalam gedung, tetapi belum tertata dengan rapi.
Berdasarkan keterangan salah satu petugas keamanan di lokasi, sejak beberapa hari terakhir, para pekerja bekerja lembur untuk menyelesaikan sebelum proses belajar mengajar diberlakukan. (eko)


















