SATELITNEWS.COM, JAKARTA— Ratusan perempuan dari Aliansi Perempuan Indonesia (API) turun ke jalan di depan Gedung DPR RI, Senayan, Rabu (3/9/2025), menuntut penghentian segala bentuk kekerasan negara. Dalam aksi bertajuk “Perempuan Melawan Kekerasan Negara”, mereka menekankan enam tuntutan utama kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sejak pukul 10.00 WIB, jalanan di depan DPR dipenuhi warna pink. Ratusan peserta mengenakan dress code pink dan hitam, membawa payung, tas, hingga sapu lidi yang diayunkan sebagai simbol “penyapuan kotoran negara”—praktik militerisme dan kekerasan aparat yang mereka tolak.
Dari atas satu unit mobil komando, orator menyerukan tuntutan mereka. Di sampingnya, dua juru bahasa isyarat (JBI) berdiri menerjemahkan tiap kata ke dalam bahasa isyarat untuk peserta tunarungu.
Mutiara Ika Pratiwi, narahubung API sekaligus Ketua Perempuan Mahardhika menyoroti tuntutan rakyat yang hanya meminta hak dasar—mulai dari pemenuhan kebutuhan hidup layak hingga kepastian hukum—sering dibalas dengan kekerasan aparat.
“Kami menolak narasi rezim Prabowo yang melekatkan tuduhan makar dan terorisme pada protes. Protes bukan kejahatan, melainkan hak demokratis setiap warga negara,” tegasnya.
Sorakan “Tarik Mundur Aparat yang Represif! Kami Bukan Makar, Kami Mawar!” terdengar bergemuruh, disambut tepuk tangan dan teriakan peserta lain. Beberapa laki-laki berdiri di barisan belakang, menambah solidaritas. Payung pink berayun, sapu lidi diangkat, dan poster besar seperti “Prabowo, hentikan kekerasan negara!” terlihat dari jarak puluhan meter.
Baca Juga: PPA Tangerang Selatan: Sekolah Wajib Lapor Jika Terjadi Kekerasan
“Kami melakukan aksi secara damai. Kalau ada yang menyebut aksi ini makar atau terorisme, itu adalah ancaman bagi demokrasi,” ujar Eka, peserta dari Koalisi Perempuan Indonesia, sambil menggenggam poster. “Saya ikut karena ingin suara perempuan terdengar. Kita bukan hanya meminta, tapi menuntut hak kita,” kata Fitri (27) menambahkan.
Orator lain menyerukan pembebasan demonstran yang ditangkap. “Ketika rakyat turun ke jalan, mari kita tunduk sejenak pada para pejuang yang mati di medan juang.” Beberapa peserta membagikan flyer berisi enam tuntutan utama, sementara yang lain mengabadikan momen dengan kamera atau ponsel.
Aksi dikawal ketat aparat, mayoritas Polwan. Mereka menjaga jarak di sisi barisan, menciptakan keseimbangan antara pengamanan dan kebebasan berunjuk rasa. Interaksi humanis juga terlihat: beberapa peserta memberi salam kepada petugas, duduk sebentar sambil minum air, atau tersenyum saat berpapasan dengan aparat. Lalu lintas di Jalan Gatot Subroto tetap lancar, meski sorakan dan teriakan memenuhi udara.
Adapun 6 tuntutan peserta aksi kali ini adalah: (1) Menghentikan segala bentuk kekerasan negara, termasuk menarik mundur TNI dan Polri. (2) Presiden Prabowo, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Agus Subiyanto segera menarik tentara yang dilibatkan bersama kepolisian dalam penanganan keamanan ketertiban masyarakat. (3) Kapolri Listyo Sigit Prabowo mundur dari jabatannya dan kepolisian membebaskan seluruh masyarakat yang ditangkap tanpa syarat.
Kemudian, (4) Menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap rakyat, aktivis, jurnalis, dan pendamping hukum, serta membebaskan seluruh tahanan tanpa syarat. (5) Mengembalikan militer ke barak dan menghentikan keterlibatan TNI dalam urusan sipil. (6) Menjamin sepenuhnya hak konstitusional warga negara untuk berkumpul, berserikat, dan menyampaikan protes di muka umum tanpa intimidasi maupun kekerasan.
Sekitar pukul 13.20 WIB, massa mulai meninggalkan lokasi. Beberapa berjalan kaki menuju Jalan Gerbang Pemuda, sebagian menggunakan bus Transjakarta.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2027 Ditetapkan Hingga 6,5 Persen
Mereka bergotong-royong membersihkan sampah, meninggalkan poster dan spanduk tetap tertempel di barikade, dan membagikan makanan serta minuman gratis kepada pedagang dan pengemudi ojek online. (rmg/san)
