SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Dalam rangka menggugah kesadaran masyarakat maupun pemerintah, akan bahaya pencemaran sampah laut di wilayah Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, puluhan karya anak berkebutuhan khusus dari Yayasan Special Needs Artivity (SNA), dipamerkan di area Batako, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Pameran ini, adalah rangkaian dari acara Tina Sagara Ka Sagala atau Dari Laut Ke Segala, yang acaranya meliputi pameran seni rupa, pertunjukan musik dan juga pertunjukan teater boneka hewan – hewan laut.
Founder Yayasan Spesial Needs Artivity (SNA), Khairul Hakim, saat dihubungi mengatakan, melalui seni, pihaknya berharap agar penerapan nilai – nilai baik diantaranya tertib dalam membuang sampah ke tempatnya, menjaga kebersihan area pesisir pantai, dan juga kebersihan lingkungan, bisa tersampaikan dengan lebih halus dan masuk di kalbu masyarakat.
“Dengan penyampaian yang indah, melalui seni, kami berharap muncul kesadaran ekologis masyarakat Teluk akan bahaya pencemaran laut di sini. Apalagi, Pantai Teluk pernah dinobatkan sebagai pantai terkotor di Indonesia. Kami berharap, dengan kegiatan ini tak ada lagi gelar pantai terkotor untuk Teluk, dan kelak Teluk bisa menjadi pantai yang indah tanpa sampah,“ kata Khairul, sambil menambahkan, kegiatan pameran karya anak-anak berkebutuhan khusus ini juga diharapkan bisa mengaktivasi ruang seni untuk masyarakat sekitar, agar tergugah untuk berkarya dan menyalurkan ekspresinya melalui seni.
Lebih lanjut ia menceritakan, bahwa gambar-gambar yang dipamerkan di Teluk memiliki berbagai macam tema, karena pihaknya yang membebaskan anak-anak untuk berkarya sesuai dengan ekspresi jiwanya.
Dengan goresan warna-warna cerah, anak-anak berkebutuhan khusus tersebut banyak menggambar hewan serta alam sekitar. Seolah, ingin menyampaikan pesan bahwa manusia harus hidup selaras dengan lingkungannya, termasuk dengan hewan dan tumbuhan.
Tak hanya itu, karya lainnya dari anak-anak berkebutuhan khusus yang ditampilkan dalam acara tersebut adalah, boneka penyu dan ubur ubur dari bahan sampah plastik. Penyu dipilih karena, konon Pantai Teluk dahulu adalah salah satu tempat berkembang biaknya penyu.
Sayang, hal itu tak bisa disaksikan lagi di masa kini, karena pasir Pantai Teluk dipenuhi oleh sampah yang dibuang oleh masyarakat, maupun yang terbawa oleh air laut dari tempat lainnya di luar Kecamatan Labuan.
Selain penyu, tokoh hewan laut lainnya yang dibuat oleh SNA adalah ubur-ubur, yang juga lekat dengan kehidupan masyarakat Teluk karena hewan ini kerap memenuhi perairan di sana di musim-musim tertentu.
Boneka hewan-hewan laut itu, dibuat dengan cara berkolaborasi dengan komunitas seniman di Pandeglang. Sedangkan sampah plastiknya, mayoritas adalah plastik kresek yang banyak ditemukan di area pesisir pantai.
Sampah plastik kresek itu, dikumpulkan dari masyarakat, kemudian dicuci lalu dikeringkan. Setelah itu,dibentuk menjadi seperti lempengan kertas menggunakan seterika, dan ditempelkan satu persatu ke setiap bagian badan dari penyu. Terakhir, dirangkai dan ditempelkan ke rangka dari PVC agar bentuk 3D-nya lebih terlihat.
Boneka hewan-hewan laut itu, kemudian akan ditampilkan dalam pergelaran teater yang juga menjadi acara puncak dalam kegiatan Tina Sagara Ka Sagala.
Khairul Hakim yang biasa disapa Mang Sukim itu, kemudian mengenang awal mula aktivitas seni rupa anak-anak berkebutuhan khusus yang ia bina.
Berawal dari keresahannya, sebagai seorang pendidik di sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Pandeglang yaitu SKH Negeri 1 Pandeglang. Di sekolah tersebut, kata dia, sekira tahun 2018 silam, beberapa anak yang tinggal di asrama, sepulang sekolah tak memiliki kegiatan yang bermanfaat selain beristirahat.
Maka sebagai seorang guru seni dan budaya ia berinisiatif untuk mengajak anak anak itu berkarya melalui gambar. Hingga kini ada sekitar 30 anak yang bergabung di yayasannya. Mereka aktif untuk mengikuti berbagai workshop untuk menambah kemampuan seninya maupun berkarya secara mandiri maupun berkolaborasi dengan seniman lainnya.
Karya-karya anak istimewa itu juga, sudah banyak menghiasi berbagai gelaran seni diantaranya di Sumurup Art Festival di Yogjakarta.
Selain pameran seni rupa, anak-anak berkebutuhan khusus lainnya dari 4 sekolah khusus yaitu SKH Mathla’ul Anwar Kecamatan Menes, SKH Athohariyah 1 Sodong Kecamatan Saketi, SKH Persada Kecamatan Picung, dan SKH Gita Kiara Kecamatan Pagelaran yang tergabung dalam band The Tuners juga ikut memeriahkan gelaran seni tersebut.
Manajer The Tuners Nanda Maulana saat dihubungi melalui telepon membenarkan hal tersebut. Kata dia The Tuners awalnya dibentuk sebagai ajang silaturahmi antar sekolah khusus.
“Selain itu, band ini juga dibentuk untuk menampung minat dan bakat anak-anak yang seluruhnya memiliki jenis ketunaan berupa tunanetra namun mereka semua sangat menyukai seni musik” terang lelaki yang bekerja sebagai guru di SKH Mathla’ul Anwar tersebut. (mardiana)