SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Kegiatan mengunjungi makam para wali Allah atau ziarah, rupanya bukan hal baru di Banten. Hal itu, sudah dimulai sejak berabad-abad lalu. Tradisi ini, bahkan diketahui oleh Belanda dan dianggap sebagai potensi cuan (pendapatan) yang lumayan.
Maka tak heran, saat Belanda, dalam hal ini jawatan kereta api Belanda (Staatsspoorwegen), membangun rel kereta api jalur Rangkasbitung – Labuan pada tahun 1896 silam, mereka juga membangun satu stopplaast khusus yang diperuntukkan bagi para peziarah yang ingin mengunjungi makam wali Allah yaitu, Syekh Manshurudin dengan lebih mudah.
Stopplaast itu, didirikan tak jauh dari gerbang menuju makam beliau di Desa Cikadueun, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Sebagai informasi, Stopplaast Tjikadoewen setelah kemerdekaan, namanya berubah menjadi Cikaduen. Bagi anda yang belum familiar dengan istilah Stopplaast dalam dunia perkeretaapian, itu berarti bangunan tersebut adalah stasiun berukuran mini yang hanya melayani naik turun penumpang dan barang, dalam jumlah yang kecil saja.
Tak ada pengisian air atau bahan bakar, serta kegiatan pengangkutan barang dalam skala besar sebagaimana biasanya terjadi di stasiun.
Dikutip dari buku Sejarah Jalur Kereta Api Rangkasbitung – Labuan Heritage PT KAI Tahun 2014, jalur kereta api Rangkasbitung – Labuan mulai beroperasi 18 Juni 1906, setelah seluruh rel dan fasilitas pendukungnya seperti stasiun, halte, atau stopplaast selesai dibangun.
Selain Cikadueun, stasiun lainnya di Kabupaten Pandeglang yang biasa digunakan oleh para peziarah adalah Stasiun Labuan, karena stasiun tersebut adalah lokasi terakhir sebelum menuju ke area Caringin tempat makam Wali Allah Syekh Asnawi berada.
Jadi setelah selesai berziarah di Cikaduen, para peziarah biasanya naik kereta lagi menuju ke Labuan, dan kemudian dari Labuan disambung kendaraan lainnya atau berjalan kaki hingga ke Caringin (dulu namanya Tjaringin).
Kini, bangunan stopplaast Cikadueun hanya tinggal sisanya saja. Bangunan utama Stopplaast, sudah diapit oleh dua bangunan baru sehingga kekhasan bangunan stopplaast kurang bisa dinikmati.
Tak tertera lagi tulisan Tjikadoewen, sebagai identitas stopplaast di dindingnya, karena tertutup oleh dinding bangunan baru tersebut.
Namun, kita masih bisa melihat sisa bangunan kayu khas Belanda dengan ukuran kurang lebih 5×4 meter.
Bagian depannya kayu-kayunya, sudah luntur catnya, sedangkan bagian belakang stopplaast masih terlihat dinding kayunya di cat warna hijau gelap, yang juga mulai luntur.
Bagian dalam stopplaast tak bisa dilihat jelas, karena dikunci. Tapi bila diintip dari jendela kaca, terlihat ada satu ruangan kecil yang merupakan ruang penjualan tiket dan ruang tunggu penumpang lengkap dengan bangku bangku kayu.
Kemudian, sisa ruangan lainnya dipakai sebagai ruang tunggu dengan satu bangku kayu, yang menempel di dinding.
Di bagian depan stopplaast, kita masih bisa melihat sisa rel yang kini sebagiannya tertimbun aspal Jalan Raya Labuan – Pandeglang.
Sisa rel lainnya pun, sudah tak terlihat karena dijadikan pelataran masjid serta rumah penduduk. Tak jauh dari sana, membentang sebuah jembatan kereta api yang melewati Sungai Cikadueun.
Posisinya cukup unik, karena lebih tinggi dari posisi jalan raya saat ini, yang juga memiliki jembatan di bagian bawahnya. Sayang, bagian bawah jembatan tersebut saat ini dipakai sebagai bengkel dan tempat penyimpanan barang oleh masyarakat setempat.
Bila dilihat sekilas, maka akan sulit untuk mengetahui bahwa lokasi tersebut dulu menjadi stasiun persinggahan terakhir bagi ribuan peziarah yang diangkut oleh lokomotif uap seri B51, yang setia melayani jalur Rangkasbitung – Labuan.
Kini, jalur tersebut menjadi saksi bisu perkeretaapian di Pandeglang, setelah PT KAI menutup operasional jalur tersebut pada tahun 1984 silam. (mardiana)