SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Data global mengejutkan. Pada tahun 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 2,3 juta wanita didiagnosis menderita kanker payudara dengan 670.000 kasus kematian. Di Indonesia, ancaman ini bahkan lebih nyata.
Menurut data GLOBOCAN 2022, kanker payudara menduduki peringkat nomor satu dari seluruh jenis kanker, menyumbang 30,1% dari kasus kanker baru pada wanita.
Menurut dr. Ivan Rinaldy, Sp.B, Subsp. Onk(K), Dokter Spesialis Bedah, Subspesialis Onkologi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, kanker yang berasal dari epitel duktus dan lobulus dalam jaringan kelenjar payudara ini, seringkali datang tanpa disadari. Namun penyebabnya, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Namun ada beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya kanker payudara. Dilansir dari kanal owise.uk, bahwa kanker payudara bisa menyerang siapa saja, namun risikonya meningkat bila seseorang memiliki beberapa faktor berikut:
● Usia di atas 40 tahun
● Belum pernah hamil atau melahirkan di usia lanjut
● Tidak menyusui atau menyusui dalam waktu singkat
● Menstruasi terlalu dini atau menopause terlambat
● Penggunaan obat hormonal tanpa pengawasan dokter
● Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker ovarium
● Pernah menjalani operasi tumor atau radiasi dada di usia muda
● Kelebihan berat badan dan kurang olahraga
● Konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok. (sumber: owise.uk)
“Waspadai bila muncul benjolan padat dan keras di payudara, perubahan bentuk atau posisi puting, keluar darah dari puting, kulit tampak seperti kulit jeruk (peau d’orange), atau benjolan di ketiak,” kata dr Ivan Rinaldy kepada satelitnews.com, Jum’at (32/10/2025).
“Banyak pasien datang saat stadium sudah lanjut karena mengabaikan perubahan kecil di payudara. Padahal, jika diperiksa lebih awal, pengobatan bisa lebih sederhana dan hasilnya jauh lebih baik,” tandasnya.
Baca Juga: MUI Kabupaten Tangerang Berduka, KH Ahmad Fudholi Wafat Usai Kecelakaan
SADARI dan SADANIS: Dua Langkah Penting Deteksi Dini
Lanjut dr Ivan, pencegahan terbaik terhadap kanker payudara adalah deteksi dini, yang dapat dilakukan melalui dua cara utama yaitu SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara oleh Tenaga Medis).
Ia menjelaskan, bahwa SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dilakukan oleh wanita usia di atas 20 tahun. Bagi yang masih haid, lakukan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid, dan bagi yang menopause pada tanggal yang sama setiap bulan. Amati bentuk payudara di depan cermin, lalu raba seluruh bagian payudara dan ketiak untuk memastikan tidak ada benjolan atau perubahan.
“SADARI adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dengan pemeriksaan sederhana di rumah, wanita dapat mengenali perubahan sejak dini,” jelas dr. Ivan.
Sedanglan untuk SADANIS, dr Ivan mengatakan, itu dilakukan oleh tenaga medis atau dokter untuk memeriksa adanya kelainan. Menurutnya, jika ditemukan indikasi mencurigakan, dokter dapat melanjutkan pemeriksaan dengan USG payudara atau mammografi.
“Bagi wanita usia di atas 15 tahun, pemeriksaan klinis ini dianjurkan dilakukan setiap 2–3 tahun sekali agar deteksi dini dapat dilakukan sebelum kanker mencapai stadium lanjut,” jelas dr Ivan.
Baca Juga: Jalan Pisangan Pakuhaji Dibongkar Lagi, Tak Sesuai Spesifikasi
“SADANIS melengkapi langkah SADARI. Pemeriksaan klinis oleh dokter memastikan deteksi lebih akurat, dan menjadi pintu awal menuju penanganan yang tepat,” tambah dr. Ivan.
Pilihan Penanganan
Menurut dr Ivan, jika terdiagnosis kanker payudara, terdapat beberapa pilihan terapi tergantung pada stadium dan kondisi pasien, antara lain pembedahan (surgery), radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi target, serta imunoterapi.
Ditambahkan dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, bahwa sebagai hospital yang berfokus pada kesehatan wanita, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Breast Clinic dengan pendekatan yang hangat dan profesional. Fasilitas modern seperti USG payudara, mammografi, biopsi, hingga layanan onkologi terpadu tersedia untuk mendukung pemeriksaan dan penanganan yang cepat dan akurat.
“Breast Clinic Bethsaida kami rancang agar setiap wanita merasa aman dan nyaman saat memeriksakan diri. Kami percaya, perhatian kecil terhadap kesehatan hari ini bisa menyelamatkan masa depan mereka,” tutup dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong. (aditya)
























