SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Siswa SMP Negeri 19 Kota Tangerang Selatan, HM (14), yang diduga menjadi korban perundungan meninggal dunia pada Minggu (16/11). Korban menghembuskan nafas terakhirnya di ICU Rumah Sakit Fatmawati Jakarta setelah sempat menjalani perawatan hampir sepekan.
Menurut keterangan pihak keluarga, sejak Selasa lalu korban sudah tidak sadarkan diri. Namun, penyebab pasti kematian korban belum diketahui pihak keluarga.
“Sejak kemarin memang belum ada kabar masih koma, masih di ruang ICU. Mulai tidak sadar dari hari Selasa,” ujar Rizky Fauzi, kakak sepupu korban saat dijumpai di rumah duka.
Jenazah MH dimakamkan di lahan milik keluarga tidak jauh dari rumah duka. Prosesi pemakaman diwarnai isak tangis keluarga yang datang.
Pantauan di lokasi, nampak Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan dan Kadindikbud Tangsel Deden Deni turut hadir dalam kesempatan tersebut.
“Kami dari Pemkot Tangsel tentu saja sekali lagi mengucapkan turut berduka cita mudah- mudahan almarhum diberi terang kubur, segala ibadah Hisyam diterima Allah,” ucap Pilar.
Baca Juga: Menteri PPPA Kecam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Siswa di Tangsel
Disinggung soal langkah Pemkot Tangsel ke depan perihal kasus ini, Pilar mengaku masih akan berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
“Dinas Pendidikan sedang berkoordinasi dengan KPAI dan juga saya mendapatkan kabar bahwa Polres Kota Tangsel sedang melakukan pendalaman lebih lanjut permasalahan ini,” jelasnya.
Kapolres Tangerang Selatan (Tangsel), AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang menegaskan bahwa proses penyelidikan terkait dugaan kasus perundungan yang menewaskan seorang pelajar SMP Negeri 19 tetap berjalan secara profesional, meski keluarga korban belum membuat laporan resmi. Hal tersebut ia sampaikan saat mengunjungi rumah duka, pada Minggu (16/11).
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres sempat berdiskusi dengan keluarga korban untuk menyampaikan langsung belasungkawa. Victor menjelaskan bahwa sejak awal kejadian, aparat Polres Tangerang Selatan telah memulai penyelidikan tanpa menunggu laporan dari orang tua korban. Hal ini dilakukan karena keluarga masih fokus mendampingi perawatan korban di rumah sakit.
“Dari awal pada saat kejadian ini, memang dari pihak orang tua dan keluarga masih fokus untuk merawat korban, namun kami dari kepolisian berinisiatif untuk memulai proses penyelidikan terhadap adanya dugaan tindak pidana terkait dengan peristiwa ini,” ujarnya.
“Kami siap untuk membantu, siap untuk melayani, siap untuk melakukan proses hukum secara profesional,” lanjut Victor.
Baca Juga: Polres Tangsel Lakukan Penyelidikan Kasus Oknum Guru Diduga Lecehkan Siswa
Ia menambahkan bahwa pihak keluarga kini telah menyampaikan kesediaannya untuk memberikan keterangan kepada penyelidik. Hingga saat ini, polisi telah memeriksa enam saksi yang diduga mengetahui rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal. Saksi-saksi tersebut termasuk dari pihak sekolah.
“Nanti akan dijadwalkan dari pihak orang tua korban akan memberikan keterangan kepada penyelidik yang sementara menyelidiki kasus ini. Kami sudah periksa sudah total ada 6 orang saksi yang kita lihat, kita perkirakan mengetahui tentang adanya peristiwa dugaan tindak pidana ini,” bebernya.
Kata Victor, penyelidikan juga melibatkan berbagai lembaga, termasuk UPTD PPA Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang turut memberikan asistensi.
“Jadi tadi yang seperti kami sampaikan bahwa ini kami berinisiatif dari awal dari Polres Tangerang Selatan tanpa adanya laporan polisi maupun keterangan dari orang tua korban, kami sudah melakukan rangkaian penyelidikan,” ungkapnya.
Menanggapi kemungkinan adanya pelaku yang masih berstatus anak, Kapolres menegaskan bahwa proses hukum akan mengikuti aturan perlindungan anak.
“Pasti nanti kita akan memperhatikan kaidah-kaidah sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Nanti akan kita sampaikan, artinya bagaimana nanti apa yang penyebabnya, kemudian ada keterangan-keterangan detail lainnya, kita akan melibatkan ahli,” sebutnya.
Terkait penyebab pasti kematian korban, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari beberapa rumah sakit yang menangani korban, termasuk RS Fatmawati.
“Kita juga akan melakukan pemeriksaan kepada pihak kedokteran yang melakukan pemeriksaan. Karena ada rentetannya, sebelum di RS Fatmawati, ada rumah sakit juga yang menangani secara awal. Itu semua akan kita mintakan keterangan,” pungkasnya.
Diketahui, Hisyam dilarikan ke rumah sakit setelah peristiwa tragis 20 Oktober 2025. Di ruang kelasnya, saat jam istirahat hampir tiba, ia dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Pukulan itu mengenai kepala.
Menurut keluarga, itu bukan kali pertama. Sejak awal tahun ajaran, Hisyam disebut sering mengalami kekerasan hingga kerap pulang dengan tubuh lemas. Namun hari itu menjadi yang paling fatal.
Setelah pulang ke rumah, kondisi Hisyam memburuk cepat. Penglihatannya kabur, tubuhnya seperti lumpuh, dan sehari kemudian ia sudah tak memiliki tenaga untuk berdiri. Keluarga baru diberi tahu sehari setelah kejadian, sebuah hal yang membuat mereka semakin terpukul. (eko)



















