SATELITNEWS.COM, LEBAK – Menyusul kasus pembegalan yang menimpa Repan, warga Baduy Dalam di Jakarta, Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Oom, mengimbau warga adat Baduy agar berjualan secara berkelompok. Imbauan tersebut diberikan sebagai langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Oom mengatakan, keselamatan warga Baduy yang berjualan madu maupun produk lainnya menjadi perhatian serius. Karena itu, ia meminta agar warga Baduy yang hendak berdagang tidak pergi seorang diri. “Menyusul adanya kasus Repan, kami mengimbau agar warga Baduy berjualan secara berkelompok,” ujar Oom melalui sambungan telepon, Minggu (23/11/2025).
Selain itu, Oom juga meminta agar aktivitas berjualan madu dilakukan pada siang hari demi keamanan. Menurutnya, berjualan pada malam hari memiliki risiko yang jauh lebih besar. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melarang warga Baduy berdagang ke Jakarta. “Kami tidak pernah melarang warga Baduy untuk berdagang ke Jakarta. Itu hak mereka untuk mencari rezeki,” tegas Oom.
Dijelaskan Oom, masyarakat Baduy sudah sejak lama terbiasa berdagang hingga ke luar daerah sebagai bagian dari aktivitas ekonomi mereka, termasuk menjual madu hutan, kerajinan, dan hasil alam lainnya. “Aktivitas berdagang itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kami hanya mengingatkan agar lebih waspada, bukan melarang,” tandasnya.
Kronologi Kasus Begal Repan
Sebelumnya diberitakan, Repan (16), warga Baduy Dalam asal Kampung Cikeusik, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, menjadi korban begal di Jakarta pada Minggu, 26 Oktober 2025 sekitar pukul 04.15 WIB. Informasi tersebut pertama kali diterima Kepala Desa Kanekes, Oom, yang kemudian melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib.
Baca Juga: PAPDI Banten Gelar Pengobatan Gratis di Baduy
Kerabat korban, Enip, mengatakan bahwa Repan berada di Jakarta untuk berjualan madu. Ia mengaku kaget saat mendengar kabar bahwa Repan menjadi korban perampokan. Enip juga menyampaikan bahwa usai kejadian, Repan tidak langsung menghubunginya maupun membuat laporan polisi karena tidak memahami cara menggunakan ponsel.
Enip mengaku baru mengetahui peristiwa tersebut pada Sabtu (1/10/2025) dan langsung membuat laporan ke polisi keesokan harinya, Minggu (2/10/2025). Dalam kejadian itu, Repan kehilangan sejumlah barang, antara lain uang tunai Rp3 juta, 10 botol madu tawon Baduy, serta satu unit ponsel. Ia juga mengalami luka sabetan senjata tajam di lengan kiri sehingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit di Jakarta Barat.
“Sempat mendapatkan perawatan intensif beberapa hari. Sekarang sudah agak mendingan, hanya saja jahitannya masih belum bisa dibuka,” ujar Enip. (mulyana)
























