*Oleh: DR. KH. ENCEP SAFRUDIN MUHYI. MM., M.Sc
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. (QS. Al-Hujurat : 10).
– Kedamaian Dalam Beragama –
Nilai kedamaian dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai, menjalin kebersamaan, dan menciptakan ketenangan dalam diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Kedamaian juga merupakan inti dari ajaran banyak agama dan filsafat, menekankan pentingnya kasih, keadilan, dan persaudaraan sebagai nilai universal.
Makna kedamaian adalah hidup tanpa kekhawatiran, ketakutan, atau beban. Untuk mencapai kedamaian, seseorang harus terlebih dahulu menemukan ketenangan, harmoni, dan kebebasan sejati dari dalam. Perdamaian bukan sekadar tidak adanya konflik, melainkan hadirnya kasih, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Islam menjadikan perdamaian sebagai inti ajaran, persaudaraan sebagai fondasi sosial, dan kemanusiaan sebagai nilai universal yang mengikat umat manusia tanpa sekat agama maupun budaya.
Kedamaian adalah suatu pemahaman dan penerimaan manusia yang utuh, tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan diri mereka sendiri. Kedamaian bersifat personal, sesuatu yang ada di dalam diri kita, sekaligus menjadi sesuatu yang besar di dunia luar.
Kedamaian tidak akan terwujud jika salah satu dari keduanya terganggu. Dan saya percaya menemukan kedamaian adalah cara untuk menghubungkan kedua elemennya. Kedamaian bukanlah ketiadaan kekacauan dan masalah, tetapi seni untuk tetap tenang, fokus, dan bersatu bahkan di tengah-tengahnya.
Hewan lebih damai daripada manusia, dan mereka memang menghadapi masalah, berburu makanan, dan mati. Mungkin ada masalah dan konflik, tetapi cara kita menyelesaikannya menentukan seberapa damai kita. Menyediakan pendidikan dan menghilangkan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan pengucilan adalah area yang perlu diupayakan untuk mencapai perdamaian, baik di dalam maupun di luar diri kita. Dan itu tidak dapat dilakukan tanpa pemahaman dan penerimaan yang utuh terhadap diri kita sendiri dan orang lain.
Perdamaian adalah konsep persahabatan dan keharmonisan sosial tanpa adanya permusuhan dan kekerasan. Dalam arti sosial, perdamaian biasanya digunakan untuk berarti mengakhiri konflik (seperti perang) dan kebebasan dari rasa takut akan kekerasan antara individu atau kelompok. Jadi berdamai dan beragama memiliki konsep dasar yang sama yaitu tidak terlibat dalam konflik, tidak melakukan kekerasan dan secara keseluruhan melakukan sesuatu yang diterima secara sosial sebagai baik dan harmonis.
Konsep agama dan perdamaian saling terkait karena kebaikan yang melekat pada intinya, sehingga meskipun ada perbedaan dalam setiap dan setiap agama, selalu ada ajaran dalam agama yang mengajarkan para penganutnya untuk berbuat baik dan harmonis dengan sesamamu. dan tidak pernah menyebar dalam situasi apa pun dan semua karena mengarah pada konflik dan dan menunjukkan tanda-tanda permusuhan yang tidak sejalan dengan konsep inti agama yang membuat para penganutnya melakukan perbuatan baik.
Kedamaian antar agama adalah mungkin jika kita sebagai orang yang beriman masing-masing memiliki keyakinan yang lebih terbuka dan memiliki pemahaman bahwa meskipun kita berbeda dalam iman dan agama kita tetap sesama manusia dan ini diwujudkan dalam Pancasila yang merupakan prinsip utama Indonesia sebagai sebuah negara yang memperlakukan orang lain sebagai sesamanya tanpa memandang ras, suku, agama, dll.
Namun hal itu menjadi semakin sulit dilakukan akhir-akhir ini karena radikalisme yang merajalela.
– Toleransi Beragama –
Pendidikan toleransi membutuhkan teladan bagi generasi muda. Sebagai orang tua, guru, pemimpin, dan semua lapisan masyarakat, kita perlu melihat jauh ke dalam diri kita sendiri. Karena toleransi dimulai dari diri kita sendiri dan bagaimana kita merefleksikan nilai-nilai universal dalam praktik dan tindakan – sebagaimana yang digariskan dalam Deklarasi Prinsip-Prinsip Toleransi.
Toleransi merupakan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di antara manusia, baik perbedaan suku, agama, ras, budaya, maupun pandangan hidup. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, toleransi menjadi kunci penting untuk menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa.
Melalui sikap toleran, setiap individu belajar untuk menerima keberagaman sebagai kekayaan, bukan sebagai pemisah, sehingga tercipta kehidupan sosial yang damai, adil, dan saling menghormati.
Toleransi dalam pemilu merupakan fondasi penting bagi terciptanya demokrasi yang sehat dan berkeadaban. Dalam setiap proses pemilihan umum, perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar, namun yang lebih utama adalah bagaimana masyarakat mampu menghormati setiap perbedaan itu tanpa menimbulkan konflik atau permusuhan.
Sikap toleran mendorong terciptanya suasana damai, adil, dan jujur selama penyelenggaraan pemilu, serta menjadi cerminan kedewasaan politik bangsa dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan dan kepentingan.
Jadi, toleransi adalah sikap menghargai perbedaan serta memberikan kebebasan kepada orang lain untuk berpendapat, berkeyakinan, dan bertindak sesuai dengan haknya, selama tidak melanggar nilai dan norma yang berlaku.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, toleransi berarti kesediaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, baik dalam hal agama, budaya, politik, maupun pandangan hidup.
Di era digital, tantangan terhadap nilai toleransi semakin kompleks. Penyebaran informasi yang cepat dapat memicu kesalahpahaman, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial.
Karena itu, masyarakat perlu bijak dalam bermedia sosial, menyaring informasi sebelum membagikannya, dan mengedepankan dialog dalam perbedaan pendapat.
Toleransi memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial. Beberapa manfaat dari sikap toleransi, yaitu : Pertama, Menciptakan kedamaian dan kerukunan antar warga. Kedua,
Meningkatkan rasa persaudaraan dan solidaritas sosial. Ketiga, Mengurangi konflik dan perpecahan di masyarakat. Keempat, Menumbuhkan empati dan saling pengertian antar individu. Dan Kelima, Memperkuat persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Dalam konteks toleransi umat beragama, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki hak mutlak untuk memilih agamanya sendiri tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun.
Menghargai kebebasan ini juga merupakan bagian integral dari prinsip-prinsip demokrasi yang kita anut sebagai negara.
Melalui toleransi umat beragama, kita dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang tanpa memandang latar belakang agamanya.
Dengan saling menghargai keyakinan satu sama lain, kita memberikan ruang bagi perkembangan spiritual masing-masing individu sambil tetap menjaga hubungan sosial yang baik.
Toleransi umat beragama bukan hanya tentang mengakui kebersamaan dan perbedaan yang ada, tetapi juga menumbuhkan rasa kesadaran bersama antar-umat beragama. Dengan menghargai hak asasi manusia dan kerukunan sosial, kita dapat membangun budaya yang menerima dan toleran bagi semua orang di seluruh dunia.
Ketika ada toleransi tentu perdamaian selalu ada di Indonesia. Misalnya ketika akhir tahun, ketika umat Nasrani akan merayakan Natal. Maka penjagaan akan semakin ketat, mulai dari jalanan hingga di depan rumah agama.
Aparat yang menjaga tidak selalu memiliki keyakinan yang sama, dalam artian mereka tidak merayakan Natal tetapi ikut mencegah terjadinya kekacauan agar umat bisa beribadah dengan tenang.
Toleransi seperti ini akan menjadi modal besar untuk memajukan bangsa Indonesia. Penyebabnya karena jika umat bersatu bersatu (walau keyakinannya berbeda) maka akan bahu-membahu dalam membangun Indonesia. Contohnya ketika ada bencana banjir di suatu tempat, mereka kompak membawa donasi serta membantu evakuasi, tanpa harus bertanya agamamu apa.
Jika semua orang memiliki toleransi yang baik maka masyarakat optimis setiap Natal dan tahun baru akan berlangsung mulus, tanpa ada kelahiran antar warga. Mereka juga tidak terpicu akan provokasi dari pihak yang tidak ingin berunding.
Tindakan intoleran juga sudah sangat dicegah karena pemerintah telah membubarkan ormas yang sering melakukannya, karena terbukti radikal dan berafiliasi dengan teroris. Sebaliknya, jika tidak ada toleransi, maka akan terjadi kekacauan. Bayangkan jika banyak anak muda yang intoleran, maka ketika ada hari raya agama situasi tertentu akan menjadi tidak kondusif. Penjagaan akan semakin ketat karena guna mengantisipasi adanya penyerangan dan tawuran.
Oleh karena itu masyarakat perlu lebih sering dalam mempopulerkan toleransi beragama, agar Indonesia menjadi damai dan WNI kompak untuk membangun bangsa. Apalagi di masa pandemi, ketika kita bangkit dari masa suram, perlu adanya kerja sama untuk memajukan Indonesia. Jika semuanya saling bertikai maka mustahil bangsa ini maju.
Natal dan tahun baru wajib diamankan agar tidak ada potensi kekacauan. Selain itu, seluruh elemen masyarakat menjaga agar perayaan nataru tetap terjaga dari kelahiran antar umat. Caranya masyarakat akan terus diberi sosialisasi tentang pentingnya toleransi.
Mereka akan paham, bahwa perbedaan tidak akan dipermasalahkan, karena Indonesia adalah bhinneka tunggal ika. Semoga … (***)
*Penulis adalah:
– Penulis Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional. Buku Manajemen Transformasi Pendidikan & Dosen UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten).
– Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi.