SATELITNEWS.COM, TANGERANG — 5 bulan telah berlalu sejak Raymond Wirya Arifin ditemukan meninggal dunia di samping Jembatan Brendeng, Kota Tangerang. Namun hingga kini, kematian pemuda berusia 19 tahun itu belum menemui titik terang. Pada Minggu pagi, (28/12/ 2025), keluarga, kerabat, dan sahabat kembali mendatangi lokasi kejadian untuk menabur bunga, memanjatkan doa, sekaligus menagih kejelasan penanganan kasus tersebut.
Suasana di lokasi berlangsung khidmat. Sejumlah bunga ditaburkan di tepi jembatan, tepat di titik ditemukannya jenazah Raymond. Bagi keluarga, tempat itu bukan sekadar ruang publik, melainkan saksi bisu peristiwa yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Kakak almarhum, Rendy Arifin, mengatakan kegiatan tabur bunga dilakukan untuk mengenang 165 hari kepergian Raymond, sekaligus sebagai pengingat kepada aparat penegak hukum agar kasus ini tidak dibiarkan berlarut tanpa kepastian.
“Hari ini kami mengenang 165 hari kepergian Raymond. Kami berdoa, tapi juga berharap besar agar kasus ini bisa segera terungkap,” ujar Rendy kepada awak media.
Rendy menuturkan, hingga saat ini keluarga belum menerima perkembangan berarti dari Polsek Karawaci terkait penanganan kasus kematian adiknya. Padahal, laporan telah disampaikan sejak Juli 2025. Meski demikian, keluarga mengaku tetap berupaya menjaga komunikasi dan melakukan tindak lanjut secara berkala.
“Sampai sekarang belum ada perkembangan yang kami terima dari Polsek Karawaci. Tapi kami terus melakukan tindak lanjut,” katanya.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Tangsel Rabu 14 Oktober 2026, Cek Lokasinya
Menurut Rendy, lamanya penanganan perkara membuat keluarga semakin resah. Mereka khawatir berjalannya waktu justru berpotensi menghilangkan petunjuk dan barang bukti penting yang seharusnya dapat membantu mengungkap kebenaran. “Kami hanya ingin kejanggalan kematian Raymond bisa dijelaskan secara terang, baik secara hukum maupun secara kemanusiaan,” ucapnya.
Di mata keluarga dan sahabat, Raymond dikenal sebagai sosok yang baik, tertutup, dan jauh dari konflik. Ia disebut tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Kesaksian serupa juga disampaikan rekan-rekan kuliahnya yang turut hadir dalam kegiatan tabur bunga tersebut.
“Raymond anak yang rajin dan disiplin. Hampir tidak pernah absen kuliah. Itu yang membuat teman-temannya bingung dan terpukul,” tutur Rendy, mengutip cerita para sahabat adiknya.
Kehadiran teman-teman Raymond di lokasi memperlihatkan bahwa duka dan kehilangan tidak hanya dirasakan keluarga. Sejumlah sahabat tampak larut dalam doa, sementara lainnya terdiam menatap aliran sungai di bawah jembatan, seakan mencoba memahami peristiwa yang menimpa rekan mereka.
Di penghujung kegiatan, keluarga dan sahabat menutup prosesi dengan doa bersama. Bagi mereka, tabur bunga bukan sekadar ritual mengenang, melainkan simbol perlawanan terhadap lupa—agar kasus ini tidak tenggelam oleh waktu.
Rendy menegaskan, keluarga meyakini kematian Raymond bukanlah bunuh diri sebagaimana sempat berkembang di awal. Mereka menduga adanya unsur tindak pidana dalam peristiwa tersebut. “Kami percaya Raymond tidak meninggal karena bunuh diri. Ada banyak kejanggalan yang menurut kami perlu diusut secara serius,” ujarnya.
Baca Juga: Gudang Paralon di Legok Tangerang Terbakar, 15 Unit Damkar Dikerahkan
Karena itu, keluarga terus mendesak Polsek Karawaci untuk mengusut tuntas kasus ini berdasarkan petunjuk-petunjuk yang telah disampaikan. Mereka berharap aparat bertindak cepat dan transparan, mengingat perkara tersebut telah berjalan selama lima bulan tanpa kepastian hukum.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polsek Karawaci melalui Kanit Reskrim belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan kasus kematian Raymond Wirya Arifin. Namun bagi keluarga, harapan tetap menyala—bahwa kebenaran, seberapa pun lambatnya, pada akhirnya akan menemukan jalannya. (ari)
















