SATELITNEWS.COM, SERANG – Alat pendeteksi tsunami yang dipasang dibeberapa lokasi, kerap dijarah oknum tidak berkepentingan. Akibat hal itu, alat tersebut tidak berfungsi dengan baik karena beberapa komponen hilang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengakui, banyaknya komponen alat pendeteksi tsunami yang hilang. Komponen yang hilang itu, mulai dari baterai hingga kabel dan aki sirene.
“Kepada masyarakat kami minta agar tidak mengambil bagian dari perangkat peringatan dini atau early warning system (EWS) tersebut karena menyangkut keselamatan warga pesisir,” katanya, Senin (12/10/2026).
Lutfi menerangkan, ada enam baterai perangkat EWS milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kawasan Gunung Anak Krakatau yang hilang. Selain baterai, komponen berbahan besi pada perangkat yang ditempatkan di laut juga rawan diambil untuk dijual.
“Kami memohon kepada warga, selapar apa pun, sebutuh apapun, tolong alat deteksi-deteksi tsunami, baik yang di laut maupun di pulau, jangan diambil dong. Itu karena menyangkut hajat hidup orang Banten semuanya,” tambahnya.
Lutfi menyampaikan, perangkat EWS tersebar di sejumlah kawasan pesisir Banten, mulai dari Anyer, Pasauran, Labuan, hingga Panimbang. Perangkat tersebut berfungsi mendukung pemantauan ancaman tsunami dan penyampaian peringatan kepada masyarakat.
Baca Juga: Dukung Ekosistem Pangan, PT ABM Perseroda-Dinas Ketapang Banten Jajaki Kemitraan
“Perangkat buoy yang mengapung di laut juga rentan hilang. Selain berpotensi dimanfaatkan untuk menambatkan perahu, bagian berbahan besi pada perangkat tersebut dapat diambil karena memiliki nilai jual,” ujarnya.
Lutfi mengatakan, kehilangan komponen dapat mengganggu fungsi alat pendeteksi tsunami. Jika perangkat tidak berfungsi saat ancaman muncul, proses peringatan kepada masyarakat berpotensi terganggu.
“Kalau ada itu sampai mati, tsunami nggak terdeteksi, ya, kan rugi kita semua,” ujarnya.
Lutfi menjelaskan, ada sekira 28 unit alat peringatan dini tsunami di wilayah Banten. Sebanyak 22 unit merupakan milik BNPB, sedangkan lima unit lainnya milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia tidak merinci kepemilikan satu unit lainnya.
“Semuanya untuk mendeteksi bencana,” tandasnya.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Serang Margiono mengatakan, kehilangan komponen juga terjadi pada sirene peringatan dini tsunami milik BMKG. Komponen yang kerap hilang adalah kabel dan aki, salah satunya pada sirene yang terpasang di dekat menara BTS di Pasauran, Kabupaten Serang.
Baca Juga: Jaga Kebugaran Tubuh, Beni Ismail Akui Rutin Berolahraga
“Yang di Pasauran tuh ada sirene yang di dekat BTS. Itu sering hilang aki, kabel-kabel,” pungkasnya.
Margiono menjelaskan, kehilangan komponen terakhir diketahui sekitar tiga bulan lalu. BMKG telah mengganti kabel yang hilang. Meski nilai komponen tersebut relatif kecil, kehilangan kabel dan aki dapat menyebabkan sirene tidak berfungsi.
“Kalau itu enggak besar. Itu kan enggak besar, cuman kabel-kabel biasa saja. Kan orang yang diambil tembaganya, kadang aki,” ucapnya.
Margiono mengatakan, BMKG memantau kondisi sirene setiap hari dan menguji perangkat tersebut setiap tanggal 26 setiap bulan. Jika sirene terdeteksi tidak aktif, petugas akan memeriksa langsung ke lokasi untuk mengetahui penyebabnya.
Selain sirene, BMKG mengoperasikan dua high frequency radar (HF Radar) di Cinangka dan Tanjung Lesung untuk memantau kondisi gelombang di Selat Sunda. Kedua perangkat tersebut memiliki jangkauan sekitar 100 hingga 200 kilometer.
BMKG juga memiliki alat pengukur ketinggian muka air laut di sepanjang Pantai Labuann untuk memantau kondisi air laut ketika mencapai wilayah pantai. Perangkat pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami setelah bencana Selat Sunda pada 2018.
“Hilangnya komponen dapat mengganggu fungsi perangkat peringatan dini. Karena kalau diambil komponennya jadi enggak fungsi,” imbuhnya. (adib)





















