SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG — Menjadi relawan kemanusiaan, bukan perkara mudah. Butuh komitmen yang kuat, dan konsisten serta jiwa kemanusiaan yang tinggi. Karena, keberadaannya tidak hanya dibutuhkan saat terjadi musibah, tetapi kerap harus meninggalkan anggota keluarga tanpa mengenal waktu dan tempat.
Mardiana Tirtalaksana
Kabupaten Pandeglang
Hal itu yang dijalani Ade Mulyana, selama bertahun-tahun, sejak tahun 2006 hingga kini. Bagi pria pensiunan PNS Kabupaten Pandeglang ini, menjadi relawan kemanusiaan adalah sebuah pengabdian terhadap masyarakat dan membuka jalan silaturahmi.
Ade Mulyana (59), dikenal dengan kiprahnya sebagai Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pandeglang, yang berakhir pada tahun 2021 lalu.
Pria kelahiran Pandeglang 22 Oktober 1967 ini, mengabdi di Tagana sejak tahun 2006. Didasari dengan niat yang tulus untuk mendedikasikan waktu, tenaga dan keterampilan secara sukarela, demi membantu sesama dan lingkungan.
“Menjadi relawan kemanusiaan itu, tidak boleh diskriminasi,” tandasnya, Rabu (7/10).
Baca Juga: Ade Mulyana: Tak Berhitung Waktu, Yang Penting Masyarakat Pandeglang Dapat Air Bersih
Menurutnya, hidup ini hanya sekali maka buatlah berarti. Sebagai sebuah motto hidup, yang hingga kini dipegang teguh oleh pria berperawakan tinggi ini.
Tahun 2012 silam, Ade diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Pandeglang. Ia ditempatkan berpindah – pindah, pernah di Kesbangpol, Dinas Sosial (Dinsos), Satpol PP.
“Setelah pensiun, saya meniatkan diri untuk aktif di Perkumpulan Boedak Saung dan dipercaya untuk membina Boedak Saung Rescue (BSR), yang merupakan kelompok kecil difokuskan di sektor sosial,” tandasnya.
Selama menjadi relawan kemanusiaan, tantangan terberat adalah keluarga. Sehingga bagi Ade, ia meniatkan untuk selalu berkomunikasi dengan keluarga dimana-pun dan kapanpun.
Ketika selesai menjalani sebuah misi kemanusiaan, tambahnya, ceritakan semua yang dialami dan terjadi di lapangan kepada keluarga.
“InsyaAllah dan Alhamdulillah, perlahan keluarga juga paham dan merestui ketika kita harus ke lapangan,” pungkasnya.
Baca Juga: Resmi Mendaftar, Mumu Impikan PMI Berbasis Kerelawanan
Beberapa hal yang selama ini selalu diingatkan kepada rekan-rekan sesama relawan kemanusiaan, tambah Ade, adalah agar tetap waspada, mematuhi koordinasi terpusat, serta mengutamakan keamanan dan keselamatan diri sendiri saat menjalankan tugas lapangan.
Sejauh ini, Ade Mulyana selalu berupaya maksimal dalam menjalankan tugas lapangannya. Baik dalam membantu penanganan bencana banjir, longsor, rumah roboh, kebakaran dan jenis peristiwa musibah lainnya.
“Kita selalu dituntut untuk bergerak cepat, saat menerima informasi adanya peristiwa musibah, walaupun terkadang badan sedang kurang fit. Itu bentuk tanggungjawab terhadap diri sendiri, dan masyarakat,” tuturnya.
Ditegaskannya, banyak hikmah dan banyak pelajaran selama menjadi relawan kemanusiaan.
Ia merasa, banyak saudara-saudara di lapangan yang sewaktu-waktu dapat dimintai pertolongan. “Intinya, kita bersaudara dengan siapapun, bangun silaturahmi,” imbuhnya. (*)




















