SATELITNEWS.COM, LEBAK—Kabupaten Lebak memiliki modal budaya dan sejarah yang kuat untuk membangun identitas daerah hingga dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Masyarakat adat Baduy dan jejak sejarah Multatuli menjadi dua kekuatan yang dinilai dapat diangkat sebagai branding daerah.
Namun, hingga kini potensi tersebut belum dirangkai secara serius menjadi identitas yang kuat dan mudah dikenali masyarakat luas. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah saat menghadiri Raker dan Milad ke-7 Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Kabupaten Lebak di Garut, Jawa Barat.
Amir mengatakan, Lebak memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan pariwisata yang besar. Persoalannya, berbagai potensi tersebut belum dikemas secara konsisten sehingga belum menjadi identitas yang melekat kuat pada daerah.
“Lebak itu unik, tetapi kita belum punya branding. Menurut ahli branding, identitas daerah harus mengakar, memiliki sejarah yang kuat, DNA yang kuat, dan jiwa yang kuat,” ujar Amir, Minggu (4/10/2026). Menurut dia, branding daerah tidak cukup dibangun melalui slogan atau simbol. Identitas tersebut harus bersumber dari karakter yang benar-benar melekat pada daerah.
Amir menyebut masyarakat adat Baduy dan Multatuli sebagai dua kekuatan yang dapat menjadi pijakan dalam membangun identitas Lebak. Baduy memiliki keunikan karena hingga kini mempertahankan tradisi leluhur, sedangkan Multatuli memiliki jejak sejarah yang kuat melalui karya sastra Max Havelaar.
“Baduy hanya ada satu di dunia. Termasuk Multatuli, yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Lebak. Ini yang tidak dimiliki kabupaten lain di Banten,” katanya. Ia menilai kekayaan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai catatan sejarah atau sekadar kebanggaan budaya. Dengan strategi promosi yang tepat, Baduy dan Multatuli dapat menjadi daya tarik pariwisata sekaligus membuka peluang investasi.
Baca Juga: Kunjungi Pemkab Serang, Wakil Wali Kota Pekalongan Pelajari Rekrutmen Pegawai Non ASN
Namun, penguatan citra daerah perlu diikuti pembenahan infrastruktur. Menurut Amir, destinasi wisata akan sulit berkembang apabila akses menuju lokasi masih menjadi kendala. Di sisi lain, luas wilayah Lebak dan keterbatasan anggaran membuat pemerintah perlu menentukan prioritas pembangunan. Pengembangan destinasi, kata dia, tidak harus dilakukan secara bersamaan.
“Kita sebenarnya kalau mau fokus membangun, harus bisa memilih. Jangan semuanya karena anggarannya terbatas. Kita pilih beberapa destinasi, jangan semuanya, karena semuanya itu tidak ada uangnya,” tegasnya. Salah satu kawasan yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah Lebak Selatan. Amir menyebut akses menuju sejumlah destinasi wisata di kawasan tersebut perlu diperkuat, termasuk konektivitas dengan jalur jalan nasional.
Perbaikan akses diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga membelanjakan uangnya untuk transportasi, kuliner, penginapan, hingga produk lokal.
Karena itu, Amir mendorong kolaborasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata tidak mungkin seluruhnya dibebankan kepada APBD Kabupaten Lebak. “Kalau kita bisa memilih dan membangun yang prioritas, saya kira dampaknya akan lebih terasa. Setelah aksesnya bagus, investasi akan lebih mudah masuk,” ujarnya.
Amir mencontohkan Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai daerah yang mengembangkan identitas melalui kekuatan budaya dan pariwisata. Menurutnya, karakter lokal dapat dikembangkan menjadi daya tarik yang sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Lebak, lanjut Amir, memiliki modal serupa. Selain Baduy dan Multatuli, daerah tersebut memiliki sejumlah potensi wisata alam di wilayah utara maupun selatan yang dapat dikembangkan secara terarah. Perkembangan media sosial juga dinilai menjadi peluang promosi yang perlu dimanfaatkan. TikTok, vlog, dan berbagai platform digital memungkinkan destinasi wisata Lebak dikenal lebih luas tanpa harus mengandalkan biaya promosi konvensional dalam jumlah besar.
Baca Juga: Pemerintah Mulai Terapkan SPP-TDLN untuk Pungut PPN Transaksi Digital Luar Negeri
“Kalau orang luar membuat vlog, TikTok, atau video tentang daerah kita, berarti ada pasarnya. Ini menjadi peluang untuk mengembangkan pariwisata,” tutur Amir.
Ia berharap pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan mulai memikirkan branding Lebak secara lebih serius. Identitas daerah yang kuat, menurutnya, dapat memudahkan masyarakat luar mengenali Lebak sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Dalam kesempatan tersebut, Amir juga menyoroti peran pers dalam pembangunan daerah. Menurutnya, wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus mengawal kebijakan pemerintah. “Pers merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Kritik dan informasi dari teman-teman wartawan juga menjadi masukan bagi pemerintah,” katanya.
Sementara, Ketua DPRD Lebak Juwita Wulandari mengapresiasi pelaksanaan Milad ke-7 Pokja Wartawan Lebak. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kekompakan insan pers di Kabupaten Lebak.
Juwita juga mengingatkan wartawan agar memperhatikan kesehatan dan keselamatan saat menjalankan tugas jurnalistik. Menurutnya, pekerjaan wartawan memiliki tantangan tersendiri karena menuntut mereka bekerja di lapangan dalam berbagai kondisi. “Ketika kita diberikan umur yang panjang oleh Allah, maka manfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan,” ujar Juwita. (mulyana)



















