SATELITNEWS. COM, TANGSEL—Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi contoh mengatasi persoalan sampah yang benar dengan melakukan pengolahan. TPS3R yang berdiri sejak 2013 ini berhasil menekan jumlah sampah residu secara drastis, dari 23 amrol per bulan menjadi hanya 4 amrol, bahkan sudah kondisi zero waste.
Ketua TPS3R Perumahan Batan Indah Narto (57) bercerita, sebelum dirinya terlibat, TPS3R mencatat pembuangan hingga 23 amrol sampah per bulan, nyaris setiap hari. Dibawah komandonya pada lima tahun lalu, ia bertekad agar TPS3R harus memiliki tujuan yaitu zero waste atau tak ada sampah.
Langkah awal dilakukan dengan pembenahan manajemen dan operasional. Jumlah amrol berhasil ditekan dari 23 menjadi 16 unit. Namun angka itu masih dinilai terlalu besar karena sampah harus dibuang setiap dua hari sekali.
Perubahan signifikan terjadi setelah mendapat dukungan penuh dari pengurus RW dan RT. Awalnya, kebijakan pemilahan sampah dari rumah menuai penolakan warga. Banyak warga merasa keberatan karena sudah membayar iuran.
“Dibilang, kami sudah bayar, ngapain masih disuruh milah,” ungkap Narto menirukan protes warga pada saat itu.
Melalui pendekatan dan sosialisasi intensif ke seluruh RT, perlahan pemahaman warga berubah. Sosialisasi dilakukan kepada 22 RT dengan 1.150 kepala keluarga, atau sekitar 4.000 jiwa dalam satu RW.
Baca Juga: SIM Keliling Tangerang Selatan Senin 7 September 2026, Lokasi dan Jadwalnya
Hasil pemilahan sampah dari rumah mulai terlihat nyata. Indikator keberhasilan mencapai 80 persen. Jika sebelumnya sampah organik tercampur dan hanya menghasilkan sekitar 4-5 ember sisa nasi, kini jumlah sampah organik meningkat tajam menjadi sekitar 40 ember per hari.
Narto menjelaskan, sampah organik tersebut tetap berguna untuk diolah menjadi bubur maggot. Bahkan, produksinya melampaui kebutuhan internal. Sehingga, dalam seminggu, pihaknya mengirim sekitar 1,4 ton bubur maggot ke pabrik magot Magalarva.
“Kami malah over production, jadi dijual keluar,” kata Narto.
Ia melanjutkan, dampaknya sangat signifikan terhadap sampah residu. Dari 16 amrol, turun menjadi 10, lalu hingga tinggal 4 amrol. Bahkan sebelum adanya kebijakan larangan pembuangan sampah ke TPA Cipeucang, TPS3R Batan Indah sudah lebih dulu menghentikan pengiriman sampah ke sana.
“Kita pilah lebih keras, sekarang sudah zero waste,” tegas Narto.
Sebagai informasi, TPS3R Batan Indah melayani pengangkutan sampah setiap hari, kecuali hari Minggu. Namun sebelumnya, pengangkutan disebut Narto tidak optimal akibat armada pengangkut dalam kondisi tidak layak.
Baca Juga: Lima Pemuda Ditangkap Warga Pondok Aren, Dua Orang Bawa Celurit
Akhirnya, persoalan itu menemukan solusinya yang datang dari gotong royong warga. Melalui saweran, terkumpul dana sekitar Rp200 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli satu unit mobil pengangkut sampah. Kendaraan lama yang sering mogok kemudian dijual untuk menambah armada.
Kini, TPS3R memiliki tiga kendaraan aktif, sehingga pengangkutan sampah berjalan lancar setiap hari. Setiap hari, TPS3R mengelola 2,5 hingga 3 ton sampah, berasal dari kawasan perumahan, kos-kosan, taman jajan, hingga masjid.
Lebih lanjut Narto menyampaikan bahwa beberapa tahun silam ia kehilangan pergelangan tangan kanannya saat melakukan pekerjaan disalah satu mesin pencacah, insiden itu masih ia ingat betul.
“Ini (pergelangan tangan) hilang empat tahun lalu. Kejadiannya tidak saya sangka. Tapi itulah rencana Tuhan, dan saya tetap harus mengelola sampah untuk masa depan bumi,” tegasnya.
Dengan 13 pegawai, TPS3R Batan Indah yang memiliki luas 900 meter ini menerapkan alur pengolahan yang terstruktur. Sampah organik diturunkan lebih dulu, disusul sampah non-organik. Sampah organik disobek dari plastik, diayak, lalu digiling menjadi bubur.
Sampah non-organik dipilah menjadi plastik, kertas, kardus, botol, dan material bernilai ekonomi lainnya. Sementara residu yang tersisa diproses menggunakan insinerator.
Ke depan, dirinya berharap TPS3R Batan Indah berkembang menjadi ekosistem pengolahan terpadu. Sampah organik dimanfaatkan untuk magot, magot untuk pakan ayam dan ikan, serta hasilnya menjadi sumber pangan. Plastik diolah menjadi balok, sementara kawasan TPS3R ditanami tanaman produktif.
“Kalau bisa, sampah masuk ke sini, yang keluar bukan sampah,” katanya.
TPS3R Batan Indah kini menjadi bukti bahwa dengan komitmen, kolaborasi warga, dan konsistensi, zero waste bukan sekadar konsep, tetapi bisa diwujudkan dari tingkat perumahan. (eko)
























