SATELITNEWS.COM, LEBAK – Peningkatan kasus terduga campak di Kabupaten Lebak dalam setahun terakhir menjadi alarm serius bagi sektor kesehatan. Di tengah meningkatnya kasus, Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak justru dihadapkan pada keterbatasan pemeriksaan laboratorium.
Sepanjang 2025, Dinkes mencatat 317 kasus terduga campak, naik 23,8 persen dibanding tahun 2024 yang sebanyak 256 kasus. Kecamatan Rangkasbitung menjadi wilayah dengan temuan kasus tertinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lebak, Nining Tilawah, mengungkapkan bahwa seluruh kasus tersebut masih bersifat dugaan. Kepastian diagnosis belum bisa ditegakkan lantaran pemeriksaan spesimen serum belum dapat dilakukan.
“Baru terduga ya, belum bisa dipastikan campak karena saat ini kita belum bisa memeriksa spesimen serum, karena kekosongan reagen program di laboratorium BBLKM Jakarta,” ujarnya.
Di balik meningkatnya kasus, persoalan lama kembali mencuat: rendahnya cakupan imunisasi. Nining menyebut, penurunan imunisasi yang terjadi saat pandemi Covid-19 masih berdampak hingga saat ini.
Kondisi tersebut menyebabkan kekebalan kelompok di masyarakat melemah, sehingga penyakit seperti campak lebih mudah menyebar, terlebih dengan tingginya mobilitas warga.
“Masih ada masyarakat yang menolak anaknya diimunisasi, ditambah mobilitas masyarakat yang tinggi membuat penularan semakin cepat,” katanya.
Baca Juga: Kasus Pengeroyokan dan Penculikan Aktivis di Lebak Berakhir Damai
Menghadapi kondisi ini, Dinkes Lebak memperkuat langkah pencegahan dengan meningkatkan surveilans melalui penyelidikan epidemiologi serta mengintensifkan program imunisasi.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama terkait kewaspadaan terhadap gejala awal campak.
“Kalau ada anak dengan gejala demam, batuk, pilek, dan muncul ruam kemerahan, segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.
Dinkes juga mengingatkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta membatasi aktivitas anak yang sakit untuk mencegah penularan lebih luas.
“Untuk sementara anak sebaiknya istirahat di rumah agar tidak menularkan ke yang lain,” pungkasnya. (mulyana)
























