SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menargetkan persoalan banjir dapat dituntaskan dalam dua tahun ke depan. Salah satu strategi yang disiapkan adalah pembangunan sistem long storage atau tampungan air bawah tanah di sejumlah titik rawan.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan pihaknya telah melakukan rapat koordinasi hingga peninjauan lapangan untuk merespons kondisi banjir yang semakin kompleks akibat perubahan iklim ekstrem.
Menurut Pilar, intensitas hujan di Tangsel kini bisa berlangsung hingga dua sampai tiga hari tanpa henti, yang menyebabkan sistem drainase dan sungai tidak lagi mampu menampung debit air.
“Pemerintah kota Tangerang Selatan selama beberapa tahun sudah melakukan langkah, itu penanganan masalah sungai utamanya, peninggian turap, pemasangan beton dan normalisasi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
“Tapi itu untuk menyelesaikan aliran air yang ada di sungai. Nah ini yang sekarang kita setelah selesai itu baru penyelesaian catchment area yang ada di permukimannya,” sambungnya.
Pilar menjelaskan, banjir yang terjadi bukan hanya akibat kiriman air dari daerah lain seperti Depok dan Bogor, tetapi juga karena air di permukiman tidak dapat mengalir ke sungai saat debit sungai sedang tinggi.
Baca Juga: Perubahan APBD 2026: Pemkot Tangsel Tambah Anggaran Pendidikan, Kesehatan hingga Infrastruktur
Dalam kondisi tersebut, aliran air dari permukiman terhambat karena tidak bisa mengalir secara gravitasi ke sungai, sehingga menyebabkan genangan.
Ia menambahkan, di beberapa lokasi yang sudah dilengkapi sistem polder dan pompa air, genangan bisa surut hanya dalam waktu sekitar satu jam. Namun, titik yang belum memiliki infrastruktur tersebut masih menjadi langganan banjir.
Sebagai solusi, Pemkot Tangsel akan membangun long storage, yakni saluran air berukuran besar di bawah jalan yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara. Nantinya, air yang tertampung akan dipompa ke sungai setelah debit air menurun.
“Karena long storage itu menurut saya sangat efektif dan juga pompa air ya. Selain tandon, kalau tandon kan butuhkan lahan, lahan kosong,” ucapnya.
“Dinas Perkim dan juga Dinas Bina Marga, kita kalau membuat long storage itu atau membuat saluran air di bawah jalan itu yang besar, itu berapa harganya? Berapa kira-kira biayanya? Nah nanti kita coba sampaikan ke Pak Wali gimana skemanya,” sambung Pilar.
Saat ini, Pemkot tengah menghitung kebutuhan anggaran bersama dinas terkait, seperti Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Dinas Bina Marga.
Baca Juga: SMPN 25 Ditolak Warga, Pemkot Tangsel Tak Punya Opsi Lain
“Skema-skema penggunaan APBD supaya bisa menangani itu dalam waktu 2 tahun, ke depan bisa harus tuntas,” lanjutnya.
Ia menyebutkan, pembangunan long storage membutuhkan biaya besar karena dimensinya bisa mencapai lebar hingga 5 meter dengan panjang ratusan meter hingga satu kilometer. Meski demikian, langkah ini dinilai paling efektif dibandingkan pembangunan drainase kecil yang tidak mampu menampung air saat hujan ekstrem berlangsung lama.
Selain itu, ia juga menyoroti saluran air yang harus terintegrasi dan tidak ada penyusutan. Hal itu agar air yang mengalir tidak mengalami hambatan terlebih saat hujan deras yang berpotensi banjir.
“Ada beberapa titik kemarin saya sampaikan antara perumahan itu harusnya saling terintegrasi si salurannya. Jangan di perumahan A itu besar, di perumahan B jadi menyempit. Makanya saya menyampaikan kepada kepala dinas tolong semua pengembang perumahan jangan main-main masalah banjir,” paparnya.
Selain infrastruktur, Pemkot Tangsel juga menyoroti peran pengembang perumahan yang dinilai kerap tidak mematuhi aturan. Pilar menegaskan, pihaknya tidak akan segan memberikan sanksi kepada pengembang yang melanggar, termasuk evaluasi hingga pencabutan izin.
Ia juga meminta seluruh dinas terkait, termasuk pengawas bangunan dan Satpol PP, untuk memperketat pengawasan sejak tahap pembangunan agar pelanggaran tidak terjadi. (eko)
























