SATELITNEWS.COM,JAKARTA—Pemerintah mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada dalam koridor aman pada awal 2026, dengan defisit terjaga di bawah 1 persen PDB di tengah penguatan penerimaan dan percepatan belanja negara. Di saat yang sama, ekonomi tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026.
Hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara terealisasi Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target APBN, tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Belanja negara mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari pagu, dengan pertumbuhan 31,4 persen (yoy). Dari posisi tersebut, APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut defisit tersebut masih mencerminkan ruang fiskal yang terjaga, sekaligus peran APBN dalam menopang aktivitas ekonomi di awal tahun.
“Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Ia menambahkan, posisi defisit tersebut tetap akan dikendalikan agar berada di bawah 3 persen sesuai desain APBN sepanjang tahun.
Dari sisi penerimaan, perpajakan menjadi penopang utama dengan realisasi Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target. Angka ini tumbuh 14,2 persen (yoy), ditopang penerimaan pajak Rp394,8 triliun yang meningkat 20,7 persen, sementara kepabeanan dan cukai tercatat Rp67,9 triliun yang terkontraksi 12,6 persen.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target, yang menurut pemerintah masih stabil meski mengalami normalisasi setelah periode sebelumnya menguat.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Kantongi Pajak Daerah Rp1,012 Triliun, PBB Jadi Penyumbang Terbesar
Di sisi belanja, pemerintah mencatat akselerasi yang cukup signifikan. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp610,3 triliun, terdiri dari belanja kementerian/lembaga Rp281,2 triliun dan non-K/L Rp329,1 triliun. Transfer ke daerah (TKD) tercatat Rp204,8 triliun.
“Ini yang saya sebut pemerataan belanja sepanjang tahun,” ujar Purbaya. Dengan perkembangan tersebut, keseimbangan primer APBN tercatat defisit Rp95,8 triliun.
Di tengah kinerja fiskal itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (yoy) pada triwulan I-2026, sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang berada di 5,39 persen.
Purbaya mengaku sempat menunggu dengan cukup tegang rilis angka pertumbuhan tersebut. “Saya sempat kepikiran juga, tercapai nggak. Begitu keluar 5,61 persen, ya lega,” ujarnya.
Ia menilai capaian itu menunjukkan ekonomi Indonesia mulai bergerak lebih cepat dan keluar dari pola pertumbuhan yang selama beberapa tahun terakhir bertahan di kisaran 5 persen. “Jadi jelas kita sudah terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” kata Purbaya.
Meski demikian, ia menegaskan tantangan eksternal masih membayangi perekonomian. Pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat sektor-sektor berorientasi ekspor agar tetap kompetitif di pasar global.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Dikuliti Pakar
Di sisi eksternal, Purbaya juga mengutip penilaian lembaga internasional yang menempatkan Indonesia dalam kelompok negara dengan ketahanan ekonomi yang kuat menghadapi potensi krisis global.
Berdasarkan kajian JP Morgan, Indonesia disebut berada di posisi kedua terkuat di dunia dalam ketahanan terhadap guncangan global, di bawah Afrika Selatan, serta di atas sejumlah negara seperti China, Amerika Serikat, Australia, dan Swedia.
Ia menambahkan, kajian tersebut juga menempatkan Indonesia dalam kelompok negara dengan bantalan ekonomi kuat bersama Rusia, Arab Saudi, Brasil, Argentina, dan Turki. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) juga disebut melakukan kajian serupa, meski tidak dipublikasikan secara terbuka.
“Kalau ada krisis global, kita termasuk yang paling kuat,” ujar Purbaya.
Di sisi lain, ia menanggapi sejumlah sentimen yang mengaitkan pelemahan rupiah ke level di atas Rp17.400 per dolar AS dengan kondisi fiskal. Menurutnya, APBN tetap dalam posisi sehat dan tidak menjadi sumber tekanan.
“Orang juga banyak bilang Indonesia fiskalnya goyah, makanya rupiah melemah. Tapi kalau kita lihat, ketahanan kita masih kuat,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati dinamika global yang masih fluktuatif, termasuk dampaknya terhadap nilai tukar dan arus modal. (rmg/xan)

