SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Tangerang menetapkan 10 desa dan kelurahan di tujuh kecamatan sebagai lokus utama penanganan stunting pada 2026. Penetapan tersebut dilakukan karena faktor ekonomi dan sanitasi masih menjadi penyebab dominan tingginya kasus stunting di sejumlah wilayah.
Penetapan lokus prioritas itu mengacu pada Keputusan Bupati Tangerang Nomor 794 Tahun 2025 tentang Penetapan Desa/Kelurahan Lokus Prioritas Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem Tahun 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan kondisi ekonomi masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap pemenuhan gizi keluarga. Menurutnya, keterbatasan ekonomi membuat sebagian keluarga belum mampu menyediakan makanan bergizi bagi balita sehingga meningkatkan risiko terjadinya stunting.
“Ketika asupan makan kurang, maka pemenuhan zat gizi bagi tubuh juga tidak maksimal sehingga menyebabkan stunting. Nah, pemenuhan asupan makanan yang bergizi tentunya sangat berhubungan dengan kemampuan ekonomi masyarakat,” kata Hendra kepada Satelit News, Minggu (28/6/2026).
Berdasarkan keputusan tersebut, 10 desa yang menjadi prioritas penanganan stunting meliputi Desa Gaga dan Desa Pakuhaji di Kecamatan Pakuhaji, Desa Mekarsari dan Desa Sukatani di Kecamatan Rajeg, Desa Pangkalan dan Desa Kebon Cau di Kecamatan Teluknaga, Desa Gempolsari di Kecamatan Sepatan Timur, Desa Salembaran Jaya di Kecamatan Kosambi, Desa Cikasungka di Kecamatan Solear, serta Desa Gunung Kaler di Kecamatan Gunung Kaler.
“Jadi ada 10 desa di tujuh kecamatan, yakni Gunung Kaler, Rajeg, Teluknaga, Kosambi, Pakuhaji, Solear, dan Sepatan Timur,” ujarnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi dengan Media, Perkenalkan Layanan Digital VIOLA
Selain persoalan ekonomi, Hendra menuturkan sanitasi lingkungan yang buruk juga menjadi faktor utama penyebab stunting. Pengelolaan sampah yang tidak baik serta masih adanya kebiasaan buang air besar sembarangan menyebabkan tingginya risiko infeksi pada balita.
“Pengelolaan sampah yang kurang baik, buang air besar (BAB) sembarangan menyebabkan kondisi lingkungan menjadi buruk yang kemudian menjadi penyebab tingginya infeksi pada balita yang kemudian menjadi awal terjadinya stunting,” tuturnya.
Hendra juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil. Menurutnya, ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau anemia berisiko melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
“Bayi BBLR jika tidak ditatalaksana dengan baik dan benar juga akan menyebabkan stunting di kemudian hari,” katanya.
Meski demikian, Hendra mengungkapkan prevalensi stunting di Kabupaten Tangerang menunjukkan tren penurunan. Dibandingkan tahun 2024, angka stunting pada 2025 turun sebesar 7,3 persen.
“2024 ke 2025 mengalami penurunan 7,3 persen. Kalau 2026 nanti kita ceknya di awal 2027 mendatang,” pungkasnya. (alfian/aditya)
Baca Juga: Polresta Tangerang Gagalkan Peredaran 27 Ribu Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Dibekuk
