SATELITNEWS.COM, LEBAK–Di bawah terik matahari yang menyengat, Nuryadi (50) memanggul ember plastik berisi air menyusuri jalan setapak di kawasan hutan. Langkahnya pelan. Sesekali ia berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum kembali berjalan menuju rumahnya di Kampung Sabrang, Desa Sukrendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.
Perjalanan sejauh sekitar 1,5 kilometer itu bukan dilakukan sekali dua kali. Sejak sumur di rumahnya mengering akibat musim kemarau, pria yang akrab disapa Nung itu harus menjalani rutinitas tersebut hampir setiap hari demi memenuhi kebutuhan air bagi keluarganya. “Saya lagi ngambil air, soalnya lagi musim kemarau jadi kesusahan air,” kata Nung, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, saat musim hujan keluarganya masih bisa mengandalkan sumur yang berada di samping rumah. Namun, begitu kemarau tiba, persediaan air di sumur biasanya hanya bertahan sekitar sepekan sebelum akhirnya benar-benar kering. “Kalau musim hujan ada air di sumur. Cuma kalau kemarau seminggu saja sudah enggak ada, makanya saya ambil air ke hutan,” ujarnya.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan anak-anaknya, Nung harus bolak-balik mengambil air hingga lima kali dalam sehari. Ember yang dipanggulnya menjadi saksi perjuangan agar keluarganya tetap bisa beraktivitas seperti biasa. “Kadang sampai lima kali bolak-balik. Airnya habis buat kebutuhan di rumah. Kalau nyuci juga kadang dibawa ke sini,” tuturnya.

Meski beberapa tetangganya memiliki sumur bor maupun jet pump yang masih mengalirkan air, Nung mengaku memilih bertahan dengan usahanya sendiri. Ia merasa tidak nyaman jika harus terus-menerus meminta bantuan kepada orang lain. “Kalau minta ke tetangga saya enggak enak. Namanya juga sudah sama-sama rumah tangga,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, Nung hanya menyimpan satu harapan sederhana. Ia ingin suatu hari memiliki sumur bor sendiri agar keluarganya tak lagi harus bergantung pada mata air di dalam hutan setiap kali musim kemarau datang. “Mudah-mudahan kalau ada rezeki, saya ingin punya sumur bor seperti warga yang lain,” ucapnya penuh harap.
Baca Juga: BPBD Lebak Siaga Hadapi Kemarau, Antisipasi Karhutla
Kondisi yang dialami Nung bukanlah kasus tunggal. Musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak memicu krisis air bersih di beberapa desa. Mengeringnya sumur warga membuat kebutuhan air bersih harus dipenuhi melalui bantuan pemerintah maupun relawan.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama, mengatakan hingga saat ini peta penyaluran air bersih sudah mencapai 75 ribu kepada warga tersebar di sembilan desa di enam kecamatan. Penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan yang masuk dari pemerintah desa. Selain BPBD, distribusi air bersih juga dibantu oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak untuk menjangkau wilayah yang mengalami kekurangan air.
“Dari Sabtu kemarin kami sudah menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Lebak Asih sebanyak 18 ribu liter dan Desa Sukadaya sebanyak 12 ribu liter. Sementara permohonan lainnya masih menunggu hasil asesmen petugas di lapangan,” ujar Febby.(mulyana)




























