SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat kekeringan akibat kemarau panjang telah melanda 31 desa di 12 kecamatan. Sebanyak 8.135 kepala keluarga kini mengalami krisis air bersih.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan kekeringan telah meluas hingga ke wilayah Kecamatan Legok, Tigaraksa, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru dan Pagedangan. Dari seluruh daerah tersebut, terdapat 41 titik lokasi yang membutuhkan penanganan karena mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Dari 31 desa itu ada 41 titik lokasi. Jadi 1 desa ada yang 2 lokasi, ada yang 4 dan ada yang 1,” kata Achmad Taufik kepada Satelit News, Kamis (30/7).
Menyusul meluasnya dampak kekeringan, kata Taufik, pihaknya tengah menyiapkan penetapan status siaga bencana kekeringan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat koordinasi penanganan sekaligus membuka keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta.
“Nanti kita akan buatkan dulu status siaga bencana kekeringan,” jelasnya.
Selain itu, Taufik mengatakan, BPBD Kabupaten Tangerang juga terus berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja, Dinas Perumahan dan Permukiman, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang guna mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan.
Baca Juga: Maulidur Rasul Fest 1448 H di Citra Raya, Perkuat Masjid sebagai Pusat Peradaban
Katanya, BPBD juga terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Apabila kondisi kekeringan semakin meluas dan faktor atmosfer mendukung, pemerintah membuka peluang untuk mengusulkan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah mitigasi.
“Sampai sementara ini kita sudah apa namanya, masih cukup membantu, tapi melihat ini kondisi hujan belum turun, pasti saya minta mencari terobosan,” katanya.
Plt Kepala Bidang Sarana pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Sahri menambahkan, bahwa sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan terkait lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Kecuali, lahan sawah yang mengandalkan air hujan.
“Kalau sawah yang menggunakan drainase, selama ini belum ada laporan, “katanya.
Lanjut Sahri, pihak DPKP juga sebelumnya telah melakukan antisipasi kekeringan akibat kemarau panjang, seperti memperbaiki drainase, membuatkan saluran pipa pengairan sawah, dengan pompa air, sehingga kekeringan sawah dapat diantisipasi. Sementara, untuk sawah yang mengandalkan air hujan, dilakukan antisipasi dengan cara panen lebih awal.
“Kalau untuk sawah tadah hujan, diantisipasi dengan cara penanaman lebih awal, dan panen lebih awal, sehingga ketika kemarau tiba sawah sudah tidak dalam kondisi tanam, ” katanya. (alfian)
Baca Juga: Hujan Tak Kunjung Turun, 300 KK di Sodong Tigaraksa Krisis Air Bersih


















