SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Memasuki RW 06 Perumahan Puri Dewata Indah, Kelurahan Poris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, pengunjung seolah berjalan di bawah atap raksasa berwarna merah dan putih. Sebuah bendera sepanjang 400 meter membentang menutupi ruas jalan lingkungan, menghadirkan suasana berbeda dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pantauan SatelitNews.Com, Selasa (4/8/2026), bentangan bendera tersebut disangga puluhan tiang bambu yang dipasang berjajar di sisi jalan. Selain memperindah kawasan permukiman, hamparan kain itu juga membuat jalan terasa lebih teduh meski matahari sedang terik.
Saat malam tiba, suasana berubah semakin semarak. Lampu-lampu hias yang dipasang di sepanjang bambu penyangga menyala bergantian, menciptakan lorong cahaya bernuansa merah putih. Di pintu masuk kawasan, berdiri gapura unik berbahan galon bekas air mineral yang menjadi penanda sekaligus daya tarik bagi warga maupun pengunjung.
Dekorasi tersebut menjadi pusat perhatian masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Banyak warga yang sengaja datang untuk berfoto maupun sekadar menikmati suasana perayaan kemerdekaan yang dikemas berbeda dibanding lingkungan permukiman pada umumnya.
Kemeriahan itu bukan hanya terlihat dari hiasan yang memenuhi jalan. Pengurus RW 06 juga mempertahankan tradisi menggelar upacara bendera setiap 17 Agustus yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Dalam upacara tersebut, peserta tidak selalu mengenakan pakaian formal. Warga justru didorong tampil menggunakan beragam busana, mulai dari seragam sekolah tempo dulu hingga pakaian adat dari berbagai daerah seperti kebaya, kain ulos, dan busana tradisional Nusantara lainnya.
Baca Juga: HUT RI ke-81, 569 Warga Binaan Rutan Tangerang Terima Remisi
Seluruh dekorasi dan rangkaian kegiatan tersebut dibangun melalui semangat gotong royong. Pendanaannya berasal dari dana pengelolaan lingkungan (IPL) serta sumbangan sukarela warga tanpa adanya pungutan khusus. Salah seorang warga, Mukhtar (45), mengatakan ide membangun lorong Merah Putih berawal dari gagasan Ketua RW 06 yang kemudian mendapat dukungan penuh dari pengurus RT dan masyarakat.
Menurut dia, kain untuk bendera sebenarnya telah dipersiapkan sejak beberapa waktu lalu. Namun, proses penyambungan hingga pemasangannya baru dapat direalisasikan pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini. “Kain bendera sepanjang 400 meter itu sebenarnya sudah disiapkan sejak lama. Baru tahun ini konsep penyambungannya bisa direalisasikan,” ujar Mukhtar.
Ia menuturkan, proses penyambungan kain merah dan putih bahkan dikerjakan langsung oleh istri Ketua RW. “Yang menjahit bendera ini sebagian dijahit sendiri sama Bu RW. Sambungan merah-putih itu beliau yang mengerjakan. Lumayan besar usahanya,” katanya. Menurut Mukhtar, keberadaan bendera raksasa tersebut tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi aktivitas warga sehari-hari. Jalan yang biasanya terpapar sinar matahari kini terasa lebih sejuk karena tertutup bentangan kain.
“Alhamdulillah, selama panas ini malah jadi adem. Benar-benar menutup terik matahari, jadi kalau siang masih nyaman jalan di bawahnya,” ujarnya. Ia menambahkan, semangat menghias kampung juga dilandasi keinginan menghidupkan kembali suasana perayaan 17 Agustus seperti yang pernah mereka rasakan saat kecil.
“Saya sama Pak RW sama-sama generasi milenial. Kami ingin mengulang suasana Agustusan zaman dulu yang meriah. Makanya dibuat lomba anak-anak, lomba bapak-bapak, sampai pawai supaya warga kembali berkumpul,” tuturnya.
Sementara, warga lainnya, Hamdani (45), menjelaskan bahwa gapura berbahan galon bekas merupakan bagian dari upaya memanfaatkan limbah yang masih memiliki nilai guna. Menurut dia, ide tersebut muncul karena RW 06 selama ini aktif mengelola Bank Sampah dan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.
Baca Juga: HUT RI ke-81, Warga Alang Besar Desa Kebon Cau Tangerang Bersihkan Lingkungan
“Kami kebetulan aktif di bidang lingkungan hidup dan punya Bank Sampah. Dari situ muncul ide memanfaatkan galon-galon bekas menjadi gapura. Jadi bukan hanya menarik dilihat, tetapi juga mengajak warga memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai,” kata Hamdani.
Bagi warga RW 06, rangkaian dekorasi menyambut Hari Kemerdekaan bukan sekadar mempercantik lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas perayaan 17 Agustus di tingkat kampung.
Sementara Ketua RW 06, Momon Simon (45), mengatakan, gagasan membuat bendera raksasa hingga gapura dari galon bekas lahir dari kegelisahannya melihat kawasan tempat tinggalnya selama bertahun-tahun hanya dikenal sebagai “kompleks di dekat perumahan lain”.
Menurut Momon, ketika ditanya alamat rumah, warga kerap harus menyebut nama kompleks lain yang lebih dikenal masyarakat. Kondisi itu, menurutnya, membuat Puri Dewata Indah seolah tidak memiliki identitas. “Dulu Puri Dewata Indah ini tidak ada yang tahu. Kalau ditanya orang tinggal di mana, jawabnya di dekat kompleks sebelah yang jalannya jelek. Jadi yang jeleknya malah ikut terbawa,” ujar Momon Selasa (4/8/2026).
Sejak dipercaya menjadi Ketua RW pada 2022, ia bertekad mengubah keadaan tersebut. Bukan melalui proyek besar, melainkan dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang membuat orang mengenal wilayahnya. “Begitu saya jadi RW periode pertama, saya ingin Puri Dewata Indah ini lepas dari stigma itu. Makanya saya memilih cara yang mungkin dianggap lebih nekat supaya wilayah ini punya ciri khas dan dikenal orang,” katanya.
Tekad itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai program lingkungan. Mulai dari pengelolaan bank sampah, penataan kawasan, hingga menghias kampung setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Bagi Momon, sebuah gagasan tidak boleh terlalu lama berhenti di atas kertas. Ia mengaku lebih memilih bergerak cepat begitu sebuah ide muncul.
“Saya selalu bilang ke warga, kalau mau dipimpin sama saya, siap-siap ikut ‘pe’a’ atau nekat. Saya kalau punya ide tidak pernah menunggu lama. Insting saja, langsung dikerjakan. Alhamdulillah pengurus RT dan warga selalu mendukung,”ujarnya. Prinsip itulah yang melahirkan bendera Merah Putih sepanjang 400 meter dengan lebar tiga meter. Meski tidak memiliki anggaran besar, Momon tetap merealisasikan idenya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Pada Kamis (30/7/2026) pagi, ia membeli kain. Sore harinya bahan tiba di rumah dan langsung dijahit oleh istrinya yang memiliki latar belakang sebagai desainer. Dalam waktu sekitar tiga jam, potongan-potongan kain berhasil disambung hingga mencapai panjang 400 meter. “Untuk bendera ini cuma butuh waktu sekitar 20 jam dari mulai saya beli. Hari Kamis saya beli, sore sampai rumah, langsung istri saya jahit sampai 400 meter. Malam itu juga langsung kami pasang,” tutur Momon.
Semangat swadaya juga terlihat pada material yang digunakan. Tiang penyangga memanfaatkan bambu bekas pembangunan rumah warga, sedangkan gapura dibuat dari galon air mineral bekas yang dikumpulkan melalui program Bank Sampah RW 06. Menurut Momon, keterbatasan anggaran justru menjadi tantangan untuk berinovasi. Ia meyakini, pembangunan lingkungan tidak selalu bergantung pada besarnya dana yang dimiliki.
“Tipsnya cuma satu, ada kemauan dan berani menjalankan. Jangan dulu melihat kas RT atau RW. Kerjakan yang baik dulu. Kalau warga melihat hasilnya, mereka biasanya akan ikut membantu, bahkan menyumbang dengan sukarela,”katanya. Pendekatan itu, lanjut Momon, terbukti mampu menumbuhkan partisipasi masyarakat. Warga bergotong royong mulai dari menyiapkan material, memasang bambu, menghias lingkungan hingga merawat dekorasi yang telah berdiri.
Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh melalui perayaan Hari Kemerdekaan tidak berhenti setelah peringatan 17 Agustus usai. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kepedulian warga terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan rasa cinta Tanah Air, terutama di kalangan generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna. “Kalau lingkungan hidup karena warganya kompak, itu jauh lebih berharga daripada sekadar dekorasi yang bagus. Saya ingin semangat gotong royong itu yang terus diwariskan kepada anak-anak muda di sini,” ujar Momon. (ari)



















