SATELITNEWS.COM, SERANG—Penyebaran Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Banten kini mengalami lonjakan kasus yang sangat signifikan. Tak tanggung-tanggung, kasus yang menyerang saluran pernapasan ini melonjak hampir 3 kali lipat dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, secara keseluruhan, total kasus ISPA pada tahun 2026 mencapai 1.939.656 kasus. Angka ini meningkat tajam dari tahun 2025 yang tercatat hanya sebanyak 745.797 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Astuti menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem saat kemarau menjadi salah satu faktor utama yang memicu penurunan daya tahan tubuh masyarakat, sehingga sangat rentan terpapar penyakit pernapasan. Oleh karena itu, Ati mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan Infeksi yang menyerang saluran pernapasan tersebut.
“Kasusnya memang sedang meningkat. Karena di musim kemarau panjang, apalagi saat ini bagaimana masyarakat dengan kemarau gampang, rentan untuk mereka daya tahan tubuhnya rendah, maka kasus ISPA saat ini di setiap puskesmas mengalami peningkatan,” ujar Kadinkes saat dikonfirmasi, Kamis (6/8).
Adapun secara rinci, Dinkes Banten mencatat, Kabupaten Tangerang menjadi daerah dengan kasus ISPA tertinggi di tingkat daerah dengan 228.302 kasus ISPA pada tahun 2025 dan melonjak menjadi 521.265 kasus pada tahun 2026. Disusul Kabupaten Serang dengan 322.255 kasus ISPA pada tahun 2026 yang meningkat pesat dari tahun 2025 yang tercatat sebanyak 110.368 kasus ISPA.
Kemudian, Kabupaten Lebak menjadi penyumbang terbesar ke tiga kasus ISPA di Banten setelah mengalami peningkatan signifikan yakni sebesar 244.314 kasus pada tahun 2026 setelah sebelumnya hanya terdapat 48.294 kasus ISPA pada tahun 2025 atau meningkat sebesar 4 kali lipat.
Baca Juga: Dari Banten dan Jakarta, 123 Napi High Risk Dibawa ke Nusakambangan
Kemudian, Kabupaten Pandeglang tercatat 111.138 kasus ISPA pada tahun 2025 dan naik menjadi 236.345 kasus pada tahun 2026. Di Kota Tangerang, tercatat sebanyak 98.042 kasus ISPA pada tahun 2025, lalu naik menjadi 208.586 kasus pada tahun 2026. Sementara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tercatat sebanyak 64.338 kasus ISPA pada tahun 2025 dan melonjak menjadi 201.574 kasus pada tahun 2026.
Selanjutnya, di Kota Cilegon masyarakat yang terjangkit ISPA sebanyak 48.943 kasus pada tahun 2025, yang juga meningkat menjadi 118.101 kasus pada tahun 2026. Terakhir, Kota Serang tercatat sebanyak 36.372 kasus ISPA pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 87.216 kasus pada tahun 2026.
“Peningkatannya hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya, ya,” tegas Ati.
Menyikapi tren kenaikan ini, Dinkes Banten menekankan pentingnya langkah pencegahan mandiri dari tingkat individu. Masyarakat diseru untuk secara konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari guna menekan risiko penularan ISPA lebih luas.
“Dan tentunya, bagaimana upaya setiap orang, individu agar terbebas dari ISPA. Dia harus mampu melakukan perilaku hidup sehat. Selalu senantiasa cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas, kemudian juga dia harus cukup istirahat, aktivitas fisik, olahraga, dan konsumsi makan bergizi dan minum
banyak air putih,” tegasnya.
Kepala Dinkes Kabupaten Serang, Efrizal mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare yang rawan meningkat selama musim kemarau. Sebab, perubahan cuaca yang cenderung kering dan berdebu dapat memicu meningkatnya kasus ISPA dan keterbatasan air bersih juga berpotensi menyebabkan meningkatnya kasus diare.
Baca Juga: Kasus Kandang Ayam di Ciputat Tak Kunjung Tuntas, Warga Kirimkan Somasi
“Saat kemarau kualitas udara tidak begitu baik lalu ada kekeringan, biasanya sumber air berkurang, apalagi air tanah menjadi surut dan kotor bisa menimbulkan diare, dan udara yang kotor juga bisa menimbulkan ISPA perlu diwaspadai,” katanya.
Efrizal mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk bisa meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ISPA dan diare, serta memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan penyakit selama musim kemarau. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan angka kasus ISPA dan diare tahun ini dapat ditekan, serta kesehatan masyarakat tetap terjaga selama musim kemarau.
“Saya belum cek apakah ada peningkatan kasus terhadap ISPA dan diare atau tidak, yang pasti kita akan lakukan upaya pencegahan, supaya ISPA dan diare bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk, pilek, sesak napas, atau diare berkepanjangan, kata Efrizal, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Jangan sampai ketika sudah sakit parah baru datang ke puskesmas atau rumah sakit, harusnya jika dirasa ada gejala-gejala ISPA dan diare tentu langsung bawa ke fasilitas kesehatan,” tuturnya. (mpd/rmg)



















