SATELITNEWS.COM, SERANG–-Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di Provinsi Banten. Berdasarkan data Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten hingga 7 Agustus 2026, sedikitnya 2.518 hektare tanaman padi terdampak kekeringan.
Dari luasan tersebut, sebanyak 1.338 hektare masuk kategori kerusakan ringan, 591 hektare kerusakan sedang, 366 hektare kerusakan berat, dan 223,75 hektare dinyatakan puso. Selain lahan yang mengalami kerusakan, Distan Banten mencatat 278 hektare lahan telah pulih dan 730 hektare sudah dipanen.
Sementara itu, sebanyak 629 hektare lainnya masih berada dalam kondisi terancam.
Sekretaris Distan Provinsi Banten, Saiful Bahri Maemun, mengatakan kondisi kekeringan masih terus dipantau melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan. Berdasarkan hasil monitoring, kekeringan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya tidak adanya hujan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, ketiadaan sumber air, sumber air yang mulai mengering, serta lokasi sumber air yang cukup jauh dari lahan sehingga menyulitkan proses pompanisasi. Kondisi tersebut tersebar di 57 kecamatan yang mencakup 149 desa/kelurahan di empat kabupaten dan satu kota di Banten.
Kabupaten Serang menjadi wilayah dengan luas lahan terdampak paling besar, yakni mencapai 976 hektare. Dari jumlah tersebut, 133 hektare mengalami puso, 234 hektare pulih, 99 hektare telah dipanen, sedangkan 279 hektare masuk kategori terancam.
Selanjutnya Kabupaten Pandeglang mencatat 811 hektare terdampak kekeringan. Rinciannya, tiga hektare puso, lima hektare pulih, 590 hektare telah dipanen dan 348 hektare masih terancam.
Di Kabupaten Tangerang, total lahan terdampak mencapai 379,75 hektare, dengan 75,75 hektare mengalami puso, 17 hektare pulih dan 41 hektare telah dipanen.
Baca Juga: Sudah Bertemu Kadin, Mentan Siap Distribusikan Benih dan Bibit Unggul
Sementara Kabupaten Lebak mencatat 315 hektare terdampak. Sebanyak 14 hektare di antaranya telah pulih dan dua hektare berada dalam kondisi terancam.
Adapun di Kota Serang, kekeringan berdampak terhadap 37 hektare lahan. Sebanyak 12 hektare dinyatakan puso dan delapan hektare telah pulih.
Saiful mengatakan, koordinasi di tingkat lapangan bersama petugas dan instansi terkait terus ditingkatkan guna menekan dampak kekeringan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pompanisasi pada wilayah yang masih memungkinkan mendapatkan sumber air.
Selain itu, Distan juga melakukan koordinasi dengan pihak perbenihan untuk memastikan ketersediaan benih sebagai langkah antisipasi terhadap lahan yang mengalami puso.
“Jika tidak ada hujan dan tidak ada penanganan kekeringan, kemungkinan keadaan puso akan bertambah,” kata Saeful.
Dalam laporan tersebut disebutkan, sejumlah lahan telah mengalami pemulihan akibat hujan dan pompanisasi. Namun, kondisi kekeringan masih dalam pantauan dan pengamatan POPT.
Baca Juga: Menakar Peta Jalan Operasional: Jembatani Disparitas Ketahanan Pangan Banten Unggul Berdaulat
Distan Banten juga telah menerima laporan bantuan benih untuk lokasi yang mengalami puso, khususnya di Kecamatan Jawilan dan Kopo, Kabupaten Serang.
“Kita lihat dua minggu lagi, karena disitu ada yang ringin, berat dan sedang,” jelasnya.
Selain penanganan kekeringan di lapangan, Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kerugian petani. Salah satunya melalui penggunaan bibit unggul yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi potensi dampak kekeringan terhadap tanaman padi.
“Kita antisipasi dengan penggunaan bibit yang unggul yang rentan dengan kekeringan,” ujar Saiful.
Selain penggunaan bibit, Distan juga mengandalkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai perlindungan bagi petani apabila mengalami kerugian akibat gagal panen.
“Dan untuk mengantisipasi kerugian petani kita ada asuransi AUTP,” katanya.
Menurut Saiful, pada tahun ini Pemprov Banten menganggarkan kepesertaan AUTP untuk lahan seluas 1.800 hektare. Dari target tersebut, sekitar 1.500 hektare telah mengajukan kepesertaan.
“Tahun ini kita menganggarkan 1.800 hektare. Yang sudah mengajukan sekitar 1.500 hektare,” tandasnya. (myu/rmg)



















