SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Nyeri sendi berulang pada usia muda jangan selalu dianggap akibat kelelahan atau aktivitas berlebih. Jika berlangsung lama, disertai pembengkakan dan kekakuan terutama pada pagi hari, keluhan tersebut bisa menjadi tanda Rheumatoid Arthritis (RA), penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, FACR, mengatakan penyakit reumatik mencakup lebih dari 80 jenis penyakit, mulai dari gout dan osteoarthritis hingga penyakit autoimun seperti RA dan lupus.
“Nyeri sendi yang berkepanjangan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa. Kita perlu mengetahui penyebabnya karena setiap penyakit memiliki penanganan yang berbeda,” ujar Sandra saat sesi temu media, Rabu (12/8/2026) di kawasan Lippo Village, Kabupaten Tangerang.
Salah satu pola yang perlu diwaspadai pada RA adalah nyeri dan kekakuan pada tangan, terutama jari dan pergelangan tangan. Kekakuan biasanya lebih terasa pada pagi hari dan membaik setelah tubuh mulai bergerak. Jari juga dapat terasa bengkak hingga cincin menjadi lebih ketat.
Menurut Sandra, pasien kerap datang setelah lama mengalami keluhan karena menganggap nyeri masih dapat ditahan. Padahal, peradangan RA yang terus berlangsung dapat menyebar ke lebih banyak sendi, termasuk lutut, bahu, siku, dan pergelangan kaki. Jika terlambat ditangani, kerusakan sendi dapat menyebabkan perubahan bentuk hingga kecacatan permanen.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan hanya mengandalkan obat penghilang nyeri. Obat tersebut dapat meredakan gejala sementara, tetapi tidak mengatasi penyebab penyakit. Penggunaan obat tradisional yang tidak jelas kandungan dan keamanannya juga perlu diwaspadai karena dapat mengandung kortikosteroid atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang berisiko menimbulkan efek samping.
Baca Juga: Kecepatan Penanganan Jadi Penentu Keselamatan Pasien Aorta Kompleks
Diagnosis RA pun tidak dapat ditentukan hanya dari satu gejala atau pemeriksaan laboratorium. Dokter akan mempertimbangkan riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti Rheumatoid Factor (RF), Anti-Citrullinated Protein Antibody (ACPA/anti-CCP), dan pencitraan bila diperlukan.
Sandra menegaskan, hasil RF negatif tidak otomatis berarti seseorang terbebas dari RA karena terdapat kondisi Rheumatoid Arthritis seronegative. Diagnosis harus berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dokter, dan pemeriksaan penunjang.
Deteksi dini menjadi penting karena terapi yang tepat dapat membantu mengendalikan penyakit, mempertahankan fungsi sendi, dan mencegah kerusakan permanen. Pengelolaan RA juga dapat mencakup pengaturan pola makan, menjaga berat badan, istirahat cukup, pengelolaan stres, serta olahraga sesuai kondisi pasien.
Masyarakat disarankan segera berkonsultasi apabila mengalami nyeri sendi menetap atau berulang, terutama jika disertai pembengkakan, kekakuan pagi hari, keterbatasan gerak, atau keluhan pada beberapa sendi sekaligus. “Jangan menunggu sampai bentuk sendi berubah atau aktivitas sehari-hari terganggu. Cari tahu penyebab nyeri sendi sejak awal. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mencegah kerusakan sendi dan menjaga kualitas hidup,” pungkas Sandra. (made)

















