SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Harga beras premium melonjak 10,52 persen pada September 2026 dibandingkan setahun sebelumnya. Kenaikan harga juga terjadi di tingkat grosir hingga eceran, di tengah inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan harga beras berlanjut di sepanjang rantai distribusi, dari hulu hingga hilir, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Secara rata-rata, harga beras di tingkat penggilingan naik 6,04 persen secara tahunan dan 0,81 persen secara bulanan.
Berdasarkan kualitas, beras premium mencatat kenaikan tahunan 10,52 persen, sedangkan beras medium naik 4,72 persen. Secara bulanan, harga premium meningkat 0,81 persen dan medium 0,87 persen.
“Kalau kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, untuk beras premium naik secara month-to-month-nya 0,81 persen, dan beras premium secara year-on-year-nya naik 10,52 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis BPS, Kamis (1/10/2026).
Kenaikan harga juga tercatat di tingkat grosir dan eceran. Inflasi beras di tingkat grosir mencapai 0,61 persen secara bulanan dan 4,93 persen secara tahunan. Di tingkat eceran, masing-masing mencapai 0,80 persen dan 3,73 persen.
Secara nominal, rata-rata harga beras pada September mencapai Rp14.329 per kilogram di tingkat penggilingan, Rp14.992 per kilogram di tingkat grosir, dan Rp15.769 per kilogram di tingkat eceran.
Baca Juga: Beras Ilegal Bikin Kesal 2 Menteri, Rp27,3 Miliar Barang Selundupan Ditindak
Data harga rata-rata beras tersebut mencakup seluruh wilayah Indonesia. BPS menyebutnya sebagai indikator komposit yang mencakup berbagai kualitas beras.
Di tengah kenaikan harga di sepanjang rantai distribusi, perkembangan produksi dari sisi hulu menunjukkan arah berbeda. BPS memperkirakan produksi beras September-November 2026 hanya mencapai 7,06 juta ton, turun 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Potensi produksi tersebut berasal dari perkiraan produksi padi sebesar 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG). Luas panen diperkirakan mencapai 2,23 juta hektare, turun 12,97 persen secara tahunan, sedangkan produksi padi diproyeksikan turun 11,96 persen.
Perkiraan tersebut mengikuti penurunan realisasi panen pada Agustus. Luas panen padi mencapai 1,08 juta hektare, turun 2,83 persen dibandingkan Agustus 2025. Produksi padi turun 2,94 persen menjadi 5,46 juta ton GKG, sementara produksi beras mencapai 3,15 juta ton atau turun 2,90 persen.
Meski demikian, secara kumulatif luas panen Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, masih naik tipis 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi petani, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September mencapai 131,11, naik 1,49 persen dibandingkan Agustus. Kenaikan tersebut dipengaruhi indeks harga yang diterima petani yang meningkat 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,44 persen.
Baca Juga: Beras Langka di Pasar Modern, Pemerintah Gelontorkan 110 Ribu Ton
Di tengah kenaikan harga pangan, inflasi September tercatat 0,30 persen secara bulanan, 3,28 persen secara tahunan, dan 2,17 persen sepanjang tahun kalender. Angka tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang sebesar 2,65 persen.
“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahun ini utamanya didorong oleh tiga kelompok,” kata Ateng.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 4,37 persen dengan andil terbesar, 1,28 persen. Selain beras, tekanan berasal dari ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan daging sapi.
Tekanan juga datang dari transportasi yang mengalami inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 7,77 persen dengan andil 0,53 persen, terutama akibat kenaikan harga emas perhiasan.
Tekanan harga terjadi di hampir seluruh wilayah pada September. Sebanyak 36 dari 38 provinsi mengalami inflasi secara bulanan, sedangkan dua provinsi mengalami deflasi. Sulawesi Utara mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 3,53 persen, sedangkan Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi terdalam, 0,35 persen.
Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi. Sulawesi Utara mencatat angka tertinggi, 7,59 persen, sedangkan Sumatera Selatan terendah dengan 2,55 persen.
Berdasarkan komponen, inflasi inti mencapai 2,84 persen dengan andil 1,82 persen. Komponen bergejolak mencatat inflasi 5,03 persen dengan andil 0,83 persen, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,25 persen dengan andil 0,63 persen.
Di sektor pangan lain, produksi jagung justru meningkat. Luas panen jagung pada Agustus mencapai 0,29 juta hektare, naik 23,60 persen dibandingkan Agustus 2025. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 1,74 juta ton, meningkat 24,81 persen. Secara kumulatif Januari-Agustus, produksinya mencapai 11,86 juta ton, naik 3,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (rmg)



















