SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Krisis air bersih kembali menjadi persoalan bagi SDN Kademangan 02, Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Setiap musim kemarau, sekolah harus berulang kali menghadapi kesulitan air hingga mengandalkan distribusi air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Wakil Kepala SDN Kademangan 02, Jumaroh mengatakan persoalan tersebut bukan hanya terjadi sekali. Ketika kemarau berlangsung, ketersediaan air di sekolah kerap menipis bahkan habis, sehingga aktivitas siswa dan guru ikut terganggu.
“Iya kalau pas kemarau (krisis air). Kalau tidak kemarau tidak, paling ya rusak-rusak mesin aja,” ujarnya saat ditemui, Rabu (12/8).
Menurut dia, kondisi berbeda memang terjadi ketika musim hujan. Persoalan air biasanya hanya muncul ketika mesin mengalami kerusakan. Namun, pada musim kemarau, sekolah harus menghadapi persoalan ketersediaan sumber air yang lebih serius.
Jumaroh menuturkan, pada Senin (10/8) lalu BPBD sempat mengirimkan bantuan air ke sekolah. Namun, sebelum distribusi tersebut datang, kondisi toren sekolah sudah kosong sejak siang hari.
“Itu pun sudah siang ya enggak ada air tuh, toren sudah kosong, saya pun salatnya pulang,” katanya.
Baca Juga: U-Turn Rawabuntu Mulai Diuji Coba, Titik Bisa Berubah Tergantung Hasil Evaluasi 3 Hari
Saat ini, air bantuan tersebut masih tersisa lantaran belum seluruhnya digunakan. Pihak sekolah berupaya menghemat pemakaian dengan menggunakan air seperlunya sambil menunggu pasokan berikutnya. Namun, kondisi tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan. Jumaroh berharap ada solusi yang lebih permanen agar sekolah tidak terus bergantung pada bantuan air setiap kali kemarau datang.
“Mungkin kalau ada solusi ya bagaimana enaknya mah, kalau punya solusi, menampung juga kan aspirasi,” jelasnya.
Kebutuhan air menjadi persoalan penting karena sekolah harus menyediakan fasilitas sanitasi bagi ratusan siswa. Ketika persediaan air habis, siswa bahkan sempat diminta menggunakan fasilitas rumah teman yang lokasinya berada di sekitar sekolah.
“Sempat minggu kemarin juga enggak ada air ya, sehari apa berapa hari ya, itu anak-anak kita sarankan ke tempat temannya yang rumahnya dekat, numpang,” katanya.
Menurut Jumaroh, kondisi tersebut tentu tidak ideal. Sebab, kebutuhan air tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk keperluan toilet siswa dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
“Gimana sih, pak, kalau misalkan toilet anak sudah kebelet namanya butuhnya juga ada yang BAB, ada yang kencing, ini kan jadi tempat penyakit ini,” paparnya.
Baca Juga: Menteri PPPA Kecam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Siswa di Tangsel
Ia menjelaskan, sekolah sebenarnya telah memiliki fasilitas penampungan air. Sebelumnya, jaringan air pernah dibantu oleh PDAM bersama masyarakat sekitar. Akan tetapi, ketersediaan air belum mampu menjamin kebutuhan sekolah ketika musim kemarau.
Selain persoalan sumber air, mesin pompa di sekolah juga kerap mengalami kerusakan. Jumaroh menyebut kondisi tersebut dipengaruhi usia mesin serta kualitas air yang diduga memiliki kandungan zat besi cukup tinggi.
Kerusakan mesin tersebut membuat persoalan air semakin berulang. Ketika mesin diperbaiki, pasokan air kembali tersedia. Namun, saat kemarau panjang, sumber air kembali menurun dan sekolah harus mencari alternatif lain.
Jumaroh menceritakan, kondisi itu bahkan pernah membuat pihak sekolah meminta para siswa membawa air dari rumah. Air yang dibawa menggunakan botol kemudian dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Kini, sekolah berharap pemerintah dapat mencari solusi jangka panjang, baik melalui perbaikan sistem penyediaan air maupun pembangunan sarana yang mampu menjamin ketersediaan air sepanjang tahun. Bagi pihak sekolah, distribusi air dari BPBD memang membantu ketika kondisi darurat. Namun, bantuan tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau.
Diketahui, wilayah di Kecamatan Setu khususnya Kelurahan Kademangan memang tengah mengalami kekeringan. Kondisi itu juga dialami masyarakat yang mengharuskan meminta distribusi air dari pemerintah daerah nyaris setiap hari.
Komandan Pleton Satuan Tugas BPBD Kota Tangsel, Dian Wiryawan mengatakan pihaknya mencatat sedikitnya 13 titik kekeringan tersebar di sejumlah wilayah, termasuk SDN Kademangan 02. Angka itu tercatat sejak awal Juli hingga 10 Agustus 2026.
“Hari ini kami tetap mendistribusikan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan untuk keperluan sehari-hari. Titik pendistribusian masih di wilayah Kademangan,” ucapnya.
Secara keseluruhan, BPBD mencatat sebanyak 317 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk, terdapat sekitar 1.674 jiwa yang mengalami dampak kekurangan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD melakukan distribusi air bersih secara rutin ke lokasi-lokasi yang terdampak. Dalam sehari, petugas rata-rata mengirimkan air ke enam titik dengan volume sekitar 20 ribu hingga 30 ribu liter, menyesuaikan permintaan dan kebutuhan masyarakat. (eko)


















