SATELITNEWS.COM, SERANG — Mata merah, berair, gatal, atau terasa tidak nyaman kerap dianggap sebagai keluhan ringan. Tak sedikit orang memilih membeli obat tetes mata di apotek dengan harapan kondisi segera membaik.
Padahal, tidak semua mata merah disebabkan kondisi yang sama sehingga penanganannya pun tidak dapat disamaratakan.
Salah satu penyebab paling umum mata merah adalah konjungtivitis, yakni peradangan pada konjungtiva, selaput tipis dan transparan yang melapisi bagian putih bola mata serta permukaan dalam kelopak mata.
Konjungtivitis dapat disebabkan infeksi bakteri, infeksi virus, reaksi alergi, maupun iritasi akibat bahan kimia dan lingkungan. Masing-masing penyebab memiliki karakteristik dan membutuhkan penanganan berbeda.
Dokter Spesialis Mata Bethsaida Hospital Serang, dr. Rina Wulandari, Sp.M, M.Ked.Klin, mengatakan salah satu kesalahan yang kerap ditemui adalah penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid tanpa resep dokter. Padahal, mata merah yang dialami pasien bisa saja disebabkan kondisi yang lebih serius.
Selain penggunaan obat secara sembarangan, sebagian pasien juga mencoba pengobatan menggunakan air sirih atau bahan herbal lainnya.
Baca Juga: Empat Layanan Medis Spesialis Berstandar Modern Hadir di Serang
“Hal ini justru bisa memperparah keadaan penyakit dan bisa berakibat hilangnya penglihatan secara permanen. Mengetahui sebab mata merah yang dialami adalah kunci penanganan yang benar,” jelas dr. Rina.
Kenali Gejalanya
Konjungtivitis terjadi ketika pembuluh darah pada konjungtiva melebar akibat peradangan. Kondisi tersebut membuat mata tampak merah atau merah muda, yang dapat disertai rasa gatal, berair, maupun keluarnya kotoran mata.
Penanganannya bergantung pada penyebabnya. Sebagian kasus dapat membaik dengan sendirinya, sementara kasus lainnya memerlukan pemeriksaan dan terapi medis.
Karena itu, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan apabila mata merah disertai nyeri yang signifikan, penglihatan buram atau kabur, sangat sensitif terhadap cahaya, serta keluarnya kotoran mata secara berlebihan.
Pemeriksaan juga dianjurkan jika keluhan dialami bayi atau anak, atau terjadi pada orang yang pernah menjalani operasi mata maupun menggunakan lensa kontak.
Baca Juga: Lionel Messi Masuk ke Dunia Animasi
Pencegahan
Risiko konjungtivitis dapat ditekan dengan menjaga kebersihan dan menghindari kontak langsung dengan sumber infeksi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mencuci tangan secara teratur, terutama sebelum menyentuh mata, serta tidak berbagi handuk, bantal, dan kosmetik mata dengan orang lain.
Pengguna lensa kontak perlu mematuhi jadwal penggantian lensa dan aturan penggunaannya serta selalu mencuci tangan sebelum memasang atau melepas lensa. Hindari pula mengucek mata.
Jika konjungtivitis disebabkan infeksi, perlengkapan pribadi sebaiknya dipisahkan dari anggota keluarga yang sedang sakit karena penyakit tersebut dapat menular. Sementara pada konjungtivitis akibat alergi, pemicu alergi perlu dikenali dan dihindari.
“Konjungtivitis yang ditangani dengan benar dan tepat waktu hampir selalu sembuh tanpa meninggalkan komplikasi. Situasi menjadi berbahaya ketika pasien mengobati sendiri dengan herbal atau obat yang tidak sesuai, karena bisa mengubah kondisi yang seharusnya ringan menjadi masalah yang sangat serius,” ujar dr. Rina.
Untuk konsultasi dan penanganan konjungtivitis maupun kondisi mata lainnya, dr. Rina Wulandari, Sp.M, M.Ked.Klin tersedia di Bethsaida Hospital Serang dengan keahlian khusus di bidang infeksi dan imunologi mata.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandy, mengatakan pihaknya berkomitmen memastikan setiap keluhan mata mendapat perhatian dan penanganan yang tepat.
“Kehadiran dr. Rina dengan keahlian khususnya di bidang infeksi dan imunologi mata adalah bagian dari upaya kami menghadirkan layanan spesialistik yang selama ini mungkin hanya tersedia di pusat kota besar. Kami ingin masyarakat Serang dan Banten bisa mengakses perawatan mata terbaik tanpa harus pergi jauh,” pungkasnya. (made)




















