SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Gagasan tentang bagaimana manusia menghadapi perubahan zaman menjadi pembahasan utama dalam bedah buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari. Kegiatan yang digelar Taman Baca Masyarakat (TBM) bersama Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC) itu berlangsung di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang akhir pekan lalu.
Bedah buku tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Revolusi kecerdasan buatan (AI), big data, bioteknologi, dan otomatisasi dinilai tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan ekonomi, politik, kebebasan, hingga cara manusia memahami dirinya sendiri.
Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam pembahasan buku yang berlangsung pada Sabtu (19/9/2026) itu, adalah bagaimana manusia dapat tetap relevan ketika mesin semakin cerdas dan berbagai pekerjaan mulai dapat dilakukan secara otomatis.
Dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari mengingatkan bahwa tantangan masa depan bukan semata-mata kemungkinan kehilangan pekerjaan. Perkembangan teknologi juga berpotensi membuat sebagian manusia kehilangan peran ekonomi maupun sosial.
Persoalannya, menurut gagasan yang dibahas dalam buku tersebut, bukan lagi sekadar apakah manusia akan dieksploitasi, tetapi apakah sebagian manusia akan menjadi tidak lagi relevan (irrelevant) bagi sistem ekonomi.
Dari pembahasan itu, peserta diajak melihat pentingnya kemampuan manusia yang tidak mudah digantikan mesin. Di antaranya kemampuan berpikir kritis, membedakan fakta dan informasi yang menyesatkan, memahami keterbatasan pengetahuan, beradaptasi, belajar sepanjang hayat, serta memahami pikiran dan dirinya sendiri.
Baca Juga: Kemarau Ekstrem, ISPA di Kabupaten Tangerang Melonjak Hingga 25 Ribu Kasus Perbulan
Pembedah buku, Ade Irawan, menilai semakin cepat perubahan terjadi, semakin penting manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar (lifelong learning), memiliki fleksibilitas mental, mampu beradaptasi, dan siap memulai kembali ketika keadaan berubah.
Mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch tersebut menegaskan bahwa pendidikan masa depan tidak seharusnya hanya mempersiapkan anak menghadapi dunia yang sudah dikenal.
“Pendidikan di masa depan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum kita ketahui,” ujar Ade.
Menurutnya, hal tersebut penting terutama bagi generasi muda. Mereka akan memasuki dunia kerja dan kehidupan yang bentuknya mungkin belum sepenuhnya dapat dibayangkan.
“Pekerjaan yang hari ini dianggap penting bisa berubah, teknologi baru dapat muncul, dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat dapat bergeser dengan cepat. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki generasi muda,” jelasnya.
Kegiatan bedah buku tersebut dipandu Alin Febrian, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Kegiatan juga dihadiri Ketua IPPC Ilham Roza, Ketua RT Moch. Sidik, tokoh agama Ubaidilah MD, tokoh pendidikan Saripudin Zuhri, mahasiswa, guru, pelajar, serta pemuda Sentul, Balaraja.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Latih 274 Petugas Pemulasaraan Jenazah
Bedah buku ini merupakan bagian dari agenda rutin dua mingguan yang digelar untuk menumbuhkan minat literasi di Tangerang. Selain menjadi ruang diskusi buku, kegiatan tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara TBM Cengkok Cerdas Mandiri dan IPPC. (aditya)

















